Menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk perhatian seorang muslim terhadap kalam Allah SWT. Namun, proses menghafal tidak berhenti ketika seseorang berhasil memasukkan ayat ke dalam ingatan. Hafalan memerlukan pemeliharaan melalui pengulangan (murāja‘ah), sebab daya ingat manusia memiliki keterbatasan. Dari sini muncul persoalan fikih: apakah setiap hafalan yang terlupakan dapat menimbulkan dosa?

     Persoalan ini perlu dijawab secara cermat. Menyamakan seluruh bentuk lupa sebagai dosa dapat memberatkan seseorang di luar kemampuannya. Sebaliknya, menganggap semua lupa sebagai sesuatu yang tidak perlu diperhatikan dapat mengabaikan tanggung jawab menjaga hafalan. Literatur fikih memberikan pembedaan penting antara lupa dan kelalaian yang mengantarkannya lupa.

     Dalam kutipan Al-Fatāwā al-Fiqhiyyah al-Kubrā (jilid 1, hlm. 129), dijelaskan bahwa lupa yang tercela adalah lupa yang disebabkan oleh kelalaian. Tanda kelalaian tersebut ialah ketika seseorang telah sampai pada keadaan tidak mampu mengingat hafalannya kecuali dengan melakukan usaha dan pengulangan. Dengan demikian, persoalan hukumnya tidak hanya terletak pada hilangnya ingatan, tetapi juga pada sebab dan proses yang mengantarkan seseorang kepada keadaan tersebut.

BACA JUGA :  Anak Jalanan
1
2
3
Artikulli paraprakMakna Sumpah Pemuda dalam Dawuh Mbah Moen: 4 Pilar Kebahagian Bangsa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini