Puasa Tarwiyah
Selain puasa arafah di tanggal 9 Dzulhijjah kita juga mendapat anjuran untuk melakukan puasa tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah. Kesunnahan tersebut bersumber dari beberapa hadits berikut;
Hadits riwayat dari Ibnu Abbas;
صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ
“Puasa hari Tarwiyah penghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah penghapus dosa dua tahun.”
Dalam hadits lain;
مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ
“Siapa yang puasa 10 hari (Dzulhijjah), maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah, seperti puasa dua tahun.”
Hanya saja para ulama banyak yang melemahkan hadits ini, seperti Al-Imam As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Imam Ibnul Jauzi (w. 597 H), Al-Imam Al-Munawi (w. 1031 H), Al-Imam Asy- Syaukani (w. 1250 H), dan lainnya.
Meski haditsnya dha’if, tapi Puasa Tarwiyah mendapat dukungan dari hadis lain yang shahih tentang anjuran memperbanyak amal saleh termasuk puasa. Sehingga menjadi boleh. Terlebih lagi, para ulama membolehkan beramal dengan hadits dha’if untuk fadhail a’mal (keutamaan amalan).
Hadits tersebut yaitu;
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ. يَعْنِي أَيَّامُ الْعُشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Nabi bersabda, “Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini.” Lantas para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid).” (HR. Al-Bukhari)
Hukum Puasa Tarwiyah Menurut Ulama Mazhab Syafiiyah
Banyak dari kalangan Ulama Mazhab Syafi’i yang menganjurkan untuk melakukan puasa tarwiyah.
Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) berkata,
وَيُسَنُّ أن يصوم معه الثمانية التي قبله وهو مراد المصنف بقوله: «وعشر ذي الحجة» لكن الثامن مطلوب من جهة الاحتياط لعرفة .
“Dan juga disunnahkan puasa 8 hari sebelum tanggal 9. Itulah yang mushonnif kehendaki dengan 10 hari bulan Dzulhijjah. Akan tetapi tanggal 8 dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap hari Arafah.” –(Minhaju al-Qowim Syarah Muqoddimah al-Hadromiyah, hlm 262)
Asy-Syaikh Bakri Syatha Ad-Dimyathi (w. 1310 H) berkata,
(والأحوط صوم الثامن) أي لأنه ربما يكون هو التاسع في الواقع
“Yang lebih hati-hati juga berpuasa 8 Dzulhijjah. Karena mungkin saja itu hari Arafah yang sebenarnya.” –(Haasyiyah l’anatith Thaalibiin, juz II hlm 442)
Al-Imam Ad-Damiri (w. 808 H) berkata,
ويستحب صوم يوم التروية مع يوم عرفة احتياطاً ،
“Dianjurkan puasa hari Tarwiyah bersama Puasa Arafah untuk kehati-hatian.” –(An-Najmul Wahhaj fi Syarhil Minhaj, juz 3 hlm 355)


