Semalaman suntuk si Burhan begadang dengan larikan-larikan kitab gundul ala nahwu. Ia tidak bisa tidur hingga fajar mulai menyongsong. Dimusykilkan oleh suatu masalah yang hanya sekata. Mengapa ‘irab hanya ada empat? Tidak lima atau bahkan sampai sepuluh.

Burhan orangnya pemalu. Dia sungkan jika harus bertanya atas kerumitan yang telah menerjangnya. Ia kritikus dalam bidang nahwu. Itulah kelebihannya.Temannya banyak yang kagum. Ada yang mengatakan dia si jago nahwu.

""

Entah angin apa. Tiba-tiba fikirannya pening hingga seolah-olah ada lintasan yang menyilau menyambar pandangannya. Ia sering bergeming sendiri. Rafa, nashab, jer dan jazem. Kalau ada I’rab wasath pasti asyik. Dia seringai. Seperti antara wanita dan laki-laki ada khunsya (belum diketahui dengan pasti apakah dia itu laki-laki atau perempuan). Ah,,, masak bodoh. Dia menukas.

""

Ia ingin membongkar ganjalan yang mengkal di fikirannya. Ia berjalan menuju pantai laut sebagai mediasi untuk itu. Ternyata ia bertemu dengan seorang kakek yang hendak ikut minyang di tengah laut menyapanya. “Nak, jadi santri jangan seperti pohon kelapa. Tapi jadilah seperti pohon labu.” Pesan yang singkat. Kakek itu meninggalkanku dengan membawa peralatan nelayannya. Dari kejauhan, kakek itu berteriak, “Jangan juga sepert laron, yang mati sia-sia karena menabrak-nabrak neon lampu.”

""

Aku berfikir dan berfikir mengapa dia berucap seperti itu? Bukankah kelapa itu bermanfaat. Bukankan labu itu terkadang tersia-sia sebab tempatnya yang ada di bawah. Aku menyeringai. Makjleb, aku ditambahi kemuskilan, jangan seperti Laron. Semenjak itu aku sering bicara sendiri sebab tidak menemukan jawabannya.

BACA JUGA :  Menangkal Opini
Artikulli paraprakJangan Anti klimaks
Artikulli tjetërAku Rindu Mbah Nawawi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini