3. Menjaga Jarak

Perihal menjaga jarak, syariat Islam telah membuka ruang bagi permerintah untuk turut mengatur kenyamanan berkendara, sebagaimana yang di jelaskan oleh Imam Al-Mawardi dalam ibarot berikut :

الأحكام السلطانية (1 / 377)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ مَا اخْتَصَّ بِأَفْنِيَةِ الشَّوَارِعِ وَالطُّرُقِ فَهُوَ مَوْقُوفٌ عَلَى نَظَرِ السُّلْطَانِ .

Artinya, “Pembahasan bagian ke-3 yaitu penggunaan fasilitas di jalan raya boleh bergantung pada aturan dari pemerintah”. (al-Ahkam al-Sulthaniyah)

Dalam hal ini pemerintah kita juga ikut serta dalam mengaturnya, sebagaimana dalam pasal 62 PP No 43 tahun 1993 tentang Tata Cara Berlalu Lintas yang berbunyi: “Pengemudi pada waktu mengikuti atau berada di belakang kendaraan lain, wajib menjaga jarak dengan kendaraan yang berada di depannya”.

Mengenai aturan ini (safety riding), Honda menginformasikan bahwa sesuai peraturan yang sudah disosialisasikan oleh Kementerian Perhubungan untuk kendaraan yang umumnya sebagai berikut:

  • Kecepatan 80 km/jam = Jarak minimal 60 meter & Jarak aman 80 meter.
  • Kecepatan 90 km/jam = Jarak minimal 70 meter & Jarak aman 90 meter.
  • Kecepatan 100 km/jam = Jarak minimal 80 meter & Jarak aman 100 meter.

C. KESIMPULAN

Kecelakaan dalam deskripsi di atas bisa kita hukumi bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pengendara dari mobil Innova (dibelakang) karena dianggap teledor saat berkendara diantaranya :

  1. Mengemudi dengan melebihi batas kecepatan di jalan antar kota (90 km/j).
  2. Mengemudi dalam keadaan mengantuk.
  3. Mengemudi tanpa menjaga jarak aman (70 – 90 Meter) untuk kecepatan 90 km/j.

Adapun pengendara mobil Avanza (di depan) tidak bersalah karena keadaan jalan yang gelap dan pengeremannya dikarenakan menghindari lobang juga dianggap wajar sebagaimana dalam ibarot :

المجموع شرح المهذب – (19 / 28)

BACA JUGA :  Warung Wifi dan Anak Kecil

فإن كان الراكب غير مقصر في آداب الطريق إلا أنه أراد أن يتوقى خطرا لاح له فترتب على وقوفه المفاجئ اصطدام من الخلف بسيارة مسرعة وراءه فمات سائقها، فإن كان يمكنه أن يعطى إشارة حمراء لمن خلفه ولم يفعل كانت الدية مخففة، أما إذا أعطى إشارة حمراء فليس عليه دية لأن الذى خلفه مات بفعل نفسه فلم يستحق دية.

“jika pengendara tidak lalai dalam berkendara, namun dia hendak menghindari bahaya yang menimpanya dengan berhenti secara tiba tiba, yang kemudian menyebabkan mobil dari arah belakang menabraknya dan memakan korban jiwa, maka bila dia mungkin memberikan isyarah lampu belakang namun tidak melakukanya maka dialah yang bertanggung jawab, tapi bila sudah memberikan isyarah maka dia tidak wajib bertanggung jawab.”

D. PENUTUP

Sebagai Muslim yang baik sudah seharusnya kita mematuhi aturan-aturan yang sudah ditetapkan sebagaimana mestinya. Dengan harapan kita mendapatkan ridho dari Allah sang maha kuasa dalam menjalani hidup yang hanya satu kali ini.

Demikian kajian ilmiah pada kesempatan kali ini, semoga kajian kali ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

والله أعلم بالصواب

Oleh : FKFQ {Forum Kajian Fathul Qorib) Perdana

Lembaga Pendidikan Muhadloroh PP. Al-Anwar Sarang

1
2
3
Artikulli paraprakMembela NKRI Artinya Membela Tauhid
Artikulli tjetërIbu Nyai Heni Maryam Syafa’ati Istri KH. Maimoen Zubair, Telah Berpulang ke Rahmatullah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini