إِنْ لَمْ تُحْسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ وَصْفِهِ حَسِّنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ. فَهَلْ عَوَّدَكَ إِلَّا حُسْنًا؟ وَهَلْ أَسْدَى إِلَيْكَ إِلَّا مِنَنًا؟

“Bila kamu tidak berbaik sangka kepada Allah karena sifat (rahmat)-Nya, maka baik sangkalah karena perlakuan-Nya kepadamu. Tidakkah Allah telah membiasakanmu kecuali pada kebaikan? Dan Tidakkah Allah telah memberimu kecuali berbagai anugerah-Nya?”

       “Dzon” (Prasangka) berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Dzon dibagi menjadi dua, pertama dzon yang mengarah pada yang positif atau disebut juga dengan husnudzan dan yang kedua dzon yang mengarah pada yang negative atau disebut juga dengan suudzan. Seseorang yang berhusnudzon (Prasangka yang baik) akan menghasilkan pada sesuatu yang baik pula karena husnudzon itu menenangkan hati, mensehatkan tubuh, dan bikin awet muda. sedangkan suudzon itu sebaliknya: bikin gerah, tegang, kesal dan bikin jantungan. Selain menyehatkan husnudzon merupakan salah satu cara beribadah yang baik kepada Allah dan mungkin mudah, karena kita hanya perlu mengarahkan pikiran kita terhadap sesuatu yang baik atas takdir yang Allah berikan pada kita. seperti sabda Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam

إِنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللهِ مِنْ حُسْنِ عِبادَةِ اللهِ. (رواه أحمد والترمذي والحاكم. صحيح)

“Sungguh berprasangka baik kepada Allah termasuk ibadah yang baik kepada-Nya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Shahih)

       Sebagai hamba kita seharusnya selalu berhusnudzon pada Allah, Sebab Allahlah yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta, berhusnudzon kepada Allah SWT artinya selalu menyadari bahwa ketetapan yang kita terima dari Allah SWT adalah ketetapan terbaik yang sudah Dia pilihkan, karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. 

        Berprasangka baik pada Allah SWT sangat penting untuk perjalanan hidup kita. Sebab, Allah SWT akan melakukan hal yang sesuai dengan prasangka kita kepadaNya. Sebagaimana firmanya dalam hadits qudsi:

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى :أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ . ( رواه أحمد )

“Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR.Ahmad)

       Seseorang yang berhusnudzon dengan Allah dibagi menjadi dua yaitu Husnudzonnya orang khoas dan Husnudzonnya orang awam.

       Husnudzonnya orang khoas itu timbul dari pengetahuan mereka atas keindahan Allah dan melihat kesempurnaan-Nya, husnudzon mereka tidak akan pernah terputus karena sifat Allah yang berupa pemberi rahmat, pemurah, penyayang dll tidak akan pernah terputus maka jika telah jelas keagungan  dan kekuasaan-Nya untuk manusia seperti nikmat maka mereka tahu tentang sempurnanya pemberian Allah dan luasnya rahmat-Nya dan mereka akan terus menerus husnudzon, sehingga takdir apapun yang Allah berikan kepadanya, baik itu menjadi nikmat ataupun cobaan tidak akan mengurangi sedikitpun terhadap husnudzonnya.

BACA JUGA :  HIKMAH 60 : Kehinaan adalah benih tamak

       Sedangkan husnudzonnya orang awam itu timbul dari pengetahuan mereka setelah hadir kebaikan Allah, baiknya perlakuan-Nya dan pemberian-Nya, sehingga ketika
mendapatkan ujian, cobaaan, dan musibah mereka akan melihat pengetahuan mereka atas kebaikan Allah, dan pemberian-Nya, kemudian mereka akan menimbang kebaikan Allah dan cobaan Allah. Maka mereka bisa saja ridho dan tetap berhusnudzon  atau kadang husnudzon mereka kepada Allah berkurang karena kurangnya angan-angan dan berfikir.

       Jadi perbedaanya adalah yang pertama yang timbul dari pengetahuan seseorang akan sifat-sifat Allah yang indah dan sempurna dan sifat-sifatnya itu tidak bisa berubah maka akan membuat mereka terus menerus husnudzon dan yang kedua itu timbul dari perlakuan Allah kepada mereka dan perlakuan itu bisa berubah maka penting bagi mereka untuk mengingat-ingat nikmat yang Allah telah berikan agar selalu bisa husnudzon.

       Seseorang yang tidak membiasakan husnudzon kepada Allah adalah salah satu keteledoran yang harus diingatkan dan diperbaiki karena manusia itu tidak mengetahui kapan dia akan meninggal, maka seharusnya dia selalu menjaga hatinya agar selalu berhusnudzon dan selalu mengingat Allah. seperti pesan Nabi Muhammad  shallAllahu ‘alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafatnya:

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلاثَةِ أَيَّامٍ يَقُوْلُ : ( لَا يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ ) رواه مسلم

“Sungguh janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dalam kondisi berbaik sangka
kepada Allah. (HR. Muslim.)

       Maka penting bagi kita untuk membiasakan husnudzon agar sifat husnudzon ini melekat pada tobiat (watak) kita dan membuat kita bisa berhusnudzon kepada Allah dan mahluk-Nya. dan seseorang yang tidak bisa berprasangka baik pada Allah bagaimana mungkin dia bisa berprasangka baik pada selainya karena hanya Dialah yang mempunyai sifat kamal.

Semoga kita bisa selalu membiasakan diri untuk berhusnudzon kepada Allah dan mahluk-Nya.

Artikulli paraprakPendalaman Materi Bab Laqith
Artikulli tjetërLebih Memahami Hukum Wahana-wahana Permainan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini