Belajar Bertahun-Tahun, Tapi Mengapa Ilmu Tak Berkah? Banyak orang beranggapan bahwa tujuan paling puncak dari sekolah, kuliah, atau mondok adalah untuk mendapatkan ijazah, meraih pekerjaan bergaji tinggi, atau dihormati di tengah masyarakat. Pernahkah kalian melihat seseorang yang bertahun-tahun menghabiskan waktunya di bangku pendidikan, namun ketika terjun ke masyarakat justru ilmunya tidak membawa ketenangan, atau malah digunakan untuk membodohi dan memanipulasi orang lain? Problem ini sebenarnya berakar pada satu titik krusial yang sering kali disepelekan pada detik-detik awal keberangkatan: yakni masalah niat.

Niat Sebagai Penentu Nilai Sebuah Amal

    Dalam kajian kitab Ta’limul Muta’allim kali ini, kita akan membahas secara mendalam bagaimana Syekh Az-Zarnuji meletakkan fondasi spiritual paling mendasar bagi seorang penuntut ilmu, yaitu seni menata niat.

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُورَةِ عَمَلِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يَصِيرُ بِحُسْنِ النِّيَّةِ مِنْ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ، وَكَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُورَةِ عَمَلِ الْآخِرَةِ ثُمَّ يَصِيرُ مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوءِ النِّيَّةِ

Artinya: “Berapa banyak amalan yang tergambar dalam bentuk amalan duniawi, kemudian berubah menjadi amalan ukhrawi karena baiknya niat. Dan berapa banyak amalan yang tergambar dalam bentuk amalan ukhrawi, lantas berubah menjadi amalan duniawi karena buruknya niat.”

    Ibarot di atas memberikan ketegasan logis kepada kita tentang konsep “transformasi nilai amal”. Mengaji, duduk di kelas mendengarkan guru, atau menghafal berbagai macam disiplin keilmuan secara zahir adalah aktivitas duniawi yang biasa saja. Namun, ia bisa melesat menjadi ibadah agung jika digerakkan oleh niat yang benar. Sebaliknya, seseorang yang duduk di saf terdepan pengajian tafsir, namun hatinya berbisik ingin dipuji sebagai orang saleh, maka amalan akhirat itu hangus tak bersisa menjadi debu duniawi.

BACA JUGA :  Bolehkah Berdiri Saat Mahallul Qiyam (Berdiri Saat Pembacaan Maulid )?

Lima Orientasi Niat Seorang Penuntut Ilmu

    Syekh Az-Zarnuji kemudian menggariskan kriteria niat yang sah bagi seorang muta’allim. Beliau memerinci lima orientasi utama, yakni: (1) mencari rida Allah dan kebahagiaan akhirat, (2) menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, (3) menghidupkan agama, (4) melestarikan Islam, serta (5) mensyukuri nikmat akal dan sehatnya badan. Mengapa kriteria “menghilangkan kebodohan” dan “melestarikan Islam” ini begitu ditekankan? Karena redaksi kitab melanjutkan:

1
2
3
Artikulli paraprakBisakah Suami atau Istri Digugat Cerai Karena Zina, Judi, atau Mabuk?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini