Hikmah Disunnahkannya Puasa Tasu’a
Berkaitan dengan disunahkannya puasa Tasu’a, Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzab mengatakan ada 3 hikmah berpuasa di hari Tasu’a.
(أَحَدُهَا) أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ عَلَى الْعَاشِرِ وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِي حَدِيثٍ رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
Pertama, Salah satu hikmahnya adalah bahwa maksud dari (anjuran puasa tanggal 9 Muharram) itu adalah untuk menyelisihi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh (‘Āsyūrā’) saja. Dan hal ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, serta terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Ibnu ‘Abbās.
Dari hadits tersebut dipahami untuk membedakan amaliah kaum Yahudi yang hanya puasa pada tanggal 10 Muharam atau Asyura saja. Sehingga disunahkan juga melakukan puasa pada hari sebelumnya yakni puasa tanggal 9 Muharam atau Tasu’a. Atau jika tidak puasa pada tanggal 9, disunahkan puasa pada hari setelahnya yakni tanggal 11 Muharam. Atau bahkan puasa 3 hari yakni tanggal 9, 10, dan 11 Muharam. Namun demikian, tidak menjadi masalah hanya puasa Asyura saja.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari:
والحكمة: مخالفة اليهود، ومن ثم سن لمن لم يصمه: صوم الحادي عشر، بل إن صامه، لخبر فيه. وفي الام: لا بأس أن يفرده
“Hikmah puasa Tasu‘a adalah menyelisihi amaliyah Yahudi. Dari sini kemudian muncul anjuran puasa hari 11 Muharam bagi mereka yang tidak berpuasa Tasu‘a. Puasa 11 Muharam tetap dianjurkan meski mereka sudah berpuasa Tasu‘a sesuai hadits Nabi saw (hadits di atas). Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm mengatakan: “Tidak masalah hanya puasa Asyura saja.”
(الثَّانِي) أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ وَصْلُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بِصَوْمٍ كَمَا نهى أن يصوما يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَحْدَهُ ذَكَرَهُمَا الْخَطَّابِيُّ وَآخَرُونَ
Kedua, Yang dimaksud dengan (anjuran puasa tanggal 9 Muharram) adalah menggabungkan puasa hari ‘Āsyūrā’ (10 Muharram) dengan hari lain, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jumat sendirian (tanpa digabungkan dengan hari sebelum atau sesudahnya). Pendapat ini disebutkan oleh Al-Khaththabi dan ulama lainnya.
(الثَّالِثَ) الِاحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ خَشْيَةَ نَقْصِ الْهِلَالِ وَوُقُوعِ غَلَطٍ فَيَكُونُ التَّاسِعُ فِي الْعَدَدِ هُوَ الْعَاشِرُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ
Ketiga, Melaksanakan puasa hari kesembilan (Tāsū‘ā’) sebagai bentuk kehati-hatian dalam berpuasa pada hari kesepuluh (‘Āsyūrā’), karena dikhawatirkan hilal (bulan sabit awal bulan) berkurang atau terjadi kesalahan dalam perhitungan, sehingga hari kesembilan menurut hitungan ternyata adalah hari kesepuluh yang sebenarnya.
Amalan-amalan di hari Asyura
وَنقل عَن بعض الأفاضل أَن الْأَعْمَال فِي يَوْم عَاشُورَاء اثْنَا عشر عملا الصَّلَاة وَالْأولَى أَن تكون صَلَاة التَّسْبِيح وَالصَّوْم وَالصَّدَََقَة والتوسعة على الْعِيَال والاغتسال وزيارة الْعَالم الصَّالح وعيادة الْمَرِيض وَمسح رَأس الْيَتِيم والاكتحال وتقليم الْأَظْفَار وَقِرَاءَة سُورَة الْإِخْلَاص ألف مرّة وصلَة الرَّحِم وَقد وَردت الْأَحَادِيث فِي الصَّوْم والتوسعة على الْعِيَال وَأما غَيرهمَا فَلم يرد فِي الْأَحَادِيث
Dan diriwayatkan dari sebagian orang-orang mulia bahwa amalan-amalan di hari ‘Āsyūrā’ ada dua belas perkara, yaitu:
(1). Sholat, dan yang paling utama adalah sholat tasbih. (2). Puasa (3). Bersedekah (4). Memberi keleluasaan nafkah kepada keluarga (seperti dengan memberi nafkah lebih dari hari-hari biasanya) (5). Mandi (6). Mengunjungi orang ‘alim yang solih (7). Menjenguk orang sakit (8). Mengusap kepala anak yatim (9). Bercelak (memakai celak mata) (10). Memotong kuku (11). Membaca Surah Al-Ikhlāsh seribu kali (12). Menyambung tali silaturahim.
Akan tetapi, dari semua itu, yang terdapat dalam hadis hanyalah amalan puasa dan melapangkan nafkah kepada keluarga. Sedangkan amalan-amalan lainnya tidak disebutkan dalam hadis.
قَالَ وَحَاصِلُهُ أَنَّ مَا وَرَدَ مِنْ فِعْلِ عَشْرِ خِصَالٍ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ لَمْ يَصِحَّ فِيْهَا إِلَّا حَدِيْثُ الصِّيَامِ وَالتَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ وَأَمَّا بَاقِي الْخِصَالِ الثَّمَانِيَةِ فَمِنْهَا مَا هُوَ ضَعِيْفٌ وَمِنْهَا مَا هُوَ مُنْكَرٌ مَوْضُوْعٌ
Mengenai amalan di atas Al-Allamah Al Ajhuri berkata:
“Walhasil, apa yang diriwayatkan berupa amalan sepuluh macam pada hari Asyura tidak ada yang shahih kecuali hadits berpuasa dan memberi kelonggaran atas keluarga. Adapun yang lainnya ada yang dhaif. Munkar dan maudhu’.”
wallahu a’lam


