Perjalanan bangsa Indonesia pernah diwarnai oleh benturan pemikiran dan garis ideologi yang amat mendasar. Salah satu paham yang hadir membawa tatanan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kebangsaan adalah komunisme. Sebagaimana dirumuskan secara akademis dalam Wikipedia Komunisme, ideologi ini berdiri di atas cita-cita radikal untuk membongkar tatanan sosial dengan mewujudkan masyarakat tanpa kelas, tanpa hak milik pribadi, hingga meniadakan peran negara. Secara filosofis, paham ini bersumber dari pandangan materialisme murni yang menafikan keberadaan kekuatan supranatural serta menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Secara ekonomi, komunisme memaksakan penguasaan mutlak atas alat produksi secara kolektif. Sementara secara sosiopolitik, tatanan sosial tersebut dipaksakan melalui jalan revolusi dan pertentangan kelas.
Watak dasar komunisme yang serba materialistis serta menghapuskan hak milik individu ini—seperti diuraikan dalam Kritik Nalar Komunis oleh NU Online—secara fundamental bertentangan dengan prinsip ketauhidan dalam Islam serta Sila Pertama Pancasila yang menegaskan landasan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ketidakcocokan ideologis yang mendasar ini pada akhirnya memicu ketegangan politik di lapangan. Dalam catatan sejarah Indonesia, pergesekan tersebut berujung pada tiga kali aksi pemberontakan besar yang dilancarkan oleh PKI.
Rekam Sejarah Pemberontakan dan Dampaknya
Pemberontakan pertama PKI pecah pada masa pemerintahan kolonial Belanda tahun 1926–1927. Sebagaimana dicatat oleh Mina News, rencana aksi tersebut dirumuskan dalam Konferensi Prambanan Desember 1925 dan puncaknya terjadi pada 1 Januari 1927 di Silungkang, Sumatera Barat. Aksi yang melibatkan rombongan pimpinan Abdul Muluk Nasution, buruh tambang batu bara Sawahlunto, serta pemuda nagari tersebut akhirnya dipadamkan oleh tentara Belanda pada Maret 1927. Para pimpinannya dijatuhi hukuman gantung, ratusan anggota dibuang ke Boven Digul, dan pada akhirnya PKI dinyatakan terlarang.
Setelah beroperasi lewat Gerakan bawah tanah, PKI kembali melancarkan pemberontakan kedua pada masa kemerdekaan, yaitu pada 18 September 1948 di Madiun. Pemberontakan yang dipicu oleh dinamika politik pasca-Perundingan Renville ini bertujuan meruntuhkan Republik Indonesia dan menggantinya dengan negara komunis. Dalam aksi ini, penculikan, pemogokan, dan pembunuhan massal menyasar para pejabat, TNI, pimpinan partai, serta alim ulama. Menurut laporan Kumparan mengenai Serangan ke Pondok Gontor, pesantren tak luput dari sasaran kekerasan; Pondok Gontor Ponorogo diserang, dijarah, kitab-kitab bahasa Arab dibakar, dan jajaran pimpinannya terpaksa mengungsi. Sebagaimana dirangkum dalam Wikipedia Pemberontakan PKI 1948 serta catatan di Detik Jatim tentang Korban Madiun, estimasi total korban jiwa mencapai puluhan ribu orang yang tersebar di wilayah Madiun, Cepu, hingga Ponorogo.
Pemberontakan ketiga terjadi pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Sebagaimana diuraikan dalam Mina News, menjelang peristiwa tersebut PKI mematangkan situasi dengan melancarkan propaganda, mengadu domba, serta memicu konflik sosial di masyarakat. Puncaknya, pasukan loyal PKI melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yang jenazahnya ditemukan di sumur Lubang Buaya. Tragedi kekerasan yang berulang ini menjadi bukti nyata bagaimana radikalisme ideologi yang mengabaikan nilai ketuhanan dapat merusak tatanan kemanusiaan.


