Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Abbas tentang ayat diatas :

قال ابن عباس: سار موسى من مصر إلى مدين ليس له طعام إلا البقل وورق الشجر، وكان حافيا، فما وصل إلى مدين حتى سقطت نعل قدميه، وجلس في الظل وهو صفوة الله من خلقه، وإن بطنه للاصق بظهره من الجوع، وإن خضرة البقل لترى من داخل جوفه، وإنه لمحتاج إلى شق تمرة

تفسير ابن كثير – ط العلمية ٦/‏٢٠٤ — ابن كثير (ت ٧٧٤)

Artinya : “Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: ‘Musa berjalan dari Mesir menuju Madyan tanpa memiliki makanan selain tumbuh-tumbuhan dan dedaunan pohon. Ia berjalan tanpa alas kaki. Ketika sampai di Madyan, kedua sandal kakinya telah rusak dan terlepas. Lalu ia duduk di bawah naungan, padahal ia adalah manusia pilihan Allah di antara seluruh makhluk-Nya. Sungguh, karena dahsyatnya rasa lapar, perutnya sampai menempel pada punggungnya. Bahkan warna hijau tumbuh-tumbuhan yang dimakannya tampak dari balik perutnya. Dan ketika itu, ia benar-benar membutuhkan bahkan hanya separuh butir kurma.’”

Ibarot di atas menunjukkan bahwa keteguhan jiwa mustahil mekar dalam hati yang terbelenggu oleh kemewahan duniawi. Pengalaman pahit di Madyan menyucikan jiwa Nabi Musa dari ketergantungan pada materi. Kriteria manusia tangguh adalah mereka yang tidak didefinisikan oleh apa yang mereka miliki, sehingga ketika dunia diambil dari tangan mereka, keteguhan hati mereka tidak sedikit pun goyah.

Penutup

Kesimpulan yang kita dapat dari pembahasan panjang ini adalah bahwa keteguhan jiwa yang dimiliki oleh Nabi Musa alaihissalam bukanlah hasil dari kekuatan fisik atau kekuasaan materi, melainkan bersumber dari kepasrahan mutlak yang ditopang oleh fondasi tauhid yang murni. Meneladani kepasrahan aktif beliau di depan bentangan Laut Merah, kerelaan batinnya untuk menurunkan ego saat belajar kepada Nabi Khidir, serta kesederhanaan hidupnya di tanah Madyan adalah kunci bagi kita untuk membangun benteng spiritual yang tangguh. Tanpa adanya keteguhan batin yang kokoh, kita akan senantiasa menjadi budak dari ketakutan-ketakutan duniawi yang semu.

BACA JUGA :  Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura di Bulan Muharram

Wallahua’lam..

1
2
3
Artikulli paraprakILQOUL MAWA’IDZ MEMPERINGATI TAHUN BARU ISLAM 1448 H. DI PP AL-ANWAR 1 SARANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini