Izin Penguasa Tidak Dapat Mengubah Sesuatu Yang Dilarang Oleh Syariat Menjadi Halal

    Dalam pelaksanaan suatu kegiatan di ruang publik, izin dari pihak yang berwenang tidak serta-merta menjadikan suatu tindakan yang dilarang syariat menjadi diperbolehkan. Apabila suatu kegiatan terbukti menimbulkan bahaya atau mudarat bagi masyarakat, maka kemudaratan tersebut tetap harus dihindari meskipun kegiatan tersebut telah memperoleh izin dari penguasa atau pihak yang berwenang.

    Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa seseorang yang menggali sumur di jalan umum dan penggalian tersebut membahayakan para pengguna jalan dianggap melakukan tindakan melampaui batas (ta‘addi) dan wajib menanggung kerugian yang timbul akibat perbuatannya. Ketentuan tersebut berlaku baik ia mendapatkan izin dari penguasa maupun tidak, sebab izin penguasa tidak dapat mengubah sesuatu yang dilarang oleh syariat menjadi halal.

  • بحر المذهب للروياني (12/ 343)

قال [في] الحاوي: وتفصيل هذا أنه إذا حفر بئرًا لم يخل حاله في حفرها من أحد أربعة أقسام: أحدها: أن يحفرها في ملكه. والثاني: أن يحفرها في ملك غيره. والثالث: أن يحفره في الموات. والرابع: أن يحفرها في طريق سابل. -إلى أن قال- فصل: وأما القسم الرابع وهو أن يحفرها في طريق سابل: فهذا على ضربين: أحدهما: أن يضر حفرها بالمارة فيصير متعديًا ويلزمه ضمان ما سقط فيها، سواء أذن له الإمام أو لم يأذن؛ لأن إذن الإمام لا يبيح المحظورات.

Walaupun Sudah Menjadi Tradisi

    Dalam kaidah fikih memang dikenal ungkapan العادة محكمة  (adat kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum), tetapi kaidah tersebut tidak berarti bahwa adat dapat mengubah sesuatu yang telah diharamkan oleh syariat menjadi halal.

    Dijelaskan dalam ‘Umdat al-Muftī wa al-Mustaftī bahwa adat, sekalipun merupakan kebiasaan yang baik, tidak memiliki kedudukan untuk menentukan halal dan haram. Penetapan hukum syariat harus bersandar pada dalil-dalil syariat. Oleh karena itu, adat tidak dapat dijadikan dalil yang berdiri sendiri dalam menetapkan suatu hukum syariat. Adapun adat dapat dijadikan pertimbangan dalam perkara-perkara yang memang tidak memiliki rincian hukum dan ketentuan ukuran secara spesifik dari syariat.

  • عمدة المفتي والمستفتي

ومن استدل من هؤلاء الحجاج الطغام على جواز فعلهم بقول الفقهاء : ( العادة محكمة )  فقد كذب على الفقهاء ، وتجرأ على الله ورسوله ، فالعادة وإن كانت حسنة لا مدخل لها في تحليل شيء أو تحريمه ؛ لأن الأحكام إنما تتلقى من أدلة الشرع ، فهي لا تصلح دليلاً لحكم شرعي ، فكيف تعارض حكماً شرعياً دلّت أدلة الشرع من الكتاب والسنة والإجماع على تحريمه ؟! وإنما تصلح دليلاً للتقديرات الشرعية التي لم يرد فيها تقدير من الشارع ولا عرف من اللغة

Laki-laki Berpenampilan Dan Berperilaku Menyerupai Perempuan

    Imam al-Nawawi dalam Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab menegaskan bahwa haram hukumnya laki-laki menyerupai perempuan, demikian pula sebaliknya. Hal ini berdasarkan hadis sahih tentang laknat bagi orang yang melakukan tasyabbuh dengan lawan jenis. Imam Al-Thobari, ketika menjelaskan hadis tersebut, menerangkan bahwa larangan itu mencakup pakaian dan perhiasan yang secara khusus menjadi ciri perempuan atau laki-laki.

BACA JUGA :  Aborsi Legal???

    Lebih lanjut, dalam kitab Al-Fiqh al-Manhajī dijelaskan bahwa tasyabbuh tidak hanya berkaitan dengan pakaian dan perhiasan, tetapi juga dapat berupa cara berbicara dan berjalan. Di antaranya adalah sengaja melakukan gerakan meliuk-liukkan dan menggoyangkan tubuh (tatsannī dan takassur), melembutkan suara, serta melunakkan cara berbicara yang secara umum menjadi karakter perempuan.

    Adapun penyerupaan perempuan dengan laki-laki dapat terjadi dalam hal pakaian dan sebagian karakter yang menjadi ciri laki-laki, seperti sengaja menampilkan sikap kasar dan maskulin, mencukur rambut, serta berbagai bentuk lainnya yang secara umum menjadi karakter laki-laki.

  • المجموع شرح المهذب (ت ٦٧٦)

الصَّوَابُ مَا قَالَهُ الْأَصْحَابُ أَنَّ تَشَبُّهَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ حَرَامٌ وَعَكْسُهُ كَذَلِكَ لِلْحَدِيثِ الصحيح أَنَّ رَسُولَ ﷺ قَالَ (لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَشَبِّهَات مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ) وَاللَّعْنُ لَا يَكُونُ عَلَى مَكْرُوهٍ وَأَمَّا نَصُّهُ فِي الْأُمِّ فَلَيْسَ مُخَالِفًا لِهَذَا لِأَنَّ مُرَادَهُ أَنَّهُ مِنْ جِنْسِ زِيِّ النِّسَاءِ وَاَللَّهُ تعالى أعلم

  • شرح صحيح البخارى لابن بطال (9/140)

 باب المتشبهين بالنساء والمتشبهات بالرجال

81 – فيه: ابْن عَبَّاس، لَعَنَ النَّبِىّ، عليه السَّلام، الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ. قال الطبرى: فيه من الفقه أنه لا يجوز للرجال التشبه بالنساء فى اللباس والزينة التى هى للنساء خاصة، ولا يجوز للنساء التشبه بالرجال فيما كان ذلك للرجال خاصة.

  • الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (3/103)

تشبه الرجال بالنساء، والنساء بالرجال:  تشبّه الرجال بالنساء إنما يكون في اللباس والزينة، مثل لبس الأساور والأقراط، والأطواق. وكذلك في الكلام والمشي: كتكلّف التثني والتكسر، وترقيق الصوت، وتليين الكلام، وغير ذلك مما تكون عليه النساء في العادة.  وتشبّه النساء في الرجال إنما يكون بالزي، وبعض الصفات: كتكلف الخشونة والرجولة، وحلق الشعر، ونحو ذلك مما عليه الرجال في العادة.

Uang Pendaftaran Yang Dijadikan Hadiah

    Bentuk perjudian yang disepakati keharamannya adalah ketika kedua pihak yang bertanding sama-sama mengeluarkan imbalan atau hadiah, kemudian masing-masing berada dalam kemungkinan menang sehingga mendapatkan keuntungan atau kalah sehingga kehilangan imbalan atau hadiahnya. Adapun apabila hanya salah satu pihak yang mengeluarkan hadiah atau imbalan, menurut pendapat yang lebih kuat (al-aṣhoḥḥ) praktik tersebut juga dihukumi haram.

    Dengan demikian, Apabila dalam pelaksanaan lomba pada kegiatan karnaval, uang peserta dipertaruhkan dan peserta yang kalah kehilangan uangnya, sedangkan peserta yang menang memperoleh keuntungan dari uang tersebut, maka hal itu memiliki unsur perjudian.

  • إسعاد الرفيق (2/102)

(وكل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها أن يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما وهو المراد من الميسر في الآية، إن كان كل واحد مترددين أن يغلب صاحبه فيغنم أو يغلبه فيغرم فإن عدلا عن ذلك إلى حكم السبق والرمي بأن ينفرد أحد اللاعبين بإخراج العوض ليأخذ منه إن كان مغلوبا وعكسه إن كان غالبا فالأصح حرمته أيضا اه

1
2
3
4
5
Artikulli paraprakSeni Beradab: Panduan Pergaulan Menurut Imam Al-Ghazali

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini