اَللّٰهُمَّ إِلَّا إِذَا طَلَبَ الْجَاهَ لِلْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَتَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَإِعْزَازِ الدِّينِ لَا لِنَفْسِهِ وَهَوَاهُ
Artinya: “Kecuali apabila ia mencari kedudukan/pangkat demi menegakkan amar makruf nahi mungkar, menjalankan kebenaran, dan memuliakan agama; bukan demi kepentingan diri dan hawa nafsunya semata.”
Kriteria kebolehan mengejar status sosial di sini dikunci rapat: pangkat tersebut wajib diposisikan sebagai wasilah atau alat juang, bukan sebagai ghoyah atau tujuan akhir guna memuaskan ego.
Menjaga Martabat Ilmu dengan Tawadhu’
Sebagai penyeimbang, pada bagian akhir fasal ini Syekh Az-Zarnuji mengingatkan agar para penuntut ilmu tidak merendahkan martabat dirinya demi kepentingan dunia. Seorang alim dituntut bersikap tawadhu’, yakni menempatkan diri pada posisi yang seimbang: tidak terjerumus ke dalam kesombongan, tetapi juga tidak merendahkan diri hingga menghinakan kehormatan ilmu yang diembannya.
Dalam konteks inilah Imam Abu Hanifah pernah berpesan kepada para muridnya, “Besarkanlah serban kalian dan lebarkanlah lengan baju kalian.” Ungkapan tersebut tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk bermegah-megahan dalam berpakaian, melainkan sebagai strategi menjaga kewibawaan ilmu di tengah masyarakat. Pada masa itu, penampilan lahiriah sering kali menjadi tolok ukur penghormatan seseorang. Karena itu, Imam Abu Hanifah menganjurkan para penuntut ilmu untuk berpenampilan pantas dan berwibawa agar ilmu yang mereka bawa tidak diremehkan oleh masyarakat awam yang kerap menilai kemuliaan seseorang dari penampilan fisiknya.
Penutup: Menaklukkan Hati Lebih Sulit daripada Menaklukkan Buku
Kesimpulan yang kita dapat dari pemaparan Syekh Az-Zarnuji di atas adalah bahwa ilmu terlalu mahal dan terlalu suci untuk ditukar dengan recehan popularitas serta kedudukan fana. Memperbaiki niat di awal belajar sama halnya dengan memasang fondasi beton pada sebuah gedung pencakar langit. Jika fondasinya miring sentimeter saja di bawah, maka semakin tinggi ilmu itu menjulang, akan semakin fatal potensi keruntuhannya. Oleh karena itu, tugas paling berat bagi seorang penuntut ilmu bukanlah menaklukkan tumpukan buku, melainkan menaklukkan arah kompas hatinya sendiri setiap kali matahari terbit.
Wallahua’lam..


