مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذِلٍّ الاَّ عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ

“Tidak akan berkembang biak cabang kehinaan kecuali di atas bibit kerakusan”

Kerakusan adalah bahaya paling besar pada jiwa manusia serta kejelekan yang dapat merusak ubudiyahnya. Bahkan tamak merupakan sumber dari segala bahaya, sebab tamak itu murni bersandar dan bergantung pada manusia serta mengabdi pada manusia. Maka tidak ada kehinaan besar seperti tamak.

Sayyidina Ali pernah bertanya pada seseorang ; “Apakah yang dapat mengukuhkan agama? ” Jawab al Hasan al Bashri: “ Wara’ ” . Lalu bertanya kembali : “Apakah yang dapat menghancurkan agama?”, dijawab “Rakus”. Kemudian Sayyidina Ali berkata padanya “Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkaulah yang dapat memberi ceramah kepada orang-orang”.

Hakikat rakus berlawanan dengan iman, karena rakus menghendaki kehinaan sedangkan iman menghendaki kemulian. Orang beriman yang sejati tidak pantas memiliki sifat rakus melainkan pantas memiliki sifat kemuliaan, karena Allah telah memberikan kemulian kepada orang beriman, dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ

Kemulian itu hanya milik Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman”

            Sebagaimana kemulian itu milik orang beriman, kehinaan adalah sifat orang kafir dan munafik. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang  Allah dan Rasul-Nya mereka termasuk orang-orang yang hina”

            Orang yang rakus menjadi hina kerana ia meninggalkan Allah dan bergantung kepada manusia yang hina sepertinya. Ia meningalkan Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah dan Kaya dan beralih bersandar kepada manusia yang miskin seperti dirinya. Siapa saja yang menjadi hamba Allah berarti ia merdeka dan barang siapa yang berharap pada makhluk berarti ia menjadi budak makluk itu.

            Abu Bakar Al-Warraq al- Hakim RA berkata: “Andaikata kerakusan itu ditanya, siapa bapakmu?,maka ia akan menjawab, “Ragu pada takdir”. Kalau ditanya, apa kerjamu?, ia menjawab , “Mencari kehinaan”, dan apabila ditanya apa tujuanmu?, makai ia tidak dapat menjawab apapun.”

            Jadi jelas orang, yang rakus timbulnya dari keraguan pada  takdir. Ia mengikuti hawa nafsu dan mengejar dunia sehingga ia hina dihadapan orang-orang yang beriman dan dihadapan Allah. Ujung dari perjalanan orang rakus tidak mendapat apa-apa, yang didapat hanyalah kerendahan dan kehinaan belaka.

BACA JUGA :  Memperoleh Rizqi yang Halal

            Abu Bakar Al-Warraq al- Hakim RA berkata: “Siapa saja yang merasakan pada dirinya cinta pada sesuatu dari dunia, maka ia dibunuh oleh pedang kerakusan. Siapa saja rakus ingin sesuatu makai ia ditarik pada kehinaan.”

            Maka tidak mustahil sifat rakus itu dapat merusak agama dan bisa mengikis habis cahaya keimanan seseorang pada Allah. Ini disebabkan oleh sikap rakus itu mengikuti hawa nafsu.

            Ibnu Athoilah berkata; “ Aku pernah mendengar guru kami Abu Abbas al Mursi mengatakan “Dulu di waktu aku permulaan suluk, tatkala aku pergi keorang yang akau kenal, lalu aku membeli darinya barang seharga separuh dirham maka terlintas di hatiku kata “barangkali ia nanti tidak menerima uang dariku”. Tiba-tiba ada suara tanpa rupa “Keselamatan agama itu dengan meninggalkan tamak pada manusia.”

            Al-Habib Husain bin Muhammad al Haddad Jombang, seorang wali besar ahli mukhasyafah  yang disegani oleh banyak orang, bila ia pergi ke pasar untuk membeli sesuatu maka ia  bertanya  kepada penjual yang ia akan beli “Berapa harga ini?”,penjual menjawab “Sepuluh ribu Bib”, “Ini harga untuk saya saja ataukah untuk harga orang lain juga?” penjual menjawab “Untuk sampean saja Bib, kalau untuk orang lain harganya dua belas ribu”, kemudian Habib menjawab “Saya ingin harga sama dengan orang lain”. Beliau tidak ingin diistimewakan dan tak ingin tamak terhadap orang lain.

Semoga kajian kali ini bermanfaat dan juga bisa memotivasi kita semua untuk meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Amiin. Wallahu A’lam.

Artikulli paraprakAs-Saairun dan Al-Washilun
Artikulli tjetërCINCIN BAGI KAUM PRIA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini