Kedua, pondok pesantren mengenalkan kita pada konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, para santri menjunjung tinggi nilai barokah sebagai hal yang sangat penting. Mereka kerap meyakini bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita dapatkan, tanpa barokah dari kiai, ilmu itu tidak akan membawa manfaat.
Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani menegaskan:
ثَبَاتُ الْعِلْمِ بِالْمُذَاكَرَةِ، وَبَرَكَتُهُ بِالْخِدْمَةِ، وَنَفْعُهُ بِرِضَا الشَّيْخِ.
“Melekatnya ilmu dapat di peroleh dengan cara banyak muthola’ah, dan barokahnya didapat melalui khidmah (melayani guru), dan manfaatnya akan tampak dengan adanya rida dari sang guru.”
Ketiga, di pesantren kita dapat berkumpul dengan para kiai dan orang-orang saleh. Sayyid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya menjelaskan bahwa bergaul dengan orang saleh mendorong seseorang untuk meneladani kesalehan mereka.
وإنما كانت مجالسة الصالحين من الأدوية أيضا لأنها تورث الاقتداء بهم في أفعالهم وأقوالهم وأحوالهم وتدعو إلى أن لا يرضى لنفسه أن يقصر عنهم ولا أن يكون في الخير دونهم فتبعثه المنافسة على مساواتهم أو الزيادة عليهم فيصيرون سببا لسعادته والصالحون هم القائمون بحقوق الله وحقوق العباد
“Sesungguhnya berkumpul dengan orang-orang saleh adalah obat (bagi hati), karena akan menumbuhkan sikap meneladani mereka dalam perbuatan, ucapan, dan keadaan. Hal ini juga mendorong seseorang untuk tidak rela jika dirinya tertinggal dalam kebaikan dibanding mereka. Maka, tumbuhlah semangat untuk menyamai atau bahkan melampaui mereka dalam kebaikan. Dengan demikian, mereka menjadi sebab kebahagiaan seseorang. Orang-orang saleh adalah mereka yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.”


