Kisah Kedua

Satu hari Abu Darda’ datang bersama Salman menuju kaum Bani Laits. Mereka bermaksud untuk melamar seorang gadis di sana untuk Salman. Abu Darda’ sebagai juru bicara pihak Salman al-Farisi menyampaikan maksud kedatangan mereka melamar. Sementara Abu darda’ masuk ke dalam rumah, Salman menunggu di luar.

Abu Darda’ menceritakan sifat-sifat baik Salman kepada kelurga itu. Jawaban yang diajukan oleh Bani Laits sungguh mengejutkan, “Kami tak berkeinginan menikahkan anak kami dengan Salman, kami ingin menikahkannya denganmu”. Pernikahan yang awalnya diinginkan oleh Salman al-Farisi justru menjadi pernikahan Abu Darda’.

Abu Darda’ keluar, beliau malu menceritakan apa yang terjadi di dalam kepada Salman al-Farisi. “Aku malu menceritakan kejadian di dalam kepadamu,” kata Abu Darda’. Salman al-Farisi seketika bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”. Abu Darda’ menceritakan kejadian di dalam dengan malu. “Aku yang seharusnya lebih malu,” Salman al-Farisi berkomentar. “Aku melamar gadis padahal Allah sudah memutuskan gadis itu menjadi pasanganmu”.

Hikmah

Islam mengatur umatnya dengan tiga instrumen: akidah, syari’ah serta akhlak tashawuf. Akidah mengatur keyakinan muslimin tentang realitas. Syari’at mengatur sikap-sikap umat muslim. Dan Akhlak Tashawuf mengatur etika dan jiwa kaum muslimin. Salman al-Farisi memberi contoh kepada kita bagaimana ia memainkan tiga instrumen ini dengan indah.

Secara akidah, muslim diajari keyakinan bahwa jodoh adalah takdir Allah. Berdasarkan syari’ah, umat muslim diatur untuk berdamai. Secara akhlak, muslim diatur untuk menerima keadaan yang ada. Salman al-Farisi menjadikan akidah yang ia yakini, di mana jodoh adalah takdir Allah untuk semakin merajut perdamaian dengan Abu darda’ dan merelakan keadaan yang ada saat itu.

Dalam kasus yang berbeda, ketiga instrumen itu sering dijadikan pembenaran atas hawa nafsu. Semisal demikian: secara akidah, rejeki dan makanan adalah takdir. Secara syari’ah, orang kaya wajib untuk membayar zakat. Dan orang kikir yang enggan menunaikan kewajiban zakatnya akan berdalih, “Makan itu sudah tanggung jawab Allah. Meskipun saya tidak zakat, kamu tetap akan makan”. Dan masih banyak contoh-contoh yang membenturkan satu instrumen Islam dengan instrumen yang lainnya.

BACA JUGA :  Tidur

Kata Bijak

إن الله تعالى إذا أراد بعبد شرّا أو هلكة نزع منه الحياء فلم تلقه إلا مقيتا ممقتا، فإذا كان مقيتا ممقتا نزعت عنه الرحمة فلم تلقه إلا فظا غليظا، فإذا كان كذلك نزعت من الأمانة فلم تلقه إلا خائنا مخونا فإذا كان كذلك نزعت عن ربقة الإسلام من عنقه فكان لعينا ملعنا.

Sesungguhnya jika Allah Ta’ala menghendaki keburukan atau kehancuran terhadap seorang hamba, maka akan hilang rasa malu darinya, dan kamu tidak mendapatinya kecuali (ia dalam keadaan) dibenci dan memuakkan.

Andai itu yang terjadi, maka tercabut darinya rasa kasih sayang, dan kamu tidak menemuinya kecuali (ia dalam keadaan) kasar dan keras hati.

Jika demikian, sifat amanahnya terlucuti, dan kamu tidak menganggapnya apa-apa selain pengkhianat yang terkhianati.

Jika dia seperti itu, maka ikatan Islam akan tercabut dari lehernya, dan dia akan terkutuk dan terlaknat.

Penulis: Ust. Ahmad Maimun Nafis, S.Ag.

1
2
Artikulli paraprakJiwa Kepahlawanan Santri Menuju Indonesia Emas 2045
Artikulli tjetërGetok Harga & Biaya Jasa, Konsumen Merasa Tertipu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini