Rebo Wekasan, Ketahui 6 Hal Ini!

Saat mendengar kata ‘Rebo Wekasan’ mungkin kebanyakan orang sudah sangat familiar. Lalu apa itu Rebo Wekasan? Bagaimana asal-usul & sejarahnya? Apa saja amalan Rebo Wekasan? Bagaimana pendapat Ulama Fiqih mengenai hal ini?  Apakah bid’ah? Peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada hari itu?.

Rebo Wekasan atau Rabu terakhir bulan Shafar adalah hal yang sering sekali bahkan sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jawa. Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan hari penuh kesialan dan bala.

Pembahasan mengenai Rebo Wekasan memang tak pernah absen tiap tahunnya. Ada 6 hal yang selalu jadi topik utama dalam pembahasan topik kali ini yakni; pengistilahan Rebo Wekasan, sejarah & asal-usulnya, amalan-amalan, pandangan para Ulama, dihukumi bid’ah atau tidaknya, dalilnya, dan peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada hari Rabu terakhir pada bulan Shafar itu.

Apa Itu Rebo Wekasan?

Rebo Wekasan atau ada juga yang menyebutnya dengan Rabu Pungkasan yang berarti Rabu yang memungkasi bulan Shafar dalam kalender Hijriyah menurut orang Jawa.

Pada hari ini diyakini Allah menurunkan seluruh bala pada satu tahun dari lauhul mahfudz menuju langit dunia. Ulama berpendapat bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Shafar tersebut Allah menurunkan sekitar 320.000 bala.

Berbeda halnya dengan orang Jawa, orang Aceh, khususnya Aceh bagian barat daya, mereka mempunyai istilah mereka sendiri untuk menyebut Rebo Wekasan yakni Rabu Abeh

Beberapa daerah di Indonesia memiliki berbagai tradisi turun temurun pada saat hari tersebut. Masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura misalnya, mereka memiliki tradisi Sedekah Tajin Safar.

Sedekah Tajin Safar oleh masyarakat Kabupaten Sumenep ini memiliki tujuan mencari berkah dan keselamatan dari berbagai macam bala dan bahaya pada saat Rebo Wekasan. Sedekah ini adalah kudapan yang mereka bagikan kepada tetangga ataupun orang-orang terdekat, terutama Kyai di sekitarnya.

Rabu Abeh, sebutan istilah Rebo Wekasan bagi masyarakat Aceh memiliki tradisi yang mereka sebut dengan Makmegang. Adalah seorang Teungku, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat masyarakat Aceh melakukan ritual Makmegang di tepi pantai dengan berdoa bersama.

Asal-usul & Sejarah

Wali Songo adalah pencetus istilah Rebo Wekasan pertama kali di tanah Jawa yang dengan landas kitab-kitab turats. Wali Songo memodifikasi tradisi tolak bala masyarakat Jawa dengan ajaran Ulama salaf sebagai bentuk menolak bala dan penyakit yang mereka yakini turun pada hari tersebut.

Ada pendapat lain yang menyebutkan tradisi tolak bala pada hari tersebut sudah ada sejak abad 17 di Sumatera, Aceh, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Sampai saat ini, tradisi-tradisi itu masih dilaksanakan setiap tahunnya di Indonesia oleh sebagian umat Islam.

Amalan-amalan

Ada beberapa amalan penting pada hari tersebut. Amalan yang familiar pada hari itu adalah mengerjakan sholat sunnah mutlak berjamaah dan doa bersama setelahnya.

Adalah Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi pengarang kitab Mujarrobat Ad-Dairobi yang pertama kali menganjurkan amalan-amalan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar.

Kemudian anjuran serupa dilanjutkan oleh pengarang kitab Jawahir al-Khumus Syekh Muhammad bin Khathiruddin al-‘Atthar (w. 970 H) dan banyak kitab-kitab lainnya yang membahas mengenai amalan Rebo Wekasan.

Amalan pada hari Rabu terakhir ini tidak akan lepas meliputi hal-hal berikut ini; Pertama, Shalat hajat dengan maksud untuk menolak bala. Kedua, Berdoa dengan bacaan yang telah kewarid dari para Ulama. Ketiga, minum air suwukan (air doa). Keempat, berbuat kebajikan seperti bersedekah, silaturrahim, dan lain-lain.

  1. Maimoen Zubair pernah suatu ketika pada salah satu kesempatan kajian kitabnya menerangkan tentang amalan-amalan yang dianjurkan saat Rebo Wekasan

Simak penjelasan beliau:

Pendapat Ulama Fiqih

Pendapat para Ulama Fiqih mengenai hukum Rebo Wekasan

Mengenai Rebo Wekasan itu sendiri, para Ulama fikih tidak banyak yang menggunjingnya. Akan tetapi dalam konteks shalat dengan tujuan menolak bala, baru bisa ditemukan pembahasan dan perbedaan pendapat para Ulama fiqih mengenai hal ini.

BACA JUGA :  Fikih Islam dalam Dinamika Sosial; Sebuah Analisis Dalam Diskursus

Secara garis besar, pendapat para Ulama mengenai shalat Rebo Wekasan terbagi menjadi 3 kategori; Pertama pendapat longgar/ringan, Kedua pendapat ketat/berat, Ketiga pendapat moderat/sedang.

Baca juga: Shalat Rebo Wekasan

Pada intinya, tidak ada dalil yang secara jelas menyebutkan kesahihan shalat dengan niat Rebo Wekasan. Justru para Ulama memperbolehkan shalat dengan niat shalat sunnah mutlak atau shalat sunnah hajat.

Apakah Bid’ah?

Rebo Wekasan bukan tergolong bid'ah yang buruk

Bid’ah dalam istilah bahasa memiliki arti sesuatu yang muncul atau diprakarsai yang belum pernah ada sebelumnya. Sedangkan bid’ah dalam istilah syariat adalah sesuatu yang belum pernah ada di zaman Rasulullah SAW.

Mengenai pengertian bid’ah secara istilah syariat, Imam Syafi’i membaginya menjadi 2 kategori; Bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk. Bid’ah yang masih dalam koridor syariat masuk dalam kategori bid’ah yang baik, sedangkan bid’ah yang menyimpang dari ajaran syariat masuk dalam kategori bid’ah yang buruk.

Baca juga: Rebo Wekasan Bid’ah atau Tidak?

Alhasil, segala jenis tradisi masyarakat Indonesia tentang Rebo Wekasan masuk dalam kategori bid’ah yang buruk jika hanya memandangnya dari pengertian bid’ah secara etimologis saja. Sebagian orang terlalu mudah mengatakan bid’ah hanya dengan dalih amalan-amalan itu tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad SAW.

Padahal para Ulama, khususnya Wali Songo, telah memodifikasi tradisi-tradisi Rebo Wekasan yang tanpa berlandaskan syariat dan syirik menjadi tradisi dengan nafas islami dengan landasan dalil yang jelas.

Peristiwa-peristiwa yang Terjadi pada Rabu Terakhir bulan Shafar

Jauh sebelum ada istilah Rebo Wekasan, orang-orang Jahiliyah sudah mengenal bahkan telah menganggap bahwa hari Rabu terakhir bulan Shafar membawa kesialan. Yang menjadi masalah adalah, hari Rabu terakhir bulan Shafar yang membawa kesialan hanyalah asumsi mereka belaka.

Lebih parahnya lagi, bukan hanya Rabu terakhir bulan Shafar saja yang mereka asumsikan membawa kesialan, bahkan setiap hari Rabu terakhir di setiap bulan juga mereka anggap sebagai hari pembawa kesialan.

Kemudian sang cahaya di atas cahaya datang menerangi kebodohan yang menyelimuti kehampaan hati orang-orang jahiliyah yang gelap akan dosa dan ketidaktahuan, beliau Rasulullah SAW.

Bahkan sebelum beliau mendapat wahyu sebagai rasul pamungkas, beliau enggan mengikuti tradisi orang-orang jahiliyah, termasuk tradisi Rabu terakhir bulan Shafar itu.

Rasulullah SAW justru menggelar acara pernikahannya dengan Ummil Mukminin Sayyidah Khadijah al-Kubro pada hari Rabu terakhir bulan Shafar seakan menentang dan menyimpang ajaran kaum jahiliyah yang mengatakan hari itu adalah hari berkumpulnya bala, penyakit, dan kesialan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga menikahkan putri semata wayangnya, Sayyidah Fatimah, dengan Sayyidina Ali RA pada hari Rabu tersebut seperti keterangan Habib Abu Bakar al-Adni dalam nadhamnya yang secara eksklusif membahas hari Rabu terakhir bulan Shafar.

Habib Abu Bakar al-Adni juga menyebutkan beberapa peristiwa penting lain yang juga terjadi pada hari Rabu tersebut, antara lain; Hijrah Baginda SAW dan bermalam di Gua Tsur, Perang Abwa, perang Khaibar, dan peristiwa-peristiwa lain yang bernilai positif.

Simak Nadham Habib Abu Bakar al-Adni:

Kesimpulan & Penutup

Pada dasarnya, Rebo Wekasan tidak melulu memiliki stigma negatif seperti keyakinan orang-orang jahiliyah. Meskipun demikian, penjelasan Ulama ahli kasyaf (Ulama yang telah dibukakan tabir-tabir gaib) juga tidak salah, memandang para Ulama juga menganjurkan berbagai amalan pada hari tersebut.

Perjuangan Wali Songo dalam menyisipkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam tradisi masyarakat Jawa kuno juga menjadi bukti kebenaran dan sebagai pendukung bahwa hal tersebut nyata adanya. 

Akan tetapi para Ulama pasti mengembalikan segala hal kepada Allah SWT. Beliau juga meyakini bahwa  segala penyakit dan obatnya hanyalah dari Allah. Tidak ada hari atau waktu yang membawa kesialan.

Wallahu A’lam..

Artikulli paraprakSHOFARUL KHOIR DAN RABU WEKASAN
Artikulli tjetërRasulullah SAW Hamba Yang Istimewa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini