مَاقَدَكَ شَيءٌ مِثْلَ الوَهْمِ

”Tidak ada sesuatu yang menuntun engkau (menjadi rakus) seperti wahm(angan-angan kosong)”

Wahm adalah setiap angan-angan terhadap sesuatu selain Allah. Berbentuk bayangan dan harapan terhadap sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Artinya bila engkau menginginkan sesuatu yang ada pada makhluk, baik itu berupa manfaat, kerugian, pemberian atau penolakan, berarti engkau rakus kepada mereka dan menjadi terhina di hadapan mereka.

Sebaliknya, bila yakin kepada Allah dan mengetahui bahwa segala sesuatu itu bermuara pada Allah dan manusia tidak bisa memberi manfaat baginya sendiri apalagi orang lain, maka engkau tidak akan bergantung selain hanya kepada Allah. Seorang ahli hikmah berkata: “Jangan kau menyangka bisa masuk ke hadirat Allah sedangkan engkau masih tertarik sesuatu”.

Allah berfirman:

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim (bersih) ”

Hati salim adalah hati yang tidak menggantungkan diri pada selain Allah. Hati seperti inilah yang selamat dan pemiliknya selamat di hari kiamat. Orang yang mendapat kasih sayang Allah adalah orang yang yatim dari selain Allah dalam arti ia tidak mengharapkan selainNya. Allah suka pada orang yang mengEsakan-Nya, di hatinya tidak ada lain.

Orang yang menyangka ketentreman didapat dari harta, istri cantik atau sebagainya. Ternyata semua itu hanyalah wahm (angan belaka) yang menarik pada kebatilan sehingga menimbulkan kerusakan. Yang sebenarnya ketenteraman itu hanya didapat dengan dengan hati selalu mengingat Allah semata.

أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

“Ingatlah, hanya dengan menyebut nama Allah, hati menjadi tentram”

Dengan ayat ini menjadi sangat jelaslah segala angan-angan kosong kepada yang tertuju selain Allah itu menggundahkan hati dan menyesakkan hidup, maka beranjaklah bergantung kepadaNya, maka engkau pasti akan menemukan ketentraman dan menjadi qonaah dan wara.

Keadaan putus asa kepada selain Allah kadang kita merasakan saat dalam posisi sulit, seperti tidak ada yang bakal bisa membantu selain kuasa Allah. Kemudian berbisik pada hati sendiri “Semua orang tak ada gunanya”, namun sangat disayangkan kita tidak bisa menjaga rasa ini bertahan lama, andai saja perasaan itu terus ada, maka tidak mustahil kita sudah menjadi wali Allah.

Sebagian orang arifin berkata: “Seorang hamba tidak menjadi qonaah sehingga andai datang di depan rumahnya segala sesuatu yang disukai ahli dunia dari kenikmatan, lalu disodorkan kepadanya, maka tidak melihatnya dan malah tidak membukakan pintu karena merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah.”

Orang yang qonaah bisa kita ibaratkan seorang raja, ia bebas dari segala kehinaan. Tidak ada orang yang mengetuk pintunya dan ia tidak mengetuk orang lain. Orang lain tidaklah mengetuk karena ia tidak punya hutang yang perlu ditagih. Sedangkan ia tidak mengetuk pintu orang lain karena tidak butuh berhutang pada orang lain, seperti itulah perumpamaannya.

Semoga kajian kali ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin. Wallahu A’lam.

Artikulli paraprakCINCIN BAGI KAUM PRIA
Artikulli tjetërQona’ah: Resep Merdeka dari Budak Keinginan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini