Akan tetapi, keumuman yang terkandung dalam ibarat-ibarat tersebut masih menyisakan ruang diskusi yang memerlukan kajian lebih lanjut. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tidak semua objek yang diperoleh melalui transaksi yang tidak sah menurut syariat dapat secara mutlak dinyatakan boleh dimanfaatkan hanya berdasarkan adanya keridaan dari pemiliknya. Dalam beberapa bentuk transaksi tertentu, pemanfaatan objek transaksi tetap tidak diperbolehkan meskipun dilakukan atas dasar kerelaan para pihak, karena syariat tidak memberikan legitimasi terhadap bentuk transaksi yang melatarbelakanginya. Fenomena tersebut dapat dipahami melalui beberapa keterangan berikut:

 إحياء علوم الدين  – )ج 4 / ص 21 (

وأما أكل الربا فليس إلا أكل مال الغير بالتراضي مع الإخلال بشرط وضعه الشرع ولا يبعد أن تختلف الشرائع في مثله وإذا لم يجعل الغصب الذي هو أكل مال الغير بغيره رضاه وبغير رضا الشرع من الكبائر فأكل الربا أكل برضا المالك ولكن دون رضا الشرع وإن عظم الشرع الزنا  بالزجر عنه فقد عظم أيضا الظلم بالغصب وغير ه المنتقى 

شرح الموطأ  )ج 3 / ص 434 (

)ش ( : نهيه صلى الله عليه وسلم عن ثمن الكلب يحتمل أن يريد به ثمن الكلب المنهي عن اتخاذه فيتناول نهيه البائع عن أخذ ثمنه والانتفاع به

صحيح البخاري (ج 16 / ص 419)

حدثنا آدم حدثنا شعبة حدثنا عون بن أبي جحيفة عن أبيه قال لعن النبي صلى الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة وآكل الربا وموكله ونهى عن ثمن الكلب وكسب البغي ولعن المصورين

 

Dari beberapa kutipan di atas, keridaan pemilik tidak selalu membuat pemanfaatan harta menjadi halal. Pada kasus tertentu, keridaan pemilik sudah cukup melegalkan penggunaan harta meski akadnya tidak sah. Namun pada kasus lain, keridaan pemilik sama sekali tidak berpengaruh jika bentuk transaksinya secara tegas dilarang oleh syariat seperti riba, atau menjual anjing.

BACA JUGA :  Sebatas Apakah Kalam Yang Dapat Membatalkan Sholat ?

Dari konsep-konsep tersebut terdapat korelasi yang saling berkesinambungan sebagai berikut: Secara fiqh, aqad yang tidak sah terbagi menjadi dua macam yaitu aqad yang bathil dan aqad yang fasid. 

  • Jika berawal dari aqad riba, maka mutlak tidak bisa halal dengan ridla baik mengonsumsi ataupun tasharruf (produktif). Karena aqad tersebut merupakan aqad yang bathil dan telah dinash dalam Al-Quran dan hadits termasuk dari kaba’ir (dosa besar).
  • Jika berawal dari aqad fasid seperti munabadzah, mulamasah, dsb. maka aqadnya haram, tetapi mengonsumsi dan tasharrufnya bisa halal dengan saling ridla

Kedua redaksi pada deskripsi merupakan dua kasus yang berbeda, Ibarot kedua (riba) dalam deskripsi adalah mengenai perkara-perkara yang telah dinash sebagai aqad yang bathil dan termasuk kaba’ir. Sedangkan, ibarot pertama hanya menjelaskan aqad-aqad yang fasid

1
2
3
4
5
Artikulli paraprakMeneguhkan Akidah, Menghormati Kemanusiaan: Refleksi atas Pemberontakan PKI dalam Perspektif Islam dan Kepesantrenan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini