Kedua, karena dengan syukur bisa menjadi penopang tegaknya agama. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam kitab Al-Fawaid;

مبنى الدين على قاعدتين‏:‏ الذكر والشكر

“Bangunan agama ini ditopang oleh dua pondasi, yaitu dzikir dan syukur.”

Ketiga, ketika kita bersyukur, maka Allah Swt. akan tumbuhkan nikmat yang kita peroleh menjadi semakin banyak. Sebagaimana firman Allah Swt;

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, riscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jka kamu mengingkari (nikmat-ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim:07)

Ibnu Athoillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan;

مَنْ لَمْ يَشكُرِ النِّعَمِ فَقدْ تـَعَرَّضَ لِزَوَالِهاَ ومن شَكرَهاَ فقد قـَيَّدَ بِعِقاَلهاَ

“Siapa yang tidak mesyukuri nikmat-nikmat Allah Swt, berarti ia telah berusaha menghilangkannya. Dan barangsiapa mensyukurinya maka berarti ia telah mengikat nikmat-nikmat Allah Swt dengan ikatan yang kuat.”

Keempat, orang-orang yang mau bersyukur kepada Allah termasuk golongan orang yang langka atau sedikit. Sebagaimana firman Allah Swt;

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’:13)

Di akhir zaman banyak orang yang akan mengkufuri (ingkar) pada nikmat yang telah Allah Swt berikan. Mereka beranggapan bahwa kesuksesan yang ia raih dan juga ia capai semata-mata berkat usaha mereka sendiri, padahal sejatinya semua itu anugerah dari Allah Swt sebagaimana firman Allah Swt;

وَاِنَّ رَبَّكَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُوْنَ

“Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki karunia (yang diberkan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau mensyukurinya.” (QS. An-Naml:73)

B. Cara Bersyukur

Syukur bisa dilakukan dengan tiga cara; syukur dengan hati, lisan, dan anggota badan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madariju as-Salikin mengatakan, yang artinya; “Syukur adalah menunjukkaan adanya nikmat Allah Swt pada dirinya.” Hal ini bisa dilakukan dengan lisan, yaitu berupa pujian dengan mengucapkan lafadz alhamdulillah dalam keadaan sadar diri bahwa ia telah diberi nikmat. Juga bisa dilakukan dengan melalui hati berupa persaksian bahwa segala kenikmatan itu datangnya hanya dari Allah Swt. Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan anggota tubuh, seperti melakukan kebaikan dan selalu taat beribadah kepada Allah Swt.

BACA JUGA :  Ketika Artis Terkena Jeratan Narkoba

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Rasulullah Saw yang dijamin sudah masuk surga ternyata kualitas dan kuantitas ibadahnya justru sungguh luar biasa. Hal ini dilakukan demi menjadi orang yang paling bertakwa kepada Allah Swt, bahkan sampai-sampai kaki beliau menjadi memar dan lecet karena melakukan shalat malam. Ketika para sahabat bertanya prihal tersebut, termasuk istri beliau sendiri – Sayyidah Aisyah, “Wahai Rasulullah, megapa engkau masih beribadah sedemikian rupa, bukankah dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang sudah diampuni oleh Allah Swt, beliau menjawab singkat, “Apa tidak boleh aku menjadi seorang hamba yang suka bersyukur.” (HR. Bukhori – Muslim)

1
2
3
Artikulli paraprakMalam Ta’aruf Santri Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang Tahun Ajaran 1444-1445 H / 2023-2024 M
Artikulli tjetërHAUL IBU NYAI HJ. FAHIMAH 1444 H (HAUL KE-12) HAUL SYAIKHINA K.H. MAJID KAMIL MAIMOEN KE-3 DAN DOA UNTUK SELURUH MASYAYIKH KHUSUSNYA SYAIKHINA K.H. MAIMOEN ZUBAIR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini