Demikian pula yang terjadi menjelang proklamasi. Beberapa hari mendekati proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi tarik-ulur kesepakatan pendapat antara golongan muda dan golongan tua disertai gontot-gontotan persetujuan dari pihak Jepang. Tapi akhirnya atas izin Allah SWT, kemerdekaan tetap menjadi hak independen Indonesia setelah Jepang akhirnya menyatakan menyerah dari sekutu.

Selain kemiripan angka di muka, angka 17 itu juga sama dengan jumlah rukun sholat dan rakaat sholat. Menurut KH. Maimoen Zubair, filosofi dua sayap garuda yang bulunya sama-sama ada 17, yang kanan adalah tanda rukun dan rakaat sholat, sedangkan yang kiri adalah tanda pemuda.

Mbah Moen memfilosofikan 17 bulu pada sayap kiri garuda dengan pemuda, karena selisih tahun antara tanggal Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan Proklamasi Kemerdekaan NKRI 17 Agustus 1945 adalah 17 tahun. Filosofi Mbah Moen ini berlandaskan pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi;

شُبَّانُنَا الْيَوْمَ رِجَالُنَا الْغَدَ

Para pemuda kita hari ini adalah para pahlawan kita di masa depan

Mbah Moen juga pernah menyampaikan bahwa seseorang akan mulai mencari jati dirinya pada usia 17 tahun. Secara psikologis, remaja berusia 17 tahun memang sudah mulai berperan dan terlibat aktif dalam lingkungan, keluarga ataupun hubungan sosial yang lain.

Pada usia itu juga, remaja mulai memiliki pemikiran-pemikiran ideal, memikirkan masa depan, dan belajar kemandirian baik di bidang emosional maupun finansial. Mbah Moen pernah menyampaikan, “Manusia itu mulai mencari jati dirinya pada usia 17 tahun. Jadi, kalau sampai umur 40 tahun masih bodoh, berarti ya bodoh selamanya”.

Secara psikologis, usia 17-30 tahun adalah usia di mana manusia sedang berada di periode quarter life crisis atau krisis seperempat abad dalam kehidupan. Umumnya, orang yang sedang berada di fase ini sering mengalami bingung, galau, tidak memiliki arah, dan khawatir akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Atau dengan kata lain, sedang mencari jati diri di fase labil dan mencari jalan keluarnya.

  • Angka 8

Selanjutnya angka 8 yang berarti bulan Agustus. Mbah Moen pernah menerangkan pada salah satu tausiyahnya, bahwa pada bulan Agustus adalah masa di mana Nur Rasulullah SAW berpindah dari Sayyid Abdullah ke rahim Sayyidah Aminah yang bertepatan dengan bulan Rajab menurut kalender penanggalan Hijriyah.

Secara medis, usia kehamilan pada umumnya adalah 9 bulan. Berarti jika dihitung menggunakan kalender Hijriyah dari bulan Rajab, maka Rasulullah SAW lahir pada bulan Rabiul Awal. Sedangkan jika dihitung menggunakan kalender Masehi dari bulan Agustus, maka bulan kelahiran Rasulullah SAW adalah bulan April.

BACA JUGA :  Tak Kenal Maka Tak Sayang, Ta'arufan PP Al-Anwar

Angka 8 juga menunjukkan anggota sujud menurut pendapat Mbah Moen. 8 anggota sujud itu ialah; dahi, telapak tangan kanan dan kiri, lutut kanan dan kiri, jari-jari kaki kanan dan kiri yang harus menghadap kiblat, dan yang terakhir adalah hati. Sebab akan percuma jika seluruh anggota tubuh sudah merendah dan meringkuk akan tetapi hati masih tetap sombong mendongak dan congkak memikirkan kehidupan dunia yang fana.

Selain itu, surga Allah juga mempunyai 8 pintu yang satu per-satunya dikhususkan untuk golongan tertentu. Pertama Ar-Rayyan untuk orang-orang yang berpuasa. Kedua As-Shadaqah untuk orang-orang yang gemar bersedekah. Ketiga As-Shalat untuk orang-orang yang disiplin dan rutin menjalankan sholat wajib dan sunnah. Keempat Al-Jihad untuk orang-orang yang ikhlas dalam berjihad dalam jalan Allah. Kelima Ad-Dzikr untuk orang-orang yang ahli berdzikir. Keenam Al-Ayman untuk orang-orang yang masuk surga tanpa hisab. Ketujuh Al-Kaadziminal Ghaidz untuk orang-orang yang dapat mengendalikan amarahnya. Kedelapan Babul Walid untuk orang-orang yang berbakti kepada orang tuanya.

  • Angka 45

Yang terakhir angka 45. Menurut penuturan Mbah Moen, angka 45 adalah hitungan kita membaca 2 kalimat syahadat dalam sehari semalam. 45 di sini bukan berarti membaca 2 kalimat syahadat sebanyak 45 kali, akan tetapi 4 kali di malam hari pada sholat maghrib dan isya, dan 5 kali di siang hari yang dimulai dari sholat subuh hingga sholat ashar.

4 kali di malam hari pada waktu sholat maghrib dan isya adalah 2 kali dibaca pada 2 tasyahud pada sholat maghrib, yakni pada rakaat yang kedua dan ketiga. Sedangkan pada sholat isya, 2 kali dibaca pada tasyahud awal dan akhir, yakni rakaat kedua dan rakaat keempat.

Lalu 5 kali pada siang hari adalah pada saat tasyahud terakhir atau rakaat kedua sholat subuh, rakaat kedua dan keempat sholat dhuhur, dan rakaat kedua dan keempat di sholat ashar.

Jika dijumlah, angka 4 dan 5 menghasilkan angka 9. Angka 9 adalah angka yang unik ketimbang angka yang lain menurut Mbah Moen. Sebab angka 9 ini jika dikalikan dengan angka berapapun hasilnya tetap sembilan. Contoh saja 9×2, 9×3, 9×4 dan seterusnya. 9×2=18, 9×3=27, 9×4=36. Angka 1 dan 8 menghasilkan angka 9, angka 2 dan 7 menghasilkan 9, angka 3 dan 6 juga menghasilkan 9 begitupun seterusnya.

1
2
3
4
Artikulli paraprakKHIDMAH ATAU CINTA
Artikulli tjetërMakna Kemerdekaan Di Mata Santri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini