BAGAIMANA AJARAN NABI KETIKA MEMASUKI MAKAM?
Ajaran yang dicontohkan Nabi untuk ummatnya ketika memasuki makam yaitu memberi salam dan berdialog dengan penghuni kubur.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا .صحيح مسلم (1/ 218)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: “Semoga keselamatan terlimpahkan atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, ” sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita.” (HR. Muslim Juz 1 hlm. 218 No. 249)
Dalam pandangan Ibnu al-Qayyim, ungkapan di atas ditujukan untuk orang yang mendengar dan berakal. Seandainya tidak demikian (tidak adanya alam kubur) berarti ungkapan ini sama dengan berbicara dengan obyek yang tidak ada dan benda mati.

APAKAH MAYIT BISA MENDENGAR DAN MENGENAL?
Terdapat banyak hadits dan atsar yang saling menguatkan yang menetapkan bahwa mayit bisa mendengar dan mengenal. Baik ia mayit mukmin atau mayit kafir.
Salah satunya adalah hadits al-Qulaib yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim melalui jalur yang bervariasi dari Abu Thalhah, Umar, dan ‘Abdullah bin Umar,
“Sesungguhnya Nabi SAW menyuruh mengubur 24 lelaki pembesar Quraisy. Mereka dimasukkan ke dalam salah satu lembah yang terdapat di Badar. Lalu beliau memanggil nama-nama mereka, “Wahai Abu Jahl bin Hisyam! Wahai Umayyah bin Khalaf! Wahai ‘Utbah bin Rabi’ah! Wahai Syaibah bin Rabi’ah! Wahai fulan bin fulan! Apakah kalian tidak mendapati janji Tuhan kalian terhadap kalian itu benar? Karena aku sungguh telah mendapati janji Tuhanku terhadapku itu benar adanya.”
Umar bin Khatthab bertanya, “Wahai Rasulullah! Bukankah jasad-jasad tak bernyawa tidak bisa berbicara?” “Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya. Kalian tidak lebih mampu mendengar ucapanku daripada mereka. Namun mereka tidak mampu menjawab,” jawab Nabi.”
Syaikh Al-Islam Al-Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Fataawaa Al-Kubraa berfatwa mengenai topik ini.
Ketika ditanya mengenai orang-orang yang masih hidup jika berziarah kepada orang-orang mati. Apakah mereka ini mengetahui orang-orang yang masih hidup menziarahi mereka? Dan apakah mereka mengetahui jika ada anggota keluarganya atau orang lain yang mati?
Ibnu Taimiyyah menjawab, “Alhamdulillah. Betul mereka mengetahui. Dalam beberapa atsar dijelaskan bahwa mereka saling bertemu dan saling bertanya dan amal perbuatan orang-orang yang masih hidup disampaikan kepada mereka. Sebagaimana riwayat Ibnu Al-Mubarak dari Abu Ayyub Al-Anshari.”
Adapun bukti bahwa mayit mengenal orang hidup yang menziarahi kuburnya maka terdapat dalam haditsnya Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: Tidak seorang pun yang melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dikenalnya semasa di dunia lalu ia memberi salam kepada saudaranya itu kecuali saudaranya tersebut mengenalnya dan membalas salamnya.”
Ibnu Al-Mubarak mengatakan bahwa hadits ini terbukti dari Nabi dan dikategorikan shahih oleh ‘Abdu Al-Haqq penyusun Al-Ahkaam. (Majmuu’u Al-Fataawaa Al-Syaikh Ibnu Taimiiyah vol. XXIV hlm. 331).
Demikianlah Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menjelaskan beberapa hal mengenai alam barzakh. Dengan penjelasan di atas kita menjadi yakin bahwa alam kubur dan siksa kubur itu nyata, bukan imajinasi belaka.
Sebelum memasukinya, kita haruslah mempersiapkan bekal berupa amal baik selama masih hidup di dunia. Bertaubat dari segala kesalahan dengan sebenar-benarnya taubat.
اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ, وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ, وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari buruknya fitnah Dajjal yang terhapus dari rahmat Allah.”
Disarikan dari kitab Mafahimu Yajibu An-Tushohhaha karya Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki


