من رأيتَه مجيبا عن كل من سأل، ومعبرا عن كل ما شهد وذاكرا كل ما علم، فاستدلّ بذلك على جهله

Siapa yang selalu menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepadanya dan menceritakan dari segala yang ia ketahui, maka hal demikian itu menunjukkan kebodohan orang tersebut.

Menjawab semua pertanyaan yang diajukan adalah sebuah tanda kebodohan. Sebab walau ia telah lama belajar tentang ilmu pengetahuan, manusia tidak bisa mengusai seluruh ilmu, yang demikian itu mustahil bagi manusia. Otak manusia terlampau kecil untuk mengusai segala pengetahuan.

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.” (Al-Isra’/17:85)

Kalau orang yang mencurahkan seluruh usahanya dalam mencari ilmu akan memperoleh ilmu yang sedikit dan tidak mungkin ia meliputi seluruh ilmu, apalagi mereka yang malas mencari ilmu. Dengan menjawab segala pertanyaan berarti  orang tersebut merasa memiliki segala ilmu. Orang demikian itu memaksakan diri, sombong dan pura-pura tahu segalanya itu tanda dari kebohongannya.

Orang yang alim adalah orang yang tahu keterbatasan kemampuannya. Ia tahu kadar yang ia miliki, dan tidak berani mengakui yang ia tidak miliki, dan dengan rendah hati menjawab “Aku tidak tahu”.

Baginda Nabi Muhammad SAW pernah ditanya seseorang, tetapi Nabi tidak serta menjawab, Nabi berkata “Aku tidak tahu, Aku akan menanyakannya kepada Jibril

Ada Ulama yang ditanyai tentang ilmu yang bermanfaat, dijawab “engkau mengetahui kadarmu dan tidak melampaui batasmu”. Bahkan kita temukan dalam kitab Ihya Ulumuddin disebutkan sudah ada tradisi dari Ulama salaf jika ditanya oleh seseorang maka ia melemparnya pada orang lain, begitu terus sampai kembali ke orang pertama.

BACA JUGA :  Hanya Allah Tempat Mengadu

Imam Malik bin Anas pernah ditanya tiga puluh tiga pertanyaan oleh seseorang, yang dijawab beliau hanya tiga, dan sisanya dijawab “Aku tidak tahu” ditimpali orang itu “Apa yang harus kami katakan pada orang?!” dijawab “ Katakan kepada orang bahwa Imam Malik bin Anas tidak bisa menjawab”

Semua ini contoh kebaikan ini menunjukkan keikhlasan orang-orang terdahulu. Mereka berhati-hati dalam urusan Agama, tidak memaksa diri dan sok pintar.

Imam Al-Ghozali berkata : “Hakikat-hakikat itu terkadang membahayakan sebagian orang, seperti mawar dan misik yang  membahayakan kutu daun”. Kutu daun tidak senang pada bau wewangian. Begitu juga ilmu yang wangi berakibat buruk pada sebagian orang.

Demikian semoga kita mendapat ilmu yang bermanfaat dan bisa mengerti batas kemampuan diri….Amiin.

 
Artikulli paraprakEksistensi Wanita dalam Islam
Artikulli tjetërHukum Melakukan Amalan Tertentu Agar Usaha Menjadi Lancar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini