Para perawi hadits berbeda pendapat mengenai cara haji yang saat itu dilaksanakan, para perawi dari Madinah meriwayatkan bahwa cara haji yang dilaksanakan Nabi saat itu adalah Ifrad (melaksanakan haji terlebih dahulu baru kemudian melaksanakan umrah dengan cara terpisah), sedangkan perawi dari selain Madinah meriwayatkan bahwa cara haji Nabi saat itu adalah dengan cara Qiran (melakukan haji dan umrah secara bersamaan), sedangkan perawi yang lain meriwayatkan bahwa cara haji Nabi dengan memasuki Kota Makkah dan niat melaksanakan haji Tamattu’ (niat melakukan umrah terlebih dahulu tetapi kemudian Beliau menggabungkan niat haji saat sedang berumrah).
Rasulullah saw, memasuki kota Makkah melalui jalur atas yaitu jalan kida’ hingga beliau tiba melalui pintu bani Syaibah. Saat beliau melihat Ka’bah, beliau berdoa :
اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا
Artinya:
“Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kewibawaan kepada rumah ini. Dan tambahkanlah kepada orang-orang yang memuliakan dan menghormatinya, yaitu orang-orang yang berhaji atau berumrah kepadanya, kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kebaikan. (Sa‘id Ramadhan al-Buthi, Fiqh Sirah al-Nabawiyyah, (Damaskus: Dar al-Fikr), hlm. 343–344.)
Pada saat di Arafah, Nabi Muhammad saw menetap hingga terbenamnya matahari. Saat matahari terbenam, Nabi beserta orang-orang yang menyertainya kemudian berangkat ke Mudzalifah. Seraya dengan memberikan isyaroh dengan tangan kanan-Nya, Beliau bersabda :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ
Artinya:
“Wahai manusia, hendaklah kalian tenang, hendaklah kalian tenang.”
Kemudian Beliau melakukan jama’ takhir antara maghrib dan isya di Mudzalifah. Pada malam itu juga, Nabi bermalam di Mudzalifah, kemudian sebelum matahari terbit, Beliau berangkat menuju Mina lalu melontar Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kecil seraya bertakbir disetiap lontaran.
Setelah itu, Beliau pergi ketempat penyembelihan lalu menyembelih 63 ekor unta sembelihan (badanah). Kemudian beliau menyerahkan sisa unta sembelihan tersebut (37 unta) kepada sayyidina Ali RA. Untuk menyembelih sisanya hingga genap seratus sembelihan.
Setelah itu, beliau menaiki kendaraan-Nya berangkat ke Ka’bah untuk melakukan thawaf ifadloh, kemudian melaksanakan sholat dzuhur di Makkah, kemudian pergi mendatangi Bani Abdil muthallib saat mereka sedang memberi minum air zam-zam, lalu beliau bersabda : “Timbalah wahai Bani Abdil muthallib kalaulah mereka tidak merebut tugas siqayyah (tugas memberi air zam-zam) dari kalian niscaya aku akan menimba bersama kalian”. Mereka kemudian memberikan setimba air kepada Beliau dan Beliau pun minum darinya, dan akhirnya Nabi Muhammad saw pergi untuk kembali ke Madinah.


