B. Pertimbangan Hukum

Dalam kajian kali ini, setidaknya ada tiga hal penting yang menjadi pertimbangan kami dalam menghukumi kecelakaan lalu lintas seperti yang terjadi dalam deskripsi diatas.

1. Batas Kecepatan

Dalam berkendara, pengguna jalan haruslah berhati-hati demi menjaga kenyamanan dalam berkendara, sehingga kecepatan pun harus terkontrol. Tidak kebut-kebutan apalagi ugal-ugalan. Hal ini telah termaktub dalam aturan syariat, sebagaimana keterangan dalam ibarot :

حاشية الجمل (21 / 307)

وَيَحْتَرِزُ الْمَارُّ بِطَرِيقٍ عَمَّا لَا يُعْتَادُ فِيهَا كَرَكْضٍ شَدِيدٍ فِي وَحْلٍ أَوْ فِي مَجْمَعِ النَّاسِ فَإِنْ خَالَفَ ضَمِنَ مَا تَوَلَّدَ مِنْهُ لِتَعَدِّيهِ

Artinya, “Pengguna jalan harus menjaga dirinya dari melakukan sesuatu yang berlebihan seperti ngebut di jalan yang berlumpur atau dikerumunan manusia, dan apabila pengguna jalan melakukanya maka dia wajib bertanggung jawab atas perbuatannya.”

Disamping itu, batas kecepatan ternyata juga diatur oleh pemerintah sebagaimana disebutkan dalam UU LLAJ (Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) No 22 Tahun 2009 bagian kedua pasal 23 ayat empat mengenai Batas Kecepatan disebutkan: “Paling tinggi 80 km/j untuk jalan antarkota”.

2. Kondisi Pengemudi

Kondisi pengemudi sangatlah berpengaruh pada keselamatan, artinya sebagai pengendara yang profesional sudah seharusnya bisa menguasai dirinya dalam mengendalikan kendaraan yang dinaikinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam ibarot :

الفتاوى الفقهية الكبرى  (9 / 360)

لو ركبت رأسها وعجز عن ضبطها فإنه يضمن متلفها لأنها في يده فهو المقصر بركوب ما لا يضبطه

Artinya, “jika kepala hewan ditunggangi dan sang penunggang tidak bisa mengendalikanya maka ia wajib menanggung semua yang dirusak oleh hewan tersebut karena ia dianggap ceroboh dengan menunggangi hewan tapi tidak bisa mengendalikanya.”

Dan aturan di atas juga telah diatur oleh pemerintah sebagaimana dalam Pasal 106 ayat 1 UU LLAJ yang berbunyi: “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.” Artinya tidak dalam keadaan yang dapat memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan seperti mengantuk, mabuk dll.

BACA JUGA :  KONTROVERSI HAJI BADAL DI INDONESIA
1
2
3
Artikulli paraprakMembela NKRI Artinya Membela Tauhid
Artikulli tjetërIbu Nyai Heni Maryam Syafa’ati Istri KH. Maimoen Zubair, Telah Berpulang ke Rahmatullah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini