Pertama, Tsunami di Pandeglang, Banten dan Lampung Selatan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas telah mencapai 430 orang, 1.495 luka-luka, 159 hilang dan 21.991 orang mengungsi. Kedua, Gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa tersebut berkekuatan 7,4 SR dan disusul dengan tsunami. Selain tsunami, gempa akibat aktivitas sesar Palu Koro tersebut mengakibatkan Likuifaksi di Balaroa. Data yang dilaporkan oleh BNPB sebanyak 2.101 orang meninggal dunia, 4.438 orang luka-luka dan 221.450 orang mengungsi. Ketiga, Gempa di Lombok. Kawasan Lombok dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7 SR. korban yang tewas akibat bencana tersebut sebanyak 564 orang, korban luka-luka 1.886 orang dan korban mengungsi 11.510 orang.

Polemik Bencana Nasional, Antara Azab Dan Faktor Alam ?

                Maraknya bencana yang melanda penjuru negeri akhir-akhir ini membuat respon masyarakat terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang mengatakan bahwa bencana ini adalah fenomena alam biasa tanpa perlu disangkut pautkan dengan ajaran agama atau teguran dari Tuhan. Kedua, kelompok yang mengatakan bahwa bencana adalah tindakan Tuhan untuk menghukum manusia yang lalai dari ajarannya. Tampaknya sulit bagi kedua kelompok ini bertemu dalam satu titik sepakat sebab perbedaan paradigma yang saling bertolak belakang. Namun, sebenarnya hal ini dapat digabungkan menjadi suatu pemahaman yang komprehensif. 

              Di lansir dari CNN Indonesia dan situs NU Online, secara ilmiah, Indonesia adalah wilayah rawan gempa sebab beberapa faktor; Pertama, Indonesia berada di wilayah Cincin Api Pasifik sehingga membuat negara ini menjadi ladang gempa bumi.  Sekitar 90% gempa bumi terjadi pada lokasi cincin Api ini. Kedua, Sabuk Alpide yang melewati Indonesia juga menyumbang potensi gempa. Ketiga, posisi Indonesia berada tepat di tengah tumbukan lempeng tektonik tiga benua, yaitu Pasifik di arah timur, Indo-Australia di arah selatan dan Eurasia di utara. Menurut teori ilmiah, pergerakan lempeng tektonik inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa dan tsunami. Satu faktor di atas sudah cukup untuk menjadikan suatu kawasan sebagai wilayah rawan gempa, dan kebetulan Indonesia memiliki tiga faktor sekaligus.

              Selain Indonesia, Jepang pun menjadi salah satu negara yang sering mengalami gempa dan tsunami. Negara ini pun seperti Indonesia, dilewati oleh lempeng tektonik yakni Eurasia dan Pasific. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), Jepang dan Indonesia menjadi negara yang paling sering mengalami gempa bumi.

              Dengan melihat fakta ilmiah ini, terlihat bahwa bencana yang terjadi di Indonesia seperti gempa bumi dan tsunami adalah hal wajar dan sama sekali tak berhubungan dengan kejadian apa pun yang dilakukan manusia. Senada dengan kajian ilmiah ini, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Mahfud MD Melalui akun Twitternya pada Minggu (23/12) mengatakan: “Innaa lillaah wa innaa ilaihi raji’un, kita berduka atas musibah tsunami di Anyer. Kepada semua korban, tanpa membedakan asal usulnya, kita doakan semoga mendapat tempat yg baik di sisi-Nya. Tsunami adl sunnatullah bekerjanya alam yg bisa menimpa siapa saja. Jgn buru2 bilang, bencana alam spt tsunami itu adzab Allah krn kita bnyk dosa. Bilang bgt tdk tepat krn bnyk orng baik dari berbagai komunitas yg tdk jahat yg jg jd korban. Selain itu kesimpulan spt itu menafikan sifat kasih sayang Allah. Tsunami adl sunnatullah bekerjanya alam. Betul. Sy sampaikan itu krn yg dulu (spt bencana Palu, NTB) dikontroversikan scr politik. Yg satu bilang adzab, yg lain bilang ujian. Pd-hal korbannya bercampur2 aliran politiknya dan banyak org baiknya. Allah maha pengasih, tak mungkin mengadzab dgn membabi buta. Itu sunnatullah. Yg penting, apakah itu adzab, ujian, atau ibrah maka solusinya sama, yakni bertaqwa kpd Allah SWT”.

              Beliau menilai bencana tsunami di Selat Sunda merupakan Sunnatullah atau hukum alam yang bisa menimpa siapa saja. Untuk itu, Beliau meminta agar bencana tsunami tidak buru-buru disebut sebagai azab Allah karena masyarakat banyak dosa. Menurut Beliau, tidak tepat jika tsunami dinilai sebagai azab karena banyaknya dosa. Hal ini karena banyak komunitas yang bukan orang jahat juga menjadi korban tsunami.

                Adapun sebagian masyarakat menganggap bahwa bencana yang selama ini menimpa tanah air Indonesia masih berkaitan dengan masalah agama. Orang-orang percaya itu merupakan azab, sebuah peringatan dan hukuman dari Tuhan seperti hanya yang pernah menimpa kaumnya para nabi-nabi terdahulu. Kaum Nabi Nuh ditimpa azab banjir bandang, kaum Nabi Sholeh ditimpa gempa bumi dan suara lengkingan keras, kaumnya Nabi Hud dengan angin topan dan kaumnya Nabi Luth dengan bumi yang dibalik, yang asalnya di atas menjadi di bawah disertai turunnya hujan batu sijjil dari langit.

              Sebagian masyarakat menganggap bahwa azab itu turun karena kemaksiatan yang merajalela di tengah-tengah masyarakat. Seperti kemaksiatan yang terjadi sebelum gempa yang mengguncang kota Palu, Sulawesi Tengah. Mengutip dari laman CNN Indonesia.com, sebelum terjadinya gempa pada tanggal 28 September 2018, Pemerintah kota Palu menggelar Ritual Balia yang dibungkus dalam Festival Palu Nomoni. Ritual Balia biasanya dilakukan oleh masyarakat adat yang percaya api dapat mengusir penyakit dengan cara memanggil arwah disertai mantra dan memberikan sesajen pada setiap prosesi yang kadang memakan waktu tujuh hari, tujuh malam tersebut. Sejarawan dari Universitas Tadulako, Andriansyah Mahid, menjelaskan bahwa ritual Balia kerap dilaksanakan sebelum agama Islam masuk ke Sulawesi Tengah. Menurutnya, ritual itu dilakukan karena masyarakat suku Kaili masih menganut animisme dan dinamisme kala itu sehingga masih percaya pada kekuatan roh nenek moyang. Dia juga menuturkan, ritual Balia diselenggarakan untuk mengharapkan perlindungan roh nenek moyang atau tempat yang dianggap keramat. Ritual ini biasanya diselenggarakan ketika ditemukan warga atau masyarakat yang tak kunjung sembuh dari penyakit yang diderita atau penyakit karena gangguan kekuatan supranatural. Menurut dua warga kota Palu, Mudar dan Iki mengatakan sejak diselenggarakan secara rutin setiap tahun mulai 2016, Palu Nomoni senantiasa menghadirkan peristiwa alam. Pada 2016, terjadi gempa di daerah Bora dan Sigi Biromaru. Kemudian, pada 2017, terjadi angin kencang dan hujan deras di Talise. Sedangkan pada 2018, terjadi gempa dan tsunami yang melanda tiga wilayah sekaligus.

BACA JUGA :  Tak Kenal Maka Tak Sayang, Ta'arufan PP Al-Anwar

              Melansir dari laman Kompasiana.com, Sebelum datangnya tsunami pada tahun 2004, kemaksiatan di tengah masyarakat Aceh semakin merajalela, Aceh juga dilanda konflik berkepanjangan. Menurut catatan Kontras Aceh.com, sepanjang tahun 2000, sedikitnya 1.632 orang menjadi korban kekerasan, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan penculikan. Sedangkan pada tahun 2001 berdasarkan laporan Kantor Perwakilan Komnas HAM Aceh tercatat 1.542 orang tewas, 1.017 orang luka-luka dan 817 orang hilang secara paksa, ditahan, diculik.

              Sejak tahun 2000-2003, perundingan antara pemerintah pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Swedia gagal menemui kata mufakat dan penyelesaian. Kemudian pemerintah pusat melalui Keppres No.28 Tahun 2003 menetapkan seluruh Provinsi Aceh dalam keadaan bahaya dengan status Darurat Militer. Sejak saat itu, konflik Aceh terus “bernyawa” hingga gempa dan tsunami menerjang daratan Aceh pada Minggu pagi 26 Desember 2004. Tsunami yang puncak tertingginya mencapai 30 m (98 kaki) telah menewaskan lebih dari 230.000 orang di 14 negara dan menenggelamkan banyak permukiman tepi pantai. Hal ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Indonesia adalah negara yang terkena dampak paling besar, diikuti Sri Lanka, India, dan Thailand.

Bencana Nasional Dalam Perspektif Islam

                Di dalam al-Qur’an dijelaskan terjadinya musibah atau bencana alam di antaranya adalah akibat dari perbuatan manusia yang melakukan kemaksiatan. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

(Q.S. Ar-Rum: 41)

                Mengomentari ayat di atas, Syaikh Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Syuyuti, dalam Tafsir al-Jalalain, mengatakan bahwa kerusakan yang timbul di darat seperti tanah yang tandus dan pepohonan yang sedikit akibat tertahannya hujan dan kerusakan di laut -beliau tafsiri dengan daerah yang diatasnya mengalir sungai-sungai- dengan sedikitnya air sungai adalah akibat perbuatan manusia yang melakukan tindakan kemaksiatan. Hal itu bertujuan supaya manusia bisa merasakan akibat yang mereka perbuat agar segera bertaubat kepada Allah SWT. Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)”

(Q.S. As-Syuro: 30)

              Datangnya musibah pada ayat di atas juga ditafsiri oleh Beliau karena kemaksiatan yang diperbuat oleh manusia, namun dalam ayat ini dijelaskan oleh Beliau bahwa musibah yang menimpa kaum muslimin yang tidak melakukan perbuatan dosa merupakan bentuk ujian untuk mengangkat derajat mereka di akhirat.

              Sependapat dengan Imam Suyuthi, Syaikh Maimoen Zubair dalam kitabnya, Tsunami, fi Biladina Indonesia Ahuwa Azabun am Musibatun menjelaskan bahwa turunnya ayat Kauniah berupa bencana merupakan azab bagi orang-orang yang berbuat dosa, dan sebagai rahmat, cobaan dan teguran bagi orang-orang mukmin yang shaleh.

              Menurut Beliau, ayat yang diturunkan Allah SWT kepada manusia ada dua macam, Pertama, ayat Sama’iyyah yang hanya bisa diangan-angan oleh orang-orang alim (Ulu al-Albab). Kedua, ayat Kauniah yang bisa dilihat dan dirasakan oleh seluruh manusia. Ayat sama’iyyah sendiri diturunkan oleh Allah kepada orang-orang alim untuk menakut-nakuti mereka supaya mereka bisa mengambil pelajaran dari ayat tersebut. Sedangkan bagi orang yang tingkat kepekaan dan kefahamannya di bawah orang-orang alim justru ayat sama’iyyah ini akan menambah kedurhakaan mereka kepada Allah SWT dan semakin membuat mereka menjauh darinya. Oleh sebab itu, ayat kauniah diturunkan kepada manusia seperti ini sebagai rahmat agar mereka yang tidak cukup hanya diberi isyarat dan ibarat merasa tergugah untuk intropeksi diri. Jika mereka membenahi diri mereka dan mengambil pelajaran dari Sunnah-sunah Allah tersebut, mereka akan dibalas dengan kebaikan dan dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah SWT. Namun jika mereka masih terus menerus mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Allah tersebut, maka Allah maha kuasa dan akan menindak mereka sesuai kehendaknya.

              Beliau melanjutkan bahwa mulanya azab diturunkan oleh Allah SWT untuk orang-orang yang berbuat kemaksiatan, namun kemudian azab (bencana) itu menimpa orang-orang shaleh karena ketika siksaan/azab turun pada suatu daerah, maka ia akan mengenai seluruhnya kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah. Beliau mengutip pendapatnya Imam Ibnu Hajar al-Haitami, bahwa ketika Allah menurunkan kekuasaannya (bencana) pada penduduk yang didalamnya terdapat orang-orang shaleh, maka mereka sama-sama mendapat dampak dari bencana tersebut dan nantinya akan dibangkitkan menurut niat dan amal-amal perbuatan mereka.

              Beliau juga berpesan kepada umat Islam untuk intropeksi dan membersihkan diri mereka dari segala perbuatan tercela, bertaubat dan beristigfar kepada Allah SWT dengan meninggalkan kemaksiatan, membulatkan tekad tidak akan mengulangi perbuatan maksiat,  menyesali perbuatan yang pernah ia lakukan, meminta maaf kepada manusia yang telah dizaliminya dan memohon maaf kepada Allah SWT. Mereka juga wajib mengetahui bahwasannya bencana dan musibah yang Allah SWT turunkan adalah sebab perbuatan maksiat yang mereka lakukan, membangkang atas perintah-perintah Allah dan tidak mengikuti manhaj shohih (jalan lurus) yang dilalui oleh para ulama’ dimana mereka telah diangkat dan dimuliakan Allah SWT sebagai pewaris para Nabi.

              Kesimpulannya, Perdebatan antara agama dan sains selalu menyisakan ruang abu-abu yang tidak bisa diklaim sebagai kebenaran mutlak. Walaupun sains unggul dalam pengujian dan pembuktian, sains juga memiliki kekurangan pada tahap tertentu. Pada kasus gempa bumi, hingga hari ini belum ada satu pun teknologi yang mampu secara akurat memprediksi kapan terjadinya gempa, hanya bisa diukur kekuatannya dan manajemen terhadap dampaknya.

              Menurut KH. Muhammad Najih Maimoen dalam bukunya, Peran dan Posisi Wanita Dalam Islam; Perbincangan Feminisme dan Kritik Bias Gender, Beliau berpendapat bahwa mengedepankan rasio, sains dan ilmu teknologi sebagai standar untuk menentukan segala hal masih kalah jauh dengan Islam yang berkomitmen terhadap syari’at sebagai ukuran paten dalam bersikap dan bertindak. Hal ini dibuktikan bahwa ilmu teknologi atau sains tidak bisa menjangkau masalah ruh yang hanya diketahui oleh Allah SWT semata.

Artikulli paraprakHiggs Domino Island
Artikulli tjetërAs-Saairun dan Al-Washilun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini