Ibn al-Jauzi, sebagaimana dikutip dalam Fatḥ al-Bārī karya Ibn Hajar (jilid 1, hlm. 68), menjelaskan salah satu alasan kenapa amal dianjurkan berkesinambungan, dikarenakan orang yang meninggalkan suatu amal setelah memulainya dianggap seperti orang yang berpaling setelah menjalin hubungan. Keterangan ini digunakan untuk menjelaskan adanya peringatan bagi orang yang telah menghafal ayat kemudian melupakannya.

وَقَالَ اِبْن الْجَوْزِيّ : إِنَّمَا أَحَبَّ الدَّائِم لِمَعْنَيَيْنِ : أَحَدهمَا أَنَّ التَّارِك لِلْعَمَلِ بَعْد الدُّخُول فِيهِ كَالْمُعْرِضِ بَعْد الْوَصْل ، فَهُوَ مُتَعَرِّض لِلذَّمِّ ، وَلِهَذَا وَرَدَ الْوَعِيد فِي حَقّ مَنْ حَفِظَ آيَة ثُمَّ نَسِيَهَا وَإِنْ كَانَ قَبْل حِفْظهَا لَا يَتَعَيَّن عَلَيْهِ


Fatḥ al-Bārī li Ibn Ḥajar
(Juz 1, hlm. 68).

     Sementara itu, kutipan Tuḥfat al-Aḥwadzī (jilid 7, hlm. 234) memuat hadis tentang beratnya peringatan terhadap orang yang melupakan surah atau ayat yang telahia hafalkan sebelumnya. Seperti halnya Imam Ibnu Hajar, Imam Abul ‘Ula Muhammad Abdurrahman juga mempunyai pendapat yang sama, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah lupa spontan yang tidak disengaja, melainkan meninggalkan pemeliharaan secara sengaja hingga berujung lupa. Sekalipun  beliau berpendapat bahwa hadis tersebut termasuk kategori hadis gharīb dan masih di perselisihkan mengenai salah seorang perawinya.

قال رسول الله ﷺ عرضت علي أجور أمتي حتى القذاة يخرجها الرجل من المسجد وعرضت علي ذنوب أمتي فلم أر ذنبا أعظم من سورة من القرآن أو آية أوتيها رجل ثم نسيها

( مِنْ الْقُرْآنِ ) قَالَ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ : فَإِنْ قُلْت هَذَا مُنَافٍ لِمَا مَرَّ فِي بَابِ الْكَبَائِرِ ، قُلْتُ إِنْ سَلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ وَأَكْبَرَ مُتَرَادِفَانِ ، فَالْوَعِيدُ عَلَى النِّسْيَانِ لِأَجْلِ أَنَّ مَدَارَ هَذِهِ الشَّرِيعَةِ عَلَى الْقُرْآنِ فَنِسْيَانُهُ كَالسَّعْيِ فِي الْإِخْلَالِ بِهَا ، فَإِنْ قُلْت النِّسْيَانُ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ ، قُلْتُ الْمُرَادُ تَرْكُهَا عَمْدًا إِلَى أَنْ يُفْضِي إِلَى النِّسْيَانِ .

BACA JUGA :  Air Sisa Wudlu Dibersihkan dengan Handuk

     Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa penilaian terhadap lupa hafalan Al-Qur’an perlu mempertimbangkan unsur kesengajaan dan kelalaian. Apabila hafalan melemah karena seseorang sengaja meninggalkan murāja‘ah sampai ia tidak mampu mengingatnya tanpa usaha dan pengulangan, keadaan itu termasuk bentuk kelalaian yang diperingatkan dalam literatur yang dikaji. Sebaliknya, apabila hafalan masih dapat kembali dengan sedikit pengingatan dan lupa tersebut merupakan hal yang lazim dialami manusia, terdapat ruang toleransi.

     Pembedaan ini sekaligus menghindarkan dua sikap berlebihan: menganggap setiap lupa sebagai dosa tanpa melihat sebabnya, atau meremehkan kewajiban menjaga hafalan. Praktik yang lebih tepat ialah membangun jadwal murāja‘ah yang teratur, mengulang hafalan sesuai kemampuan, dan tidak membiarkan hafalan terbengkalai. Oleh karena itu, tidak ada lagi alasan  takut lupa untuk tidak menghafal Al-quran.

Reverensi:
Ibn Hajar al-Haitami. Al-Fatāwā al-Fiqhiyyah al-Kubrā. Jilid 1, hlm. 129.

Al-Mubarakfuri. Tuḥfat al-Aḥwadzī. Jilid 7, hlm. 234.

Fatḥ al-Bārī karya Ibn Hajar (jilid 1, hlm. 68)

 

1
2
3
Artikulli paraprakMakna Sumpah Pemuda dalam Dawuh Mbah Moen: 4 Pilar Kebahagian Bangsa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini