Masjid merupakan simbol kejayaan umat Islam. Selain sebagai tempat ibadah, hal penting lain dari fungsi masjid adalah sebagai media bagi umat Islam untuk menampakkan syi’ar agamanya.

Bentuk syi’ar agama Islam yang sangat penting adalah shalat jamaah. Oleh karena itu syi’ar shalat jamaah harus ditegakkan di setiap waktu shalat, apalagi syaria’at juga menegaskan ancaman bagi penduduk desa yang tidak mendirikan shalat berjamaah dengan dijauhkan dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’ala. Sebagaimana hadits yang diriwayatakan oleh Abi Darda’:

سنن أبي داود (1/ 410)
عن أبي الدرداء، قال: سمعتُ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: “ما من ثلاثةٍ في قريةٍ ولا بَدوٍ لا تُقامُ فيهمُ الصلاةُ إلا استَحوَذَ عليهمُ الشَّيطانُ

Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada penduduk desa yang tidak mendirikan shalat berjamaah kecuali dijauhkan dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’ala”.

Imam Sulaiman al-Jamal di dalam kitabnya Haasyiatul Jamal menjelaskan bahwa syi’ar shalat jamaah dikatakan terpenuhi jika pelaksanakaannya dilakukan di tempat yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada kesulitan dan rasa sungkan untuk ikut berjamaah di tempat tersebut.

حاشية الجمل على شرح المنهج (1/ 502)
وضابط حصول الشعار أن يجدها طالبها من غير مشقة اهـ. شيخنا. وقال شيخنا ح فضابط ظهور الشعار أن لا تشق الجماعة على طالبها، ولا يحتشم كبير ولا صغير من دخول محالها فإن أقيمت بمحل واحد من بلد كبير بحيث يشق على البعيد عنه حضوره أو أقيمت في البيوت بحيث يحتشم من دخولها لم يحصل ظهور الشعار فلا يسقط الفرض اهـ.

Sehingga jika ada pelaksanaan shalat berjamaah namun sebagian masyarakat kesulitan dan atau merasa sungkan apalagi dihalangi untuk mengikuti jamaah tersebut, maka syi’ar jamaah belum bisa dikatakan terealisasi dan terpenuhi.

Dengan demikian jamaah yang dilaksanakan di masjid secara terbatas tidak bisa dikatakan sebagai jamaah yang mencukupi syarat terealisasinya fungsi vital masjid sebagai tempat menampakkan syi’ar agama. Dengan kata lain membatasi masyarakat untuk shalat berjamaah di masjid termasuk kategori disfungsi (pengosongan ibadah) masjid yang tidak diperbolehkan secara agama.

Oleh karena itu untuk menjaga eksistensi syi’ar keagamaan di dalam masjid, Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya memerintahkan setiap individu untuk meramaikannya, melainkan juga memberikan jaminan penuh bahwa tak seorangpun berhak mencegah setiap individu untuk mengagungkan nama-Nya di dalam masjid. sebagaimana telah Allah subhaanahu wa ta’ala tegaskan di dalam al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 114.

القرآن (سورة البقرة الأية 114)
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencegah untuk menyebut nama-Nya di dalam masjid-masjid Allah subhaanahu wa Ta’ala, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak memasukinya kecuali diliputi oleh rasa takut. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mereka mendapat azab yang berat. (Q.S al Baqoroh: 114)

Berdasarkan ilmu tafsir ada beberapa hal penting dari ayat di atas yang harus dikaji secara mendalam:

Pertama, kalimat ‘An yudzkara fiihasmuhu (menyebut nama Allah subhaanahu wa ta’ala di dalam masjid), Imam Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajiibah Al Hasani di dalam kitab Al Bahrul Madiid Fii Tafsiiril Qur’anil Majiid mentafsiri kalimat di atas dengan tafsiran menunaikan ibadah kepada Allah subhaanahu ta’ala baik berupa shalat maupun yang lainnya seperti i’itikaf, tadarrus, pembacaan maulid dan ibadah lainnya, baik dilakukan oleh perorangan maupun berjamaah.

البحر المديد في تفسير القرآن المجيد (1/ 154)
يقول الحقّ جلّ جلاله : لا أحَد أكثرُ جُرْماً ولا أعظم ظلماً { ممن } يمنع { مساجد الله } من { أن يذكر } اسم الله فيها، جماعة أو فرادى، في صلاة أو غيرها.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa mencegah berbagai kegiatan ibadah, baik pencegahan ini dilakukan oleh orang banyak maupun perorangan adalah sebuah tindakan yang tidak bisa dibenarkan menurut agama. Siapapun yang berani melakukannya akan mengalami perasaan diliputi rasa takut dan gelisah tatkala masuk masjid, mendapatkan kehinaan dunia dan siksaan akhirat.

Kedua, kalimat khoroobul masaajid (disfungsi masjid). Menurut Sayyid Thanthowi di dalam kitab al-Wasiith Lissayyid Thantowi khoroobul masajid mempunyai dua makna; Pertama makna hakiki yaitu tindakan merobohkan masjid seperti yang dilakukan oleh Bukhtanasor dan bangsa Romawi ketika merobohkan baitul maqdis. Kedua makna majazi, yaitu tindakan pencegahan aktifitas keagamaan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ketika menghalangi Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam Ketika hendak memasuki Masjidil Haram untuk beribadah. Secara garis besar disfungsi masjid bisa diartikan usaha mengosongkan masjid dari kegiatan ibadah atau mengosongkannya dari berbagai syi’ar agama.

الوسيط لسيد طنطاوي (ص: 190)
والخراب : ضد التعمير ، ويستعمل لمعنى تعطيل المكان وخلوه مما وضع له . قال القرطبي : “وخراب المساجد قد يكون حقيقياً ، كتخريب بختنصر والرومان لبيت المقدس حيث قذفوا فيه القاذورات وهدموه. ويكون مجازاً كمنع المشركين حين صدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المسجد الحرام، وعلى الجملة فتعطيل المساجد عن الصلاة وإظهار شعائر الإِسلام فيها خراب لها”.

Ketiga, meskipun Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) ditujukan kepada orang–orang kafir akan tetapi menurut Imam Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajiibah Al Hasani di dalam kitab Al Bahrul Madiid Fii Tafsiiril Quranil Majiid ayat ini tidak hanya ditujukan kepada orang kafir saja sebagaimana sebab turunnya ayat, akan tetapi juga berlaku kepada siapa saja yang melarang aktifitas ibadah di dalam masjid baik dilakukan secara individu maupun berjamaah.

البحر المديد في تفسير القرآن المجيد (1/ 154)
وهذه الآية – وإن نزلت في الكفار – فهي عامة لكل من يمنع الناس من الذكر في المساجد ، كيفما كان قياماً أو قعوداً ، جماعة أو فرادى والله تعالى أعلم .

Menurut ilmu Ushul Fikih ayat ini termasuk kategori al-Ibroh bi umumillafdzi laa bi khususis sabab (yang diberlakukan adalah keumuman lafadz bukan sababnya) sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syairazi di dalam kitab al-Luma’.

Telah banyak ulama yang mengemukakan ijma’ bahwa disfungsi masjid dari pelaksanaan shalat berjamaah di saat wabah tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Doktor Zain Muhammad Al Idrus di dalam kitab Raddul Mu’aanid Al Muatthil Lil Masaajid bahwa sudah ada nash sorih al-Quran yang melarang kezaliman tersebut, sementara tidak ditemukan satupun nash yang memperbolehkan disfungsi masjid dalam konteks apapun. Artinya pembatasan tersebut diputuskan hanya lewat jalur ijtihad dengan alasan saddan lidzarii’ah (mengantisipasi bahaya) yang mengancam keselamatan jiwa. Padahal nash selamanya tidak akan bisa dikalahkan dengan ijtihad.

فلا يصح بعد هذه النصوص القرآنية الواضحة من تعطيل المساجد وقت انتشار الوباء بحجة الحفاظ على النفس سدا للذريعة، ولا يصح أن تلغي هذه القاعدة ما ثبت من النص الدال على تحريم تعطيل المساجد؛ ولو عملنا بهذه القاعدة الاجتهادية؛ لأبطلنا الجهاد في سبيل الله تعالى سدا لذريعة هلاك النفس ! ولا اجتهاد مع نص. و إذا جاء النص من الصحاح ذهبت الأقيسة أدراج الرياح، ولا يعني هذا أننا لا نأخذ بأسباب الوقاية والرخصة

Beliau juga menjelaskan bahwa syariat telah mengultimatum dengan keras tentang larangan disfungsi masjid dari shalat berjamaah. Dan al-Qur’an telah memberikan ancaman keras bagi siapa saja yang mencegah umat Muslim beribadah di dalam masjid karena hal itu telah menyamai tindakan orang musyrik Makkah di saat dulu mereka mencegah Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam beribadah di dalam Masjidil Haram.

وقد شددت الشريعة من تعطيل المساجد عن الجماعات وإحيائها بذكر الله، وسبق بيان تمول المساجد للآية السابقة في قوله تعالى : (ومن أظلم ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه وسعى في خرابها)، وقد ذم القرآن الكريم وشدد النكير على من نهى المسلمين من الصلاة فى بيوت الله تعالى، إذ من فعل ذلك فقد وافق المشركين، وذلك عندما منعوا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم من الصلاة فى المسجد الحرام.

Di sisi lain, Imam al-Nawawi menukil pendapat dari Imam al-Shoimari bahwa sejak zaman kenabian hingga zaman setelahnya, masjid Rosulullah tidak pernah ditutup. Bahkan ijma’ ulama menyatakan bahwa pada masa-masa itu tidak pernah ada pengosongan masjid di saat wabah melanda sekalipun.

BACA JUGA :  HUKUM JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) YANG DISELENGGARAKAN OLEH BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)

رد المعاند المعطل للمساجد للسيد زين بن محمد العيدروس ص 9
وقد نقل جماعة من العلماء الإجماع على تحريم تعطيل المساجد من الصلوات سواء كانت مسنونة كما في صلاة التراويح، أو فرض كفاية كالصلوات المكتوبات أو فرض عين كالجمعة، ولم يثبت أن الرسول صلى الله عليه وآله وسلم ولا الصحابة الكرام رضي الله عنهم أنهم أغلقوا المساجد تحت أي ظرف كان، مع ظهور وباء الطاعون في زمن عصر الرسالة والخلافة، قال الإمام النووي – رحمه الله – (المتوفى: ٦٧٦ ه): (قال الصيمري وغيره من أصحابنا : لا بأس بإغلاق المسجد في غير وقت الصلاة؛ لصيانته أو لحفظ آلاته هكذا قالوه، وهذا إذا خيف امتهانها وضياع ما فيها ولم يدع إلى فتحها حاجة: فأما إذا لم يخف من فتحها مفسدة ولا انتهاك حرمتها وكان في فتحها رفق بالناس، فالسنة فتحها، كما لم يغلق مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم في زمنه ولا بعده )

Adapun beberapa Ulama’ yang mendeklarasikan Ijma’ keharaman disfungsi Masjid adalah sebagai berikut:

1. Al Imam Abu Ja’far bin Salamah At Tohhaawi (Wafat 321 H). (Kitab Muhtasor Ikhtilafil Ulama’ Juz 1/hal 315)
2. Al Imam Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H). (Kitab Tamhid Juz 8/hal119)
3. Al Imam Al ‘Irooqi (Kitab Torhuttatsriib)
4. Al Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali (Wafat 795 H). (Kitab Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari Juz 5/ Hal 451)
5. Al Imam Muhammad Samsuddin al-Qhurtubi (wafat 671H). (kitab Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Juz 1 Hal 348)
6. Al Hafidz Ali bin Muhammad al-Faasi Abul Hasan Ibnul Qattaan (wafat 628 H). (Kitab al-Iqna’ Fii Masaailil Ijmak)

مختصر اختلاف العلماء” ٣١٥/١
قال الإمام أبو جعفر بن سلامة الطحاوي – رحمه الله – (المتوفى: ٣٢١ ه): ( قد أجمعوا أنه لا يجوز للناس تعطيل الممساجد عن قيام رمضان، وكان هذا القيام واجبا على الكفاية فمن فعله كان أفضل ممن أنفرد به كالفروض التي هي الكفاية من فعلها أسقط فرضا وكان فعلها أفضل من تركها كذلك ما ذكرنا). ، ونقل الإجماع أيضاً متله ابن عبد البر في التمهيد ١١٩/٨، والعراقي في طرح التثريب ٩٦/٣ وغيرهم.

التمهيد لما فى الموطأ من المعانى والأسانيد ٣٣٣/١٨
قال الإمام ابن عبد البر – رحمه الله – (المتوفى: ٤٦٣ ه): (وحدثنى عن مالك، عن أبى الزناد، عن الأعرج، عن أبى هريرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب، إلى أن قال – وهو قول حسن صحيح؛ لإجماعهم على أنه لا يجوز أن يجتمع على تعطيل المساجد كلها من الجماعات

الجامع لأحكام القرآن ٣٤٨/١
وقد نقل إجماع الإمام الطحاوي وابن عبد البر – رحمهما الله – وأيده جماعة من العلماء ومنهم: الإمام محمد شمس الدين القرطبي – رحمه الله -(المتوفى: ٦٧١ه) ، والحافظابن رجب الحنبلى – رحمه الله – (المتوفى: ٧٩٥ه) (فى فتح الباري شرح صحيح البخاري/ ١ ٤٥)

الإقناع في مسائل الإجماع ١٤٥/١
وقال الحافظ علي بن محمد الفاسي، أبو الحسن ابن القطان- رحمه الله – (المتوفى: ٦٢٨ه): ( ذكر عمارة المسجد والبكور والسعي والتحية وفضل الصلاة في المسجد الحرام. قال الله تعالى: ( إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليؤم الآخر ) الآية، وأجمعوا أنه لا يجوز أن يجتمع على تعطيل المساجد وقال أيضاً: وأجمعوا أنه لا يجوز تعطيل المساجد من قيام رمضان

Ketika ulama’ sudah mendeklarasikan ijma’ maka kita sebagai umat Islam dilarang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ijma’ (Khorqul Ijmak) sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud:

جامع الأحاديث (37/ 137)
عن ابن مسعود قال : اتقوا الله واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر، وعليكم بالجماعة فإن الله لا يجمع أمة محمد على ضلالة (ابن أبى شيبة وإسناده صحيح) [كنز العمال 37902]

Takutlah kalian kepada Alah dan bersabarlah sampai bisa melakukan kebaikan atau berhenti dari melakukan keburukan dan ikutilah golongan mayoritas Ulama (ijma’) karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengumpulkan umat Muhammad (para ulama fiqih) shallalaahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan.

Maka ancaman bagi orang yang tidak mengikuti kesepakatan Ulama’ adalah kelak di hari Qiyamat akan mendapatkan siksaan neraka sebagaimana hadist dalam Sunan al-Turmudzi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:

سنن الترمذي (4/ 36)
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ

 Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam shallalaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengumpulkan umatku atau umat Muhammad shallalaahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan, kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala bersama dengan mayoritas (jamaah). Barang siapa yang keluar dari jamaah maka dia akan dimasukkan ke Neraka.

Bahkan Imam al-Ghozali mengatakan bahwa merusak ijma’ atau hukum yang tidak sejalan dengan kesepakatan Ulama’ adalah sebuah tindakan kesesatan.

فيض القدير (3/ 102)
قال الغزالي : فخرق الإجماع والحكم بخلاف ما عليه جمهور الأمة والشذوذ عنهم ضلال وليس منه من يعتزل عنهم لصلاح دينه

Imam Ahmad bin Musthofa al-Maroghi di dalam kitab tafsir al-Maroghi menjelaskan bahwa menghalangi seseorang untuk beribadah di dalam masjid dan usaha untuk mendisfungsikan masjid (Tahrib) dikategorikan sebagai perilaku yang sangat ekstrim. Hal ini karena kedua perbuatan tersebut mengandung unsur penistaan agama, menyebar kemungkaran dan kerusakan di muka bumi.

تفسير المراغي (1/ 198)
(وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ ) أي وأيّ امرئ أشدّ تعديا وجراءة على الله ومخالفة لأمره مِن امرئ منع من العبادة في المساجد وسعى في خرابها بهدمها أو تعطيل شعائر الدين فيها، لما في ذلك من انتهاك حرمة الأديان المؤدّي إلى نسيان الخالق وفشوّ المنكرات بين الناس ونشر الفساد فى الأرض.

Menurut Dr. Wahbah al-Zuhaili di dalam kitab tafsir al-Munir, kedua perbuatan tersebut adalah kezaliman besar yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kehilangan imannya. Sejak dahulu hingga sekarang, baik di negara Islam maupun negara lainnya. Tidak ada seorangpun yang berani melakukan kezaliman tersebut kecuali orang-orang sesat yang ingin menghancurkan agama Islam.

التفسير المنير للزحيلي (1/ 281)
إن تدمير المساجد أو الصد عنها جرم عظيم، لا يرتكبه إلا من فقد الإيمان، وعادى جوهر الدين، واتبع الأهواء، وحارب الأخلاق والفضائل، ولم يقدم على تلك الجريمة في الماضي أو في العصر الحاضر، سواء في ديار الإسلام أو غيرها إلا الملحدون المارقون من الدين، الذين يبتغون نشر الإلحاد وتقويض دعائم الدين والإسلام.

Kesimpulan:
Dengan pertimbangkan berbagai hal yang telah dipaparkan di atas bahwa:
1. Menghalangi atau meniadakan kegiatan keagamaan di masjid termasuk tindak kezaliman yang terbilang ekstrim.
2. Membatasi kegiatan shalat berjamaah dan ibadah lainnya di masjid semakna dengan ta’thiilul masaajid (pengosongan ibadah di dalam masjid).
3. Tindakan tersebut mengandung unsur penistaan agama dan menyebar kemungkaran dan kerusakan di muka bumi.
4. Tindakan tersebut menyerupai tindakan orang musyrik Makkah dan kelompok sesat.
5. Ada nash shorih al-Quran yang melarang tindakan tersebut.
6. Tidak ada nash sorih yang memperbolehkan tindakan tersebut dalam konteks apapun.
7. Penetapan tindakan tersebut hanya lewat jalur ijtihad.
8. Ijtihad tidak boleh dipakai selama ada nash.
9. Catatan sejarah menyatakan tindakan tersebut tidak pernah dilakukan kaum muslim manapun sejak zaman Rosululloh hingga zaman-zaman setelahnya.
10. Terdapat Ijma’ Ulama yang menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak boleh dilakukan meskipun saat wabah melanda.

Diceritakan dari Al Hafidz Ibnu Kasiir pada tahun 656 H. ketika kota Baghdad dikuasai oleh sekelompok Watsanii (para penyembah berhala) bangsa Tartar, mereka telah berbuat anarkis terhadap umat Islam di sana, diantaranya adalah mereka banyak membunuh para Masyayikh, para Da’i, Penghafal al-Qur’an, menutup masjid, meliburkan shalat jamaah dan shalat jumat selama beberapa bulan. Bahkan Perdana menteri Ibnu al-Qomaa (berlatar belakang syi’ah) menutup Masjid-Masjid, Madrasah, Pesantren yang ada di Baghdad dan membangun madrasah Syi’ah Rofidloh untuk mnyebarkan ajarannya.
Namun pada akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menghilangkan ni’mat dan mencabut nyawanya akibat apa yang dia lakukan.
Semoga bermanfaat.

Artikulli paraprakManusia Itu Lemah
Artikulli tjetërHiggs Domino Island

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini