BUBUR SYURO

Kisah ini dimulai tepat setelah kejadian banjir bandang yang menimpa kaum Nabi Nuh AS., setelah selama kurang lebih 150 hari berada di kapalnya, dimulai pada tanggal 10 Rajab dan berakhir pada tanggal10 Muharrom, akhirnya surutlah banjir bandang tersebut dalam keadaan bahtera berlabuh tepat di atas gunung Judy.

Setelah seluruh penghuni kapal turun dengan selamat, Nabi Nuh memerintahkan semua orang untuk mengumpulkan bahan-bahan makanan yang tersisa.

“Kumpulkanlah seluruh persediaan kalian (makanan) yang masih tersisa.”

Tanpa berlama-lama segeralah orang-orang mengumpulkannya, mereka mencari ke setiap sudut kapal; tak lama kemudian datanglah seseorang dengan membawa segenggam kara oncet (kacang-kacangan), pun disusul yang lain dengan membawa segenggam lentil, ada yang membawa beras, ada pula yang membawa gandum.

Kemudian Nabi Nuh berkata, “Masaklah semuanya, sungguh berbahagialah atas keselamatan kalian.” Jadilah makanan itu menjadi makanan yang pertama kali dimasak di atas bumi setelah banjir bandang besar.

Kini, beribu-ribu tahun kemudian, kita temukan adat kebiasaan kaum muslimin membuat bubur pada hari Asyuro’, 10 Muharrom guna mengenang kejadian istimewa tersebut.

KISAH YAHUDI

Dikisahkan dahulu bertepatan pada hari Asyuro’, terdapat seorang fakir miskin yang telah berkeluarga, karena pada hari itu ia tidak memiliki simpanan sedikitpun untuk menafkahi keluarganya, ia dan seluruh keluarganya memulai hari dengan berpuasa.

Namun ia masih terbesit akan apa yang digunakan untuk berbuka, akhirnya ia keluar, berjalan mengelingi kota untuk mencari makanan apa yang bisa ia gunakan berbuka.

Setelah beberapa lama berjalan ia tetap tak menemukan apapun. Masuklah ia ke sebuah pasar, di sana ia melihat seorang laki-laki yang tengah berjualan sebuah perhiasaan. Ia hampiri laki-laki tersebut, ia ucapkan salam kepadanya dan berkata, “Wahai Tuanku, hamba ini seorang fakir lagi miskin, maukah engkau menghutangi hamba 1 dirham saja agar hamba dapat membeli makanan untuk berbuka keluarga, tak lupa hamba akan mendoakan kebaikan untuk tuan pada hari ini.”

Sebagai responnya, si penjual hanya diam saja tak memberikan apapun, bahkan ia memalingkan wajahnya. Tanpa berlama-lama lagi seorang fakir tadi langsung pergi meninggalkannya dengan lunglai, hati yang hancur berkeping-keping, dan air mata yang mengucur deras.

Dari kejauhan – tanpa sepengetahuan si fakir – ada seseorang yang mengetahui kejadian tersebut, ia merupakan seorang Yahudi, tetangga dari si penjual. Ia ikuti orang fakir tersebut dan setelah tiba di suatu tempat yang agak jauh dari pasar, ia turun dari kendaraannya dan bertanya kepada fakir tersebut,

“Aku tadi melihatmu berbicara dengan tetanggaku, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tadi bermaksud meminjam uang 1 dirham kepadanya untuk berbuka keluargaku, namun ia menolaknya, padahal aku sudah berjanji akan mendoakannya pada hari ini” cerita si fakir.

BACA JUGA :  Ancaman Liberalisme, Salafy-wahabi, Sekularisme (Bagian VI)

“Memangnya ini hari apa?” tanya si Yahudi keheranan.

“Ini adalah Hari Asyuro’” jawab si fakir tegas, tak lupa ia juga menceritakan keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang terdapat pada hari itu.

Mengetahui ia hal itu, tanpa berpikir panjang, si Yahudi tadi langsung mengambil 10 dirham dari kantongnya dan berkata, “Ambillah ini dan berikan pada keluargamu untuk memuliakan hari ini.” Dengan hati yang gembira, pulanglah si fakir tadi menuju ke keluarganya.

Di sisi lain, malam itu; si penjual yang menolak memberi tadi bermimpi, seakan-akan hari kiamat telah tiba, ia merasa sangat kehausan dan hatinya penuh dengan kegelisahan. Tiba-tiba saja ia melihat sebuah istana besar yang terbuat dari mutiara putih yang sangat indah, gerbang-gerbangnya tebuat dari batu yaqut merah. Ia terkagum-kagum melihat hal itu, namun walau begitu tetap tidak dapat menghilangkan rasa hausnya, sehingga ia dongakkan kepalanya dan berteriak, “Wahai sang pemilik istana yang megah ini, tolong berikan aku seteguk air.”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Istana ini sebenarnya adalah milikmu, namun setelah kau tolak si fakir kemarin, namamu dihapus atas kepemilikan ini dan digantikan dengan tetangga Yahudimu yang telah memberinya 10 dirham.”

Pagi harinya, si pedagang itu bangun dalam keadaan susah, mengumpat pada dirinya sendiri; kemudian ia pergi menemui tetangga Yahudinya dan berkata, “Engkau tetanggaku, kau punya hak, dan aku pun juga punya keperluan”

“Keperluan apa?”

“Juallah pahala sepuluh dirham yang kemarin kau berikan kepada si fakir, aku beli 100 dirham”

“Demi Allah, tidak akan kujual, bahkan dengan 100.000 dinar sekalipun; andaikata kau meminta izin memasuki istana yang kau lihat, aku tak akan pernah memperkenankanmu masuk” tegas si Yahudi

“Siapa yang memberitahu rahasia ini?” tanya si pedagang keheranan

“Dzat yang berfirman, ‘Kun Fayakun’, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya”

***

Walhasil, pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah si Yahudi ini adalah bagaimana Allah memberikan nikmat dan hidayah untuk dapat masuk Islam kepada seorang Yahudi sebab ia Husnudzzon, berbaik sangka terhadap hari Asyuro’, padahal sebelumnya ia tidak pernah tahu apa keutamaan hari tersebut.

Lalu bagaimana bisa seorang yang telah mengetahui keutamaan dan fadhilah dari hari Asyuro’ malah menyia-nyiakan hari tersebut? Semoga Allah selalu memberikan kita pertolongan untuk dapat berbuat kebaikan dan terutamanya dapat memanfaatkan momen Asyuro’ ini dengan baik.

Artikulli paraprakEMPERAN BER-CCTV
Artikulli tjetërKemerdekaan RI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini