Syaikhina Abdul Ghofur Maimoen juga mengingatkan bahwa sesuatu yang besar tidak mungkin dilaksanakan seorang diri. Dibutuhkan musyawarah dan keterlibatan banyak orang. Beliau kemudian mengambil pelajaran dari perjuangan Rasulullah Saw. yang membangun kader-kader di sekelilingnya.

“Sesuatu yang besar tidak bisa dilaksanakan sendirian, harus ada musyawarahnya dengan banyak orang, makanya Nabi membangun kader-kader, punya santri sahabat Abu Bakar, Sayyidina Umar Bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali, karena yang hendak dibangun ini besar sekali dan itu butuh terhadap penerus-penerus yang dapat menyambung ajaran Nabi Muhammad Saw sampai ke bawah.”

    Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa para santri Mbah Maimoen memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita besar yang telah dibangun oleh beliau. Cita-cita tersebut tidak boleh berhenti pada satu generasi, tetapi harus terus dilanjutkan oleh para santri dan putra-putra beliau.

“Kita percaya bahwa Mbah Maimoen punya cita-cita besar, dan itu tidak boleh berhenti di Mbah Maimoen, tapi kita semua sebagai santri dan putra-putra Beliau harus memiliki keinginan untuk meneruskan dan keinginan untuk menyumbang terhadap sesuatu yang besar yang ingin dibangun oleh Mbah Maimoen.”

    Beliau juga berpesan agar para santri Mbah Maimoen yang tersebar di berbagai daerah dapat terus menyebarkan kebaikan sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing.

“Santrinya Mbah Maimoen banyak, dari ujung timur sampai ujung barat, semoga ikut menyebarkan kebaikan-kebaikan dengan caranya sendiri (sesuai keadaan masing-masing).”

Ngaji Bareng HIMMA (Abda’u Bihi/AWR Media)

    Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan seorang santri dengan gurunya tidak berhenti ketika ia meninggalkan pesantren. Ajaran, nilai, dan kebaikan yang telah diterima selama menjadi santri diharapkan dapat terus dibawa dan disebarkan di tengah masyarakat.

BACA JUGA :  Semarak Idul Adha di PP. Al-Anwar 1 Sarang

KH. Amirul Wildan: Menjaga Ta’alluq dan Murobathah dengan Masyayikh

    Acara keenam dilanjutkan dengan sambutan atas nama alumni yang disampaikan oleh KH. Amirul Wildan dari Jepara.

    Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada putra-putra Mbah Moen yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta taujihat kepada para alumni.

    Beliau juga menceritakan pengalaman pribadi beliau bersama Syaikhina Maimoen Zubair. Dalam ceritanya, beliau menggambarkan sosok Mbah Moen sebagai seorang guru yang sangat perhatian kepada santri-santrinya.

Ngaji Bareng HIMMA (Abda’u Bihi/AWR Media)

    Selain itu, beliau berdoa agar para alumni dan santri senantiasa dapat menjaga ta’alluq mereka kepada para masyayikh. Beliau berharap agar para alumni dan santri diakui oleh Syaikhina Maimoen sebagai santrinya, baik di dunia maupun di akhirat.

    Beliau juga berdoa agar seluruh santri dan alumni dapat menjaga murobathah terhadap Syaikhina, sehingga dapat dengan mudah mengikuti harokah dan manhaj Syaikhina Maimoen Zubair.

    Pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi para alumni bahwa hubungan dengan guru bukan hanya hubungan keilmuan, tetapi juga hubungan batin dan keberlanjutan perjuangan. Menjaga hubungan dengan guru diharapkan dapat menjadi jalan bagi seorang santri untuk terus berada dalam bimbingan dan mengikuti perjuangan yang telah diwariskan oleh para masyayikh.

1
2
3
4
5
6
Artikulli paraprakMAULIDIYYAH & HARLAH KE-60 PP. AL-ANWAR 1 SARANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini