Mengenai hakikat negasi (la safara) ini, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari memberikan penetapan yang sangat tegas:
فَالْمُرَادُ بِنَفْيِ الصَّفَرِ مَا كَانُوا يَعْتَقِدُونَهُ فِيهِ مِنَ الْعَدْوَى… لَكِنَّ الْمُرَادَ بِالنَّفْيِ نَفْيُ مَا كَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ مَنْ أَصَابَهُ قَتَلَهُ، فَرَدَّ ذَلِكَ الشَّارِعُ بِأَنَّ الْمَوْتَ لَا يَكُونُ إِلَّا إِذَا فَرَغَ الْأَجَلُ
Artinya: “Maka yang dimaksud dengan negasi kata Safar adalah meniadakan anggapan (pengaruh mandiri) yang biasa diyakini oleh masyarakat Jahiliyah padanya… Akan tetapi, yang dimaksud dengan negasi [la safara] adalah meniadakan apa yang mereka yakini bahwa barang siapa yang terkena (penyakit/ular perut) itu pasti mati, maka Syari’ (Rasulullah SAW) membantah hal itu dengan menegaskan bahwa kematian tidak akan terjadi kecuali jika ajalnya telah selesai.”
Redaksi asli di atas menegaskan bahwa negasi (nafi) dalam hadis tersebut berfungsi membatalkan seluruh prasangka dan kepercayaan mistis Jahiliyah. Segala manfaat, mudarat, hidup, dan mati murni berada di tangan takdir serta ketetapan Allah SWT.
Kesimpulan
Kesimpulan yang kita dapat dari pembahasan ini adalah bahwa bulan Safar merupakan bagian dari ruang waktu ciptaan Allah SWT yang berstatus netral dan mulia, sama halnya dengan bulan-bulan lainnya. Nama Safar lahir secara alami dari latar belakang sosiologis masyarakat Arab pra-Islam yang meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong (sifr) untuk pergi berperang atau bepergian pasca-berakhirnya bulan suci Muharram.
Melalui ibarot dan penjelasan para Ulama Syafi’iyyah di atas, kita diajarkan untuk membuang jauh-jauh sikap at-tasyaum (merasa sial) terhadap bulan Safar. Mari kita isi bulan Safar ini dengan meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta memantapkan akidah bahwa segala takdir baik dan buruk sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah SWT.
Wallahua’lam..
Sumber :
- Imam An-Nawawi – Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Dar Ihya’ At-Turath Al-‘Arabi (Beirut): Juz 1, Hal. 104–105
- Imam Jalaluddin Al-Suyuthi – Al-Muzhir fi ‘Ulumil Lughah wa Anwa’iha, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah (Beirut, 1998 M / Tahqiq: Fu’ad ‘Ali Mansur): Juz 1, Hal. 375
- Ibnu Manzur – Lisanul Arab, Dar Sadir (Beirut) / Maktabah Shamela – Lisanul Arab: Juz 4, Hal. 462–463
- Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani – Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Dar Al-Ma’rifah (Beirut): Juz 10, Hal. 242–245 (Kitab at-Thib, Bab La Safara)
- Imam Al-Baghawi – Ma’alim At-Tanzil (Tafsir Al-Baghawi), Dar Thayyibah (Riyadh): Juz 4, Hal. 47 (Tafsir Surah At-Taubah: 37) / Maktabah Shamela – Tafsir Al-Baghawi


