Dalil Sholat Rebu Wekasan

Adapun dalil spesifik yang membahas bala’ akan turun di mulai hari rabu akhir bulan Shofar tkami tidak menemukan dalam nash al-Qur’an maupun Hadist. Akan tetapi sangat masyhur di kalangan para wali dan ulama kabar mengenai turunnya bala’ semacam ini. begitu juga dengan pendapat Al-Maghfurlah KH. Maimoen Zubair. Beliau mengatakan: “Allah menurunkan bala’ agar supaya kita minta selamat kepada Allah, maka lakukanlah Shalat Hajat.”

Dari permulaan tentang berita akan turunnya bala’ tersebut, maka sholat Rebo Wekasan merupakan upaya kehati-hatian dan juga untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT. Akan tetapi, yang perlu diketahui bahwasanya dalam pelaksanaanya, sholat Rebo Wekasan ini harus sesuai dengan pedoman Syari’at. Adapun yang sering tidak diketahui oleh kebanyakan orang bahwasanya, dalam syari’at islam tidak pernah ada sholat Rebo Wekasan secara khusus. Artinya, apabila sholat tersebut dilakukan dengan niat sholat Rebo Wekasan secara khusus maka sholatnya tidak sah, bahkan bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri.

Lantas bagaimana seharusnya kita melaksanakan Sholat Rebo Wekasan? Syeikh Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur mengatakan; “Shalat sunnah empat raka’at, dimana setiap raka’at setelah Al-Fatihah membaca Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, surah Al-Ikhlash 5 kali, surah Al-Falaq dan Surah An-Naas masing- masing satu kali. Lalu setelah salam membaca doa. Dengan catatan sholat yang dilakukan diniati sholat sunnah mutlak atau li daf’il bala’ (tidak secara khusus niat sholat rebo wekasan), karena niat tersebut merupakan niat yang tidak di-i’tibar dalam syari’at. Adapun niat sholatnya adalah sebagai berikut;

نَوَيْتُ صَلاَةَ الحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلاَءِسُنَّةً لله تَعَالى  

Adapun Do’a setelah Sholat daf’il bala’ adalah sebagai berikut;

BACA JUGA :  Wali ?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى، يَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اللهُمَّ بِسِرِ الحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ، اكْفِنِي شَرَّ هذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِي فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ. وَحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِي الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

KH. Maimoen Zubair juga selalu melaksanakan sholat Rebo Wekasan beserta para santri di mushola PP. Al- Anwar semasa hidup beliau.

Begitu juga dengan tradisi-tradisi yang lain, asalkan tata caranya masih benar serta tidak bertentangan dengan syari’at, maka kita boleh melaksanakan amalan tersebut, bahkan dianjurkan. Seperti saat kita melaksanakan tradisi ngapem yang didalamnya mengandung sedekah. Sedangkan, sedekah sendiri merupakan suatu amalan penolak datangnya bala’.

Kemudian, mengenai bulan shafar itu sendiri sebenarnya merupakan bulan yang baik sebagaimana bulan-bulan yang lainnya. Maka untuk menghilangkan anggapan negatif terhadap bulan Shofar, Rosulullah SAW sering menyebutnya dengan shofarul khoir (bulan penuh kebaikan), dengan bukti Rasulullah SAW melakukan sejumlah aktivitas penting di bulan ini guna menggugurkan anggapan negatif orang-orang pada masa jahiliah.

 

1
2
Artikulli paraprakKUNJUNGAN SYAIKH YASIR AL-QADMANI
Artikulli tjetërNadwah Fiqhiyyah ke-49 PP. Al-Anwar 1 Sarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini