Lebih lanjut, beliau juga menceritakan sedikit kisah tentang Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair yang senantiasa tergerak hatinya ketika bertemu dengan orang-orang alim.

“Nate kawulo ndere’aken kyai Maimoen nalika haji wonten ing taun 2011. Nalika semanten kawulo ndere’aken kyai Maimoen haji wancinipun badhe kundhur Indonesia, beliau mireng bilih wonten salah setunggalipun kekasih beliau nggeh menika Syaikh Rojab sangking Syiria ingkang sering ziaroh wonten ing pondok menika. Pireng bilih beliau haji lan keleresan beliau nembe thowaf wonten ing masjidil haram wonten ing ka’bah. Niku kyai Maimoen mpun ndawuhi kulo, ‘ayo saiki berangkat nang gone Makkah, nang gone Masjid. Neng gone kono onok waline gusti Allah Syaikh Rojab’. Niki kyai Maimoen niku atine wes ngejak, padahal bis niku sampun badhe berangkat dateng Jeddah, badhe kundhur. Niku hubungi terus, telepon terus. ‘Ayo golekno’.” (Pernah saya menemani Kyai Maimoen ketika haji pada tahun 2011. Sewaktu itu saya menemani Kyai Maimoen haji sudah pada saat akan pulang ke Indonesia. Beliau mendengar bahwa terdapat salah satu kekasihnya, yakni Syaikh Rojab dari Syiria yang juga sering melakukan kunjungan ke pondok ini. (Kyai Maimoen) mendengar bahwa beliau sedang haji dan kebetulan sedang melaksanakan thowaf di Masjidil Haram, Ka’bah. Waktu itu Kyai Maimoen langsung mengatakan pada saya, ‘Ayo sekarang berangkat ke Makkah, ke Masjid. Di sana ada Waliyullah Syaikh Rojab’. Kyai Maimoen tersebut mengajak, padahal pada saat itu bis sudah hampir berangkat ke Jeddah. Segera pulang. Beliau menghubungi terus, menelpon terus. ‘Ayo Carikan’.)  Kenang beliau.

Acara diteruskan dengan Pembacaan Tahlil dan Kirim Do’a yang dipimpin oleh Syaikhuna KH. Muhammad Najih Maimoen dan ditutup dengan Mauidhoh Hasanah oleh Syaikhuna KH. Abdullah Ubab Maimoen dan Do’a yang dipimpin oleh KH. Zuhrul Anam.

BACA JUGA :  Pilar Kota Demak Kunjungi Al Anwar

Dalam mauidhohnya, beliau menyampaikan bahwa yang mampu diteruskan dari beliau-beliau adalah perjuangan-perjuangan mereka.

“Yang bisa diteruskan itu memang perjuangan-perjuangannya. Kalau hal-hal lain memang ada yang meneruskan ada yang tidak. Memang tidak bisa semua secara utuh disamakan, meniru semuanya itu memang sulit. Tapi bisa ditiru sedikit-sedikit.” Ungkap beliau

Lanjutnya, Beliau sedikit mengenang perjuangan Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair dahulu bahwa pada saat melakukan dakwah juga sempat dengan menaiki sepeda.

“Mbah Maimoen dulu ketika dakwah -Saya tahu sendiri- ke daerah Sedan dengan menaiki sepeda. Bahkan kadang-kadang diceritakan beliau pernah dikejar lampor. Sekarang sudah tidak ada lampor?. Lampor itu semacam hantu. Seperti api. Naik sepeda dikejar api itu kalau kita ya berat. Tapi Mbah Maimoen sabar dan alhamdulillah tidak apa-apa.” Kisah beliau.

Pada sekitar pukul 13.00 WIB, setelah melakukan sholat dzuhur berjama’ah. Para Alumni beserta masyarakat sekitar melakukan ziarah dan kirim do’a bersama di kompleks Maqbaroh Simpek yang pada kali ini dipimpin langsung oleh beliau Syaikhuna KH. Ahmad Wafi Maimoen. Acara ditutup dengan Mauidhoh Hasanah oleh Syaikhuna KH. Abdul Ghofur Maimoen.

1
2
Artikulli paraprakDauroh Ilmiyyah As-Sayyid Asy-Syaikh Ibrahim ibn Amin Ad-Dahibi Al-Jailani
Artikulli tjetërSENGKETA TANAH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini