Makna Historis dan Kontekstual Hari Santri
Tema Hari Santri Nasional 2023 “Jihad Santri Jayakan Negeri” ini dapat bermakna secara historis dan kontekstual. Secara historis, tema itu mengingatkan bahwa para santri memiliki andil besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika tidak karena pengaruh dan perjuangan Ulama, Kiai, dan Santri maka patriotisme bangsa Indonesia tidak akan sehebat seperti yang diperlihatkan oleh sejarahnya sehingga mencapai sebuah kemerdekaan.
Adapun secara kontekstual, tema tersebut menegaskan bahwa santri terus berkontribusi aktif dalam memajukan negeri. Bahwa makna jihad secara kontekstual tidak selalu identik dengan berperang angkat senjata. “Jihad santri secara kontekstual adalah jihad intelektual, di mana para santri adalah para pejuang dalam melawan kebodohan dan ketertinggalan. Santri juga harus mampu berkontribusi mencerdaskan bangsa. Indonesia saat ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu melawan dan mengusir penjajah. Namun, juga membutuhkan generasi emas yang mampu memberantas kebodohan.
Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan:
أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المعْنَوِيَّةِ وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا
“Sesungguhnya belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan. Kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad dan mempertahankan tanah air, juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata) dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasanya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)


