Sarang – Kemarin pagi Jum’at (23/10/2015), Sebagaimana pada tahun- tahun sebelumnya, acara bertajuk “Santunan Sepuluh Muharrom” kembali digelar oleh ISMAH (Osis-nya Muhadloroh). Acara ini menyalurkan sumbangan para dermawan kepada mustahiq (penerima santunan) yang terdiri dari sebagian besar santri yang menyandang status anak yatim ataupun kurang mampu, serta sebagian masyarakat miskin sekitar pondok.

Sebagai wujud pengamalan atas hadits Nabi yang menganjurkan berbagi kasih dengan anak yatim dan dluafa’di hari ‘Asyura, Lembaga Pendidikan Muhadloroh melalui ISMAH (Ikatan Santri Muhadloroh) menggelar acara bertajuk “Santunan Sepuluh Muharrom” di Musholla Pusat PP.Al-Anwar. Acara yang menjadi agenda tahunan ISMAH ini selalu dilaksanakan pada tanggal yang sama, yakni sepuluh Muharrom.

Sekitar 200-an santri mustahiq berbaju putih putih terlihat memenuhi Musholla. Tampak pula beberapa asatidz yang hadir duduk di bagian depan. Acara ini dimulai setelah kegiatan muhafadloh kelas mingguan di Musholla selesai, sekitar pukul 07.00 WIB.

Acara dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah bersama yang dipandu oleh sang MC bernama Muhammad Halim, disusul pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an yang dilantunkan merdu oleh Anisul Fu’ad, lantas sambutan ketua panitia, yang diisi oleh Nur Sho’im. Dia menyampaikan terima kasih kepada para Masyayekh dan Asatidz, serta kepada panitia yang bekerja keras. Dan tak lupa, Sho’im -begitu dia biasa dipanggil- juga berterima kasih kepada para dermawan yang sudi menyisihkan sedikit hartanya untuk menyumbang acara ini, “Terima kasih juga kepada para dermawan yang turut andil (dalam menyumbang) untuk (mensukseskan) acara ini,”. ungkap Sho’im yang notabene juga ketua ISMAH tersebut.

Setelah sambutan ketua panitia, MC mempersilahkan Syaikhina KH Abdur Ro’uf MZ untuk memberikan mau’idloh guna memotivasi para santri, “ al-waqtu iyyahu (kepada beliau waktu kami persilahkan,terj),” ucap MC menggunakan bahasa Arab.

Menurut Syaikhina Abdur Ro’uf, acara ini juga bertujuan agar para Santri juga terbiasa dengan menghargai sesama, “Santri, selain belajar ilmu (agama), (santri) juga belajar beramal (menyantuni anak yatim dan dluafa),” dawuh Syaikhina Abdur Ro’uf MZ yang notabene beliau juga pengasuh ribath DSA.

BACA JUGA :  NADWAH FIQHIYYAH ‘ANIL QODLOYA AS-SYAR'IYYAH KE 37 PP AL-ANWAR

“(Selagi) kalian masih (menjadi) santri, belajarlah dengan giat, bentengi diri kalian agar (nanti) tidak kaget ketika sudah terjun ke masyarakat”, dawuh Syaikhina Abdur Ro’uf mewanti-wanti santri agar selalu giat belajar dan membekali diri agar siap terjun ke masyarakat, “manfa’atkan betul waktu yang ada, (karena) linkungan masyarakat begitu sulit, sangat berbeda dengan lingkungan di pondok yang tidak banyak macem macem,”tambah beliau.

""

Syaikhina Abdur Ro’uf MZ juga mengingatkan santri agar mengisi waktu setelah maghrib dengan ngaji, pembacaan wirid atau hal positif lainnya, “(manfa’atkan) waktu sehabis maghrib, kalo ngajinya libur ya wiridan atau belajar,” lebih lanjut beliau mengatakan, “karena madzhab kita ya itu, sregep ngaji,”.

Beliau juga menerangkan sedikit keutamaan keutamaan hari ‘Asyuro, “(di hari ‘Asyuro ini), kita perbanyak istighfar, karena di hari ini banyak sekali rahmat Alloh yang turun,”. ucap beliau tegas.

Beliau juga menyinggung “kontradiksi” antara puasa sunnah dan ngaji, “madzhab kita yaitu mendahulukan ngaji alias giat dalam belajar. Guru kita (Syaikh Maimoen Zubair) bahkan menganjurkan santrinya agar tidak banyak berpuasa sunnah (ketika hari aktif sekolah), karena biasanya kalau orang berpuasa nanti badan menjadi lemes, lantas malah malas untuk sekolah,”.

Syaikhina Abdur Ro’uf juga menjelaskan, bahwa tidak semua puasa sunnah “dilarang” oleh Syaikhina Maimoen, melainkan ada beberapa puasa sunnah yang malah sangat dianjurkan oleh beliau, “(semisal) puasa Asyuro, Arofah (dan semacamnya),”.

""

Kendati demikian, bukan berarti beliau melarang santri secara total untuk tidak berpuasa sunnah selain yang dianjurkan oleh Syaikh Maimoen, “tapi kalo ada (santri) yang sanggup keduanya (puasa sunnah dan sregep ngaji) ya monggo monggo saja, malah bagus”. tungkas beliau syaikh Abdur Ro’uf.

Seusai beliau Syaikh Abdur Ro’uf mau’idloh dan do’a, acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis santunan kepada para mustahik yang diserahkan langsung oleh beliau. dan alhamdulillah, acara pun berjalan dengan sukses tanpa halangan apapun. (abg/nas).

Artikulli paraprakAnjuran Berpuasa ‘Asyura dan Tasu’a
Artikulli tjetërPakaian Sholat Wanita dengan Model Potongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini