Selain diperintahkan untuk mencintai Ahlul bait (keluarga Rasulullah), kita juga diperintah untuk ittiba’ (ikut) kepada para Habaib yang bisa dijadikan panutan dalam masalah agama. Namun, meski demikian dalam hal mencintai Habaib kita tidak boleh memilah-milah. Kita wajib mencintai dan tidak boleh membenci bahkan menghujat dan menghina para Habaib yang lain meski sebagian dari perilaku atau ucapan mereka tidak pantas dijadikan panutan. Al-Maghfurlah K.H. Maimoen Zubair mengumpamakan Habaib yang demikin dengan sobekan Al-Qur’an yang sudah lusuh. Meski sudah tidak bisa dibaca namun tetap wajib dimuliakan.

Amal Saleh

Amal saleh merupakan kunci kedua agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sudah seharusnya kita hidup di dunia ini untuk beramal saleh, karena dunia merupakan ladang amal yang akan kita panen hasilnya di akhirat kelak. Selain itu, amal saleh juga merupakan bukti dari keimanan yang ada dihati kita.

Ada banyak macam amal saleh yang bisa kita lakukan, karena dalam Al-Our’an ataupun hadis sudah diterangkan berbagai macam amal saleh, baik amal berupa ucapan atau perbuatan, amal yang bermanfaat untuk kita sendiri ataupun amal yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang.

Dalam beramal kita tidak boleh menganggap remeh amal saleh yang kita perbuat meski terlihat kecil dan termasuk hal sunnah, karena sekecil apapun amal yang kita kerjakan pasti Allah Swt, akan tahu dan membalasnya, baik balasan secara langsung di dunia maupun di akhirat nanti. Demikian juga, kita tidak boleh meremehkan dosa meski itu dosa kecil, bahkan hal yang makruh pun kita tidak boleh mengangapnya remeh, karena dosa sekecil apapun itu pasti ada balasannya baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Salah satu contoh amal yang jika kita lihat terlihat remeh tapi sebenarnya sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan kita adalah berbuat baik kepada tetangga. Hal ini termasuk hal yang sangat penting kita perhatikan dan kita jaga, karena seorang tetangga bagaikan saudara dan keluarga kita bahkan melebihinya. Bagaimana tidak? Karena saudara yang jauh dari kita belum tentu bisa membantu kita pada saat kita membutuhkan pertolongan, tetapi tetangga akan siap memberikan pertolongan kepada kita saat dibutuhkan baik siang maupun malam. Oleh karena itu, hubungan yang baik dengan tetangga harus kita jaga, jangan sampai terjadi perselisihan bahkan pertengkaran, walaupun mereka berbeda keyakinan dengan kita.

BACA JUGA :  Rebo Wekasan, Hari penuh Bala’?

Banyak dalil yang menjelaskan pentingnya kita berbuat baik kepada tetangga, diantaranya adalah firman Allah Swt,

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: “Dan sembahlah Allah Swt, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah Swt, tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S. An-Nisa’:36)

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu’anhu:

وَعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُول الله صل الله عليه وسلمَ قَالَ: «لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ لا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ». أخرجه مسلم.

“Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena perbuatannya.” (H.R. Muslim)

Hal ini juga termasuk salah satu amal perbuatan yang sangat diperhatikan oleh Ulama salafu as-salih. Dikisahkan, salah satu dari mereka bercerita kepada temannya bahwa banyak tikus yang mengganggu di rumahnya. Kemudian temannya memberikan saran agar dia memelihara seekor kucing supaya mengusir tikus yang ada di rumahnya, tapi dia tidak menerima saran temannya dan dia lebih memilih rumahnya menjadi sarang tikus daripada jika dia mengusir tikus-tikus tersebut dari rumahnya maka akan pindah ke rumah tetangganya.

Kehidupan bahagia di dunia adalah suatu kehidupan yang menjadikan jiwa tenang dan damai karena merasakan kelezatan keimanan dan kenikmatan. Jiwa menjadi rindu akan janji Allah Swt, ikhlas dan rela menerima takdir, serta bebas dari perbudakan duniawi karena jiwanya hanya tertuju pada Allah yang maha esa.

Adapun kebahagiaan di akhirat adalah memperoleh balasan pahala yang besar dan paling baik dari Allah Swt, karena amal saleh dan kebajikan yang telah diperbuatnya serta iman yang bersih dan memenuhi jiwanya.

*Sumber : Buletin Tazkiyah Ma’had Aly Iqna ath-Thalibin PP. Al-Anwar Sarang Edisi 2 (16/09/22)

1
2
Artikulli paraprakMenjaga Diri Dari Riba Di Akhir Zaman
Artikulli tjetërUCAPAN NATAL

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini