من جهل المريد أن يسيء الأدب فتؤخر العقوبة عنه فيقول : لو كان هذا سوء أدب لقطع الإمداد وأوجب الإبعاد . فقد يقطع المدد عنه من حيث لا يشعر ولو لم يكن إلا منع المزيد . وقد يقام مقام البعد وهو لا يدري . ولو لم يكن إلا أن يخليك وما تريد

“Termasuk kebodohan seorang  murid adalah jika ia berbuat su’ul adab (salah),lalu tidak langsung dihukum  sehingga ia berkata: Andai kata ini termasuk su’ul adab (salah) maka pasti bantuan Allah akan terputus dan pasti sudah jauh. Kadang kadang bantuan Allah itu terputus, tapi tidak  dirasakan oleh si murid, meskipun hanya berupa tidak adanya tambahan yang baru (tidak ada kemajuan).”

            Tidak ada kemajuan dan tambahan yang baru dari Allah bisa jadi hukuman, karena hukuman tidak semata berkurangnya nikmat rezeki saja. Adakalanya juga seorang sudah jauh dari Allah  tetapi ia tidak merasakan, meskipun hanya dengan cara dibiarkan mengikuti hawa nafsunya.

            Ada hukuman yang berbahaya  dan ditakuti. Yaitu balasan  berupa hijab, na’udzubillah. Ia dihijab untuk sampai pada Allah sehingga ia putus  dari perjalanan kepada Allah. Seorang murid tidak bisa melanjutkan istiqomah dan mujahadahnya kepada Allah disebabkan suul adab kepada Allah, Nabi atau kepada gurunya.

            Kalau seorang murid terkena hukuman ini dan tidak ditolong oleh rahmat Allah, maka ia akan lama dalam siksaan itu. Akhirnya ia jatuh di mata Allah dan hatinya akan terhijab, kesenangan berganti keresahan, cahaya hatinya akan terhapus menjadi kegelapan dan tidak bisa kembali lagi kepada kedudukan yang pertama. Matahari makrifatnya menjadi gerhana. Mukasyafahnya terputus. Sampai-sampai ada yang terhijab dua puluh tahun tidak dapat menemukan jalan kepada Allah. Untuk kembali pada maqom dan kedudukan yang pertama sanggatlah sulit. Ada yang bertahun- tahun baru bisa kembali. Ada yang bisa kembali di akhir umurnya, ini sangat menyakitkan.

             Orang yang tidak ditolong rahmat Allah ia akan ditelantarkan Allah. Ia tidak diberi taufiq  pentunjuk Allah. Ia selalu dalam kesalahan, sedangkan taufiq Allah sangat dibutuhkan  dan sangat mahal harganya.

BACA JUGA :  Luaskan Cakrawala untuk Meneguhkan Tauhid

            Abul-Qasim Al-Junaid ra. berkata; “Ketika saya sedang menunggu jenazah bersama orang-orang banyak yang akan disembahyangkan di masjid Assyuniziyah, tiba-tiba ada seorang miskin minta-minta, maka dalam perasaan hatiku : Andaikan orang itu bekerja sedikit- sedikit supaya tidak minta-minta, tentu akan lebih baik baginya. Kemudian ketika pada malam harinya. saya akan mengerjakan wirid yang biasa saya kerjakan pada tiap malam, terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa-apa, sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba-tiba mimpi orang-orang datang membawa orang miskin itu di atas nampan, dan orang-orang itu berkata kepadaku : Makanlah daging orang ini sebab engkau telah menghibah padanya. Maka langsung saya sadar, dan saya tidak merasa gibah padanya hanya kepada orang itu, maka tiap hari saya berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepi sungai sedang mengambil daun-daunan yang rontok untuk dimakan dan ketika saya memberi salam kepadanya, langsung ia berkata : Apakah akan mengulangi lagi hai Abul Qasim ? Jawabku: Tidak. Maka ia berkata: Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu.

Tanda seorang mendapat taufik itu ada tiga:

    1. Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak niat dan bukan tujuannya.
    2. Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar daripadanya.

Ada perkataan seorang sufi:

وَمِنَ الْعِصْمَةِ أَنْ لَا تَقْدِرَ

“Termasuk penjagaan dari Allah kalau engkau akan berbuat maksiat tetapi tidak mampu”

  1. Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah taala. Ia selalu berdo kepada Allah dalam segala keadaan

Tanda seorang yang dihinakan oleh Allah ada tiga :

    1. Sukar melakukan ibadat/taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh.
    2. Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha menghindarkannya.
    3. Tertutupnya pintu berhajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.

Rasulullah saw. bersabda :

أدبني ربي فأحسن تأديبي

“Telah mengajari Tuhanku tentang adab hingga aku membaikkan adabku”

dan ayat:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩ ( الاعراف/7: 199)

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.(Al-A’raf/7:199)

Demikian, semoga kita termasuk hamba yang diberi taufiq dan hidayah Allah….Amiin.

Artikulli paraprakIndahnya Suasana Idul Adha di Pondok pesantren Al-Anwar Sarang
Artikulli tjetërPERDAMAIAN DAN BATASAN TOLERANSI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini