Pernahkah kalian merasa berada di jalan buntu saat masalah hidup datang bertubi-tubi tanpa ada tanda-tanda jalan keluar? Tenang saja, Sebesar apapun masalahmu, beban yang kamu rasakan tidak akan melebihi beban yang diterima oleh para nabi terdahulu. Diusir, dimusuhi, dihina bahkan hendak dibunuh oleh umatnya sendiri adalah hal yang harus ditanggung oleh mereka.

Tak terbayang jika cobaan yang dirasakan oleh para nabi dilimpahkan kepada manusia seperti kita. Manusia biasa yang selalu mengeluh dengan secuil masalah yang menimpa. Bahkan, banyak yang mencoba mengakhiri hidup di dunia hanya karena putus cinta. Padahal masih banyak hal indah lain yang seharusnya mereka syukuri saat hidup di dunia yang fana ini.

Dalam kajian kitab salaf kali ini, kita akan membahas keteguhan jiwa melalui keteladanan Nabi Musa alaihissalam. Melalui kacamata para ulama klasik, kita akan menguliti bagaimana sang Kalimullah mengendalikan batinnya di tengah himpitan ujian yang teramat berat, agar kita bisa merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mukjizat Laut Terbelah di Laut Merah

Bayangkan posisi Nabi Musa saat itu: di depan membentang samudra luas yang dalam, sementara di belakang terdengar deru ribuan tentara Firaun yang siap membantai mereka. Secara logika manusiawi, situasi tersebut adalah akhir dari segalanya. Bahkan pengikut beliau, kaum Bani Israil, sudah berteriak ketakutan karena merasa pasti akan tertangkap. Namun, Nabi Musa menampilkan sebuah kriteria keteguhan iman yang berada pada level tertinggi melalui ucapan beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Artinya: “Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’” (QS. Asy-Syu‘ara: 62)

Dari sinilah kemudian Allah menampakkan mukjizat laut terbelah, sebuah kejadian luar biasa yang menjadi jalan keselamatan bagi Nabi Musa dan Bani Israil sekaligus bukti kehancuran bagi Firaun dan pasukannya.

BACA JUGA :  ISLAM DAN EKONOMI

Ibnu Jarir at-Thobari dalam kitabnya Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an menjelaskan ayat diatas :

(فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ) أي للنجاة، وقد وعدني ذلك، ولا خُلف لموعوده.

تفسير الطبري جامع البيان – ط دار التربية والتراث ١٩/‏٣٥٦ — ابن جرير الطبري (ت ٣١٠)

Artinya : “Ketika kedua kelompok saling berhadapan, para pengikut Musa berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’. Namun Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku’ yakni menuju jalan keselamatan. Allah telah menjanjikan hal itu kepadaku, dan janji-Nya tidak mungkin diingkari.”

Redaksi tersebut khususnya kata kalla (sekali-kali tidak) merupakan penegasan iman yang menolak segala bentuk keputusasaan. Dan pada saat tersedak itu, Nabi Musa tetap ingat pada janji Allah dan yakin bahwa Allah tidak akan mengingkari janjinya. Janji tersebut adalah jalan keselamatan bagi Nabi Musa dan kaumnya.

Ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa tatkala semua pintu bumi tertutup rapat, pintu langit selalu terbuka lebar bagi mereka yang menggantungkan harapannya secara mutlak kepada Allah.

1
2
3
Artikulli paraprakILQOUL MAWA’IDZ MEMPERINGATI TAHUN BARU ISLAM 1448 H. DI PP AL-ANWAR 1 SARANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini