Dalam Mau‘idzah Hasanahnya, Syaikhina K.H. Muhammad Najih Maimoen mewanti-wanti para santri agar senantiasa menjaga diri dari godaan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai bentuk kemaksiatan baik itu motifnya hobi, ideologi melenceng, atau aliran yang menyesatkan. Untuk menegaskan pesan tersebut, beliau mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:
عن أبي محمد عبد الله بن عمرو بن العاص قال: قال رسول الله ﷺ: (لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعًا لما جئت به) .
Dari Abi Muhammad Abdillah Bin A’mr Bin A’sh Berkata: Bahwasanya Nabi Muhammad Saw berkata: “Seseorang belum mencapai kesempurnaan iman sampai keinginan dan kecenderungannya tunduk kepada ajaran yang kubawa.”
Dalam mau‘idzohnya, beliau turut menyampaikan salah satu dawuh yang selaras dengan dawuhnya Ayahanda beliau, Syaikhina K.H. Maimoen Zubair, sebagai nasihat bagi para santri. Dawuh tersebut berbunyi:
على العاقل أن يكون عرفا بزمانه حافظا بلسانه مقبلا على شأنه
“Seseorang yang Cerdas harus mengetahui eranya, Menjaga lisannya Menghadapi urusannya”.
Beliau memberikan catatan bahwa yang dimaksud dengan mengikuti zaman adalah mampu beradaptasi dengan perkembangan yang ada selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Adapun apabila suatu tren, kebiasaan, atau perubahan zaman bertentangan dengan nilai-nilai syariat, maka seorang santri tidak boleh terbawa arus dan tetap harus berpegang teguh pada ajaran agama.
“Kito kudu nduwe prinsip, komitmen, identitas, ora kudu bengok-bengok.” Tegas Beliau.
Beliau, Syaikhina K.H. Muhammad Najih Maimoen pernah mendengar kakak dari K.H. Anwar Mansyur (Lirboyo) berkata:
“Filosofi santri itu seperti paku.”
Artinya, seorang santri harus siap ditempatkan di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Ia tetap bermanfaat, kokoh menjalankan tugasnya, serta mengabdi dengan ikhlas, meskipun tanpa menyandang jabatan, pangkat, atau kedudukan tertentu.


