Cerita tersebut terangkum dalam sebuah syair:

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُهُ

لِلْحَفِيْظِ شَمْسِ الدِّيْنِ مُحَمَّدٍ نَاصِرِ الدِّيْنِ الدِّمَشْقِيُّ

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُهُ

بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيْمِ مُخَلَّدًا

أتى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا

يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا

فما الظَنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِيْ طُوْلَ عُمْرِهِ

بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدًا

 

Habib Alwi bersyukur atas taufik yang Allah SWT berikan kepada kita sehingga menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Beliau menyebutkan ini sebagai nikmat terbesar, bahkan nikmat yang sangat di inginkan oleh Nabi Musa AS. Meskipun Nabi Musa AS meminta untuk menjadi umat Nabi Muhammad, Allah SWT justru memberinya gelar Kalimullah dan memintanya untuk bersyukur.

Beliau menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang istimewa. Salah satu keistimewaannya adalah Nabi Muhammad SAW pernah memohon kepada Allah SWT agar umatnya yang berbuat salah di selesaikan siksanya di dunia, seperti dengan kesulitan yang menimpa mereka. Hal ini menjadi kafarat agar mereka tidak mendapat siksa di akhirat.

Sumber: Liputan Dauroh Ilmiyyah bersama Fadillah al-Syaikh al-Alim al-Alamah al-Habib Alwi Bin Haddad Balfaqih Tarim di Mushola PP al-Anwar 1 sarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA :  Pesan Masyayikh untuk Santri Al-Anwar Sebelum Liburan
1
2
3
Artikulli paraprakMEMAKNAI KEMERDEKAAN SEBAGAI BENTUK RASA SYUKUR
Artikulli tjetërSholawat dan Istigosah dalam Rangka HUT RI ke-80 di Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini