Dalam literatur turats, ditinjau dari perspektif hukum wadh’i, transaksi pada dasarnya diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu transaksi yang sah dan transaksi yang tidak sah. Penetapan kedua status hukum tersebut didasarkan pada tingkat kesesuaian suatu transaksi dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat.
Selain itu, barang yang diterima dari suatu transaksi dapat memiliki beberapa status, yaitu mubah, makruh, bahkan haram. Dan status hukum tersebut tidak diperoleh dengan satu kesimpulan yang mudah, yaitu apakah akad ini sah atau tidak. Namun banyak pertimbangan lain yang tentunya perlu dikaji lebih dalam agar kita dapat mamahaminya. Hal inilah yang akan kita bahas tuntas dalam pembahasan kali ini.
Pembahasan mengenai objek transaksi yang diperoleh melalui akad yang fasid juga mendapatkan perhatian khusus dalam khazanah fikih Islam. Dalam terminologi fikih, objek semacam ini dikenal dengan istilah al-maqbudh bi ‘aqdin fasid. Secara prinsip, barang yang diterima melalui akad fasid tidak secara otomatis berpindah kepemilikan kepada pihak penerima, sehingga barang tersebut tetap berstatus sebagai milik pemilik asal. Konsekuensinya, pihak yang menguasai barang tersebut tidak diperkenankan untuk memanfaatkannya dalam bentuk apa pun karena ia tidak memiliki hak kepemilikan yang sah atas barang tersebut dan berkewajiban untuk mengembalikannya kepada pemilik semula.
Meskipun demikian, para ulama memberikan perincian lebih lanjut terkait kondisi ketika terdapat kerelaan atau keridaan dari pemilik barang terhadap pemanfaatan barang tersebut, baik dalam bentuk pemanfaatan konsumtif maupun produktif. Perincian tersebut sebagaimana dijelaskan dalam ibarat berikut:
- الغرر البهية شرح البهجة الجزء الثاني ص 391
إنما ينعقد البيع بإيجاب وقبول ولو هزلا فلا يكفي المنابذة والملامسة ونحوهما كما سيأتي ولا المعاطاة ولو في المحقرات كرطل خبز فيرد كل ما أخذ بها إن بقي وبدله إن تلف كالمقبوض بعقد فاسد إذ الفعل لا يدل بوضعه
) قوله : فيرد كل ما أخذه إلخ ( هذا من حيث الاستناد إلى هذا العقد الفاسد فلو علم أحدهما رضا صاحبه ببقاء ماله عنده تحت يده لم يجب الرد ، أو علم رضاه بانتفاعه بنحو أكله ، أو لبسه جاز له الانتفاع به ، لكن لا يتصرف بنحو بيعه أو هبته عن جهة نفسه ؛ لأنه لا يجوز له التصرف في ملك غيره عن جهة نفسه ، وإن علم رضاه م ر
Menurut ibarot tersebut, akad jual beli dalam mazhab Syafi’i hanya sah jika menggunakan ijab-kabul secara lisan, sehingga transaksi tanpa ucapan (mu’athah) dianggap rusak (fasid) dan menuntut pengembalian barang atau ganti rugi. meski demikian, barang tersebut boleh dimanfaatkan jika diyakini ada kerelaan dari pemiliknya, tetapi tetap tidak sah untuk dijual atau dihibahkan kembali karena status kepemilikannya yang belum berpindah secara syari.
تحفة المحتاج في شرح المنهاج -(ج 31 / ص 443 )
وله ( أي الضيف مثلا ) أخذ ما ( يشمل الطعام والنقد وغيرهما وتخصيصه بالطعام رده في شرح مسلم فتفطن له ولا تغتر بمن وهم فيه ) يعلم ( أو يظن أي بقرينة قوية بحيث لا يُتلف الرضا عنها عادة كما هو ظاهر ) رضاه به ( ؛ لأن المدار على طيب نفس المالك فإذا قضت القرينة القوية به حل وتختلف قرائن الرضا في ذلك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال وإذا جوزنا له الأخذ فالذي يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمينا أو بلا بدل توقف الملك على ما ظنه لا يقال قياس ما مر في توقف الملك على الازدراد أنه هنا يتوقف على التصرف فيه فلا يملكه بمجرد قبضه له ؛ لأنا نقول الفرق بينهما واضح ؛ لأن قرينة التقديم للكل ثم قصرت الملك على حقيقته ولا يتم إلا بالازدراد وهنا المدار على ظن الرضا فأنيط بحسب ذلك الظن فإن ظن رضاه بأنه يملكه بالأخذ أو بالتصرف أو بغيرهما عمل بمقتضى ذلك
Ibarot diatas menjelakan bahwa Seseorang (seperti tamu) boleh mengambil harta milik orang lain, baik berupa makanan, uang, maupun barang lainnya jika ia meyakini atau menduga kuat adanya kerelaan dari pemiliknya berdasarkan petunjuk (qarīnah) yang jelas. Kehalalan dan status kepemilikan barang tersebut apakah dianggap sebagai hibah, pinjaman, atau akad lainnya sepenuhnya ditentukan oleh batasan kerelaan pemilik yang dipahami dari qorinah tersebut, karena acuan utama dalam kehalalan transaksi ini adalah kerelaan hati pemiliknya.


