Mirip Kasus Getok Harga & Biaya Jasa

Hal tersebut sesuai dengan kasus yang ada di dalam kitab Nihayatuzzain mengenai seorang pemilik kain yang menyerahkan kainnya kepada penjahit agar dibuat menjadi kemeja tapi justru penjahit membuatnya menjadi gamis. Maka pemilik kain tidak berkewajiban membayar biaya menjahit karena penjahit melakukan pekerjaan yang tidak sesuai izin. Dan penjahit justru berkewajiban membayar ganti rugi atas kerusakan kain tersebut.

نهاية الزين (ص: 261)

فرع : لو أعطى المالك للخياط ثوبا ليخيطه بعد قطع الخياط إياه فخاطه قباء وقال أمرتني بقطعه قباء, فقال المالك بل أمرتك بقطعه قميصا صدق المالك بيمينه. لأنه المصدق في أصل الإذن. فكذا في صفته فيحلف أنه ما أذن في قطعه قباء. ولا أجرة عليه إذا حلف. وعلى الخياط أرش نقص الثوب.

Imam Ghozali menuturkan di dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin bahwa sebagian ulama mengatakan: “Jika seseorang menjual suatu barang seharga satu dirham, padahal jika dia membeli barang tersebut dia hanya akan membeli dengan harga lima daniq (5/6 dirham) maka dia telah meninggalkan nasihat yang diperintahkan di dalam transaksi.” Artinya seorang penjual atau penyedia layanan jasa tidak boleh mematok harga yang tidak sesuai dengan harga pasar.

Menurut beliau ada empat prinsip yang bersifat penting di dalam transaksi, yaitu:

  1. Tidak memuji barang dagangan dengan kelebihan yang tidak ada pada barang tersebut
  2. Tidak menyembunyikan kecacatan barang tersebut
  3. Tidak menyembunyikan ukuran dan timbangan
  4. Tidak menyembunyikan harga yang seandainya pembeli mengetahuinya maka dia tidak akan membelinya.

إحياء علوم الدين (2/ 75)

قال بعضهم من باع أخاه شيئا بدرهم وليس يصلح له لو اشتراه لنفسه إلا بخمسة دوانق فإنه قد ترك النصح المأمور به في المعاملة. ولم يحب لأخيه ما يحب لنفسه هذه جملته. فأما تفصيله ففي أربعة أمور أَنْ لَا يُثْنِيَ عَلَى السِّلْعَةِ بِمَا لَيْسَ فيها. وأن لا يكتم من عيوبها وخفايا صفاتها شيئاً أصلاً, وأن لا يكتم في وزنها ومقدارها شيئاً, وأن لا يكتم من سعرها ما لو عرفه المعامل لامتنع عنه.

BACA JUGA :  Hukum Melupakan Hafalan Al Qur'an Dalam Kacamata Fiqh

Beliau juga menuturkan bahawa seorang pembeli hendaknya tidak meminta harga yang terlalu rendah terhadap penjual. Bahkan jika penjual termasuk masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi rendah hendaknya seorang pembeli rela memberi harga yang tinggi meskipun menurutnya harga tersebut tidak sesuai harga pasar. Karena tindakan tersebut termasuk prinsip musamahah (toleransi) di dalam transaksi yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

إحياء علوم الدين (2/ 80)

الثَّانِي فِي احْتِمَالِ الْغَبْنِ وَالْمُشْتَرِي إِنِ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ ضَعِيفٍ أَوْ شَيْئًا مِنْ فَقِيرٍ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَحْتَمِلَ الْغَبْنَ وَيَتَسَاهَلَ وَيَكُونَ به محسناً وداخلاً في قوله صلى الله عليه وسلم رحم الله امرءا سهل البيع سهل الشراء.

Di sisi lain, melakukan transaksi fasid sebagaimana kasus di atas merupakan bentuk ta’athi bil ‘uqud al fasidah (menerjang transaksi yang tidak sah) yang dilarang syariat. Bahkan di dalam kitab Az-Zawajir,  Imam Ibnu Hajar al-Haitami menuturkan bahwa melakukan transaksi fasid termasuk perbuatan dosa besar. Karena transaksi fasid sebagaimana kasus di atas mengandung unsur penipuan dan pengelabuhan yang berujung pada pengambilan hak orang lain dengan cara yang dilarang syariat (Akhdzul maal bil baathil).

الزواجر عن اقتراف الكبائر (1/ 383)

الْكَبِيرَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّمَانُونَ بَعْدَ الْمِائَةِ أَكْلُ الْمَالِ بِالْبُيُوعَاتِ الْفَاسِدَةِ.ِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ} [النساء: 29] وَاخْتَلَفُوا فِي الْمُرَادِ بِهِ، -الى أن قال- وَقِيلَ: هُوَ الْعُقُودُ الْفَاسِدَةُ، وَالْوَجْهُ قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ إنَّهَا مُحْكَمَةٌ مَا نُسِخَتْ وَلَا تُنْسَخُ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ اهـ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْأَكْلَ بِالْبَاطِلِ يَشْمَلُ كُلَّ مَأْخُوذٍ بِغَيْرِ حَقٍّ سَوَاءٌ كَانَ عَلَى جِهَةِ الظُّلْمِ كَالْغَصْبِ وَالْخِيَانَةِ وَالسَّرِقَةِ، أَوْ الْهُزْؤِ وَاللَّعِبِ كَالْمَأْخُوذَةِ بِالْقِمَارِ وَالْمَلَاهِي وَسَيَأْتِي ذَلِكَ كُلُّهُ، أَوْ عَلَى جِهَةِ الْمَكْرِ وَالْخَدِيعَةِ كَالْمَأْخُوذَةِ بِعَقْدٍ فَاسِدٍ

1
2
3
Artikulli paraprakSahabat Salman al-Farisi r.a.
Artikulli tjetërIjtihad, Kajian, dan Analisis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini