Mauidzoh Hasanah
Selanjutnya, Mauidzoh Hasanah dan Doa sebagai acara inti. Pada acara kali ini Syakhina KH. Abdul Rouf Maimoen. Dalam mauidzohnya, beliau dawuh: Beliau syakhina KH. Maimoen Zubair sebagai muassis pondok al-Anwar ini, yang pertama kali beliau bangun bukan pondok, tapi pembangunan musholla oleh ayah beliau KH. Zubair Dahlan, yakni mushola kecil pondok yang menjadi warisan dari KH. Zubair Dahlan, kemudian diwariskan oleh syakhina KH. Maimoen Zubair, karena memiliki prinsip bahwa banguanan pondok iku donyo (dunia) yang akhirat adalah ngajarnya. Beliau sampai akhir tidak membagun pondok kecuali kalau santrinya sudah ada, dan itu terpaksa, karena memilki angggapan bahwa pondok itu dunia, buktinya banyak yang bertengkar gara-gara pondok. Menunjukkan bahwa dunia itu adalah bangunan pondok.
Awal tahun 1967/1968 yang mondok di pasantren al-Anwar adalah mertua syakhina KH. Abdul Rouf Maimoen, beliau adalah Kyai Imam (Lirboyo) waktu turun dari bus jurusan surabaya-sarang, saat turun di Sarang Mbah Zubair berada pas di dekat bus dimana Kyai Imam turun. Sehigga beliau mengarahkan Kyai Imam untuk datang ke pondok sini.
Cerita Awal Pondok Pesantren
Kyai Imam pernah bercerita: beliau dulu di al-Anwar membuat sendiri gotaan (tempat kitab, baju) sendiri, membuat kamar sendiri, jadi dulu belum ada kamar. Beliau membuat gotaan di sekitar muholla, dan mushola ini yang kita tempati dekatnya ada sumur dan tempat mandi, dan sekarang sumurnya masih ada dan tertutup oleh Kayu tipis (Papan) dan masih berfungsi, seperti sumur yang berada di ndalem syakhina KH. Ahmad Wafi maimoen meskipun di dalam rumah beliau, beliau tidak menutupnya, karena mbah moen itu anti menutup sumur meskipum di tempat tersebut terdapat bangunan.
Ketika syakhina KH. Maimoen Zubair mondok di Lirboyo, suatu saat beliau berziarah ke makam Wali Wasil Setono Gedong (Kediri), berjalan bersama tiga orang temannya, saat pulang beliau bertemu dengan Rijalul Ghoib atau Nabi Khidir. tapi orang itu aneh, memakai sarung dengan cara nyangklongno (mengalungkan), saat berjalan kesana bertemu orang tersebut, saat berjalan ke tempat lain bertemu orang tersebut, lalu syakhina KH Maimoen Zubair mendatangi orang tersebut dan memberi salam serta bertanya dari mana asalnya, lalu beliau menjawab mengucapkan salam, dan tidak mau menyebutkan beliau berasal dari mana. Saya mendapat perintah untuk bertemu denganmu, untuk menyampaikan tiga hal:
- Pertama, Kalau berdoa kirim al-fatihah jangan ke para wali yang sudah dhohir (terkenal) saja, tapi ke para wali yang ghoib (gak ketok/tidak terkenal) juga dikirim al-fatihah
- Kedua, Punjere (pusat) wali songo itu adalah Sunan Bonang
- Ketiga, kamu akan menemui orang belajar islam memakai tulisan latin (gedrik)


