Perjalanan Bersama Nabi Khidir

Keteguhan seorang hamba tidak hanya diuji lewat ancaman fisik luar seperti kekejaman Firaun, tetapi juga melalui ujian internal untuk menundukkan ego intelektual. Hal ini terlihat jelas ketika Nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepada Nabi Khidir alaihissalam, sebagaimana terekam dalam ayat berikut:

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya: Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66)

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali mengulas kisah ini dalam sub-bab tentang riyadhatun nafs yang artinya pelatihan jiwa. Beliau menjelaskan bahwa ego sering kali menjadi penghalang terbesar manusia untuk bersikap tenang dan teguh.

Sebagai seorang rasul besar yang bergelar Kalimullah (orang yang berbicara langsung dengan Allah), Nabi Musa dengan penuh kerendahan hati rela berjalan jauh demi menuntut ilmu dari seorang yang baru ia temui. Dan hal tersebut Nabi Musa lakukan karena keyakinan bahwa dirinya adalah manusia yang paling alim saat itu runtuh, ketika Allah mengabarkan bahwa ada manusia lain yang lebih alim darinya.

Ini mengisyaratkan bahwa salah satu kriteria utama untuk memperoleh keteguhan batin adalah kerendahan hati untuk tunduk pada ketetapan-ketetapan Allah yang belum bisa dicerna oleh nalar kita yang terbatas. Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu mempertanyakan takdir dan akhirnya kehilangan keteguhan iman.

Kesederhanaan Jiwa di Madyan

Sebelum memikul mandat besar membebaskan Bani Israil, batin Nabi Musa terlebih dahulu ditempa dalam sunyinya kehidupan gurun di Madyan. Melarikan diri dari kejaran tentara Mesir tanpa bekal. Beliau yang awalnya hidup di istana yang bergelimang kemewahan menjadi seorang yang tidak memiliki apapun kecuali apa yang ia kenakan. Di tengah rasa lapar dan letih setelah menelong kedua putri Nabi Syuaib beliau berdoa:

BACA JUGA :  Fikih Islam dalam Dinamika Sosial; Sebuah Analisis Dalam Diskursus

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

1
2
3
Artikulli paraprakILQOUL MAWA’IDZ MEMPERINGATI TAHUN BARU ISLAM 1448 H. DI PP AL-ANWAR 1 SARANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini