Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ
“Sesungguhnya Rasulullah biasa berpuasa pada hari ‘Āsyūrā’ (10 Muharram), sembilan hari pertama dari bulan Dzulhijjah, tiga hari setiap bulan, dua hari Senin pertama setiap bulan, dan dua hari Kamis.”
Tingkatan Puasa Asyura
Ibnu hajar Al-Asqolani membagi beberapa tingkatan dalam berpuasa di hari Asyura ini, sebagai berikut,
فَصِيَامُ عَاشُورَاءَ عَلَى ثَلَاثِ مَرَاتِبَ أَدْنَاهَا أَنْ يُصَامَ وَحْدَهُ وَفَوْقَهُ أَنْ يُصَامَ التَّاسِعُ مَعَهُ وَفَوْقَهُ أَنْ يُصَامَ التَّاسِعُ وَالْحَادِي عَشَرَ
Puasa ‘Āsyūrā’ memiliki tiga tingkatan:
- Tingkatan paling rendah adalah berpuasa pada hari ‘Āsyūrā’ saja (10 Muharram).
- Tingkatan yang lebih utama adalah berpuasa pada hari ke-9 dan 10 Muharram.
- Tingkatan yang paling sempurna adalah berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram.
Kisah Nabi Nuh dan Tradisi Memasak di Hari Asyura
وَحكي أَن نوحًا عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام لما اسْتَقَرَّتْ بِهِ السَّفِينَة يَوْم عَاشُورَاء قَالَ لمن مَعَه اجْمَعُوا مَا بَقِي مَعكُمْ من الزَّاد فجَاء هَذَا بكف من الباقلاء وَهُوَ الفول وَهَذَا بكف من العدس وَهَذَا بأرز وَهَذَا بشعير وَهَذَا بحنطة فَقَالَ اطبخوه جَمِيعًا فقد هنئتم بالسلامة فَمن ذَلِك اتخذ الْمُسلمُونَ طَعَام الْحُبُوب وَكَانَ ذَلِك أول طَعَام طبخ على وَجه الأَرْض بعد الطوفان وَاتخذ ذَلِك عَادَة فِي يَوْم عَاشُورَاء
Diriwayatkan bahwa Nabi Nuh ‘alayhis salām, ketika kapalnya berlabuh dengan selamat pada hari ‘Āsyūrā’, beliau berkata kepada orang-orang yang bersamanya:
“Kumpulkanlah sisa bekal makanan yang kalian miliki.” Maka datanglah seseorang dengan segenggam kacang baqilā’ (semacam kedelai), yang lain membawa segenggam kacang adas (biji-bijian), yang lain membawa beras, yang lain membawa jelai (gandum kasar), dan yang lain membawa gandum biasa. Kemudian Nabi Nuh berkata:
“Masaklah semuanya bersama-sama, karena kalian telah diberi keselamatan.”
Dari peristiwa itu, kaum Muslimin kemudian menjadikan makanan dari berbagai jenis biji-bijian sebagai hidangan khas. Itulah makanan pertama yang dimasak di muka bumi setelah peristiwa banjir besar (topan). Dan hal itu pun dijadikan sebagai kebiasaan di setiap hari ‘Āsyūrā’.
Puasa Tasu’a (Tanggal 9 Muharram)
Puasa Tasu’a adalah puasa sunnah di hari kesembilan pada bulan Muharram. Imam Nawawi dalam kitab Nihayatu az-Zain menjelaskan:
(و) الثَّالِث صَوْم يَوْم (تاسوعاء) وَهُوَ تَاسِع الْمحرم لِأَنَّهُ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ لَئِن عِشْت إِلَى قَابل لأصومن التَّاسِع والعاشر فَقبض صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من عَامه
(Dan) yang ketiga adalah puasa hari Tāsū‘ā’ (tanggal 9 Muharram), yaitu hari kesembilan bulan Muharram, karena Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluh. Namun Rasulullah ﷺ wafat pada tahun itu juga (sebelum sempat melaksanakannya).
Puasa Tasu’a (tanggal 9 Muharram) dilakukan oleh Rasulullah dalam rangka menyelisihi puasanya orang Yahudi Ahli Kitab. Dimana Yahudi hanya berpuasa sehari saja pada 10 Muharram atau Asyura.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
وعن ابن عباس، قال: «حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ، قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ».
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang Yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan (puasa tasu’a)”. Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah diwafatkan” (HR. Al Bukhari)
عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ (رواه أحمد)
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dengan status marfu (Rasulullâh bersabda): ‘Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR. Ahmad)


