Sarang, Rembang 20 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Maulidiyyah dan Harlah ke-60 Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang, Himpunan Mutakhorrijin Mutakhorrijat Al-Anwar (HIMMA) menggelar acara Halqoh Nasional HIMMA dengan tema “Harokah Syaikhina Maimoen Zubair dalam Berjam’iyyah Nahdlatul Ulama” serta Ngaji Bareng HIMMA Bersama KH. Muhammad Najih Maimoen, Kamis, 7 Rabi’ul Awwal 1448 H./20 Agustus 2026 M.

HALQOH NASIONAL HIMMA

    Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut bertempat di Musholla Zubair Dahlan Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang bagian utara. Halqoh Nasional ini dihadiri oleh ribuan alumni Pondok Pesantren Al-Anwar dari berbagai daerah di Indonesia.

    Acara dipandu oleh KH. Abdul Latif Malik, Lc., M.Pd. sebagai moderator. Adapun dua narasumber dalam acara tersebut adalah KH. Ahmad Sadid Jauhari dan KH. Abdul Ghafur Maimoen, Lc., M.A.

   Melalui acara tersebut, para alumni mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan secara langsung berbagai kisah, pandangan, dan pengalaman mengenai perjalanan serta perjuangan Syaikhina KH. Maimoen Zubair dalam berkhidmah di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Halqoh Nasional HIMMA (Abda’u Bihi/AWR Media)

KH. Ahmad Sadid Jauhari: Keteladanan Akhlak dan Kemampuan Menahan Diri

   Dalam penyampaiannya, KH. Ahmad Sadid Jauhari, salah satu santri awal Mbah Moen, menyampaikan berbagai sisi keteladanan akhlak Syaikhina KH. Maimoen Zubair.

Beliau menyampaikan:

“Mbah Moen adalah orang yang unik. Mbah Moen walaupun tidak cocok dengan orang di forum umum, Mbah Moen pegang mic tidak pernah menjelek-jelekkan orang, kuat ngempet, memiliki sifat hilm. Al-hilmu ra’sul akhlaq.”

    Beliau juga menyampaikan bahwa kebanyakan kiai belum tentu kuat untuk ngempet atau menahan diri. Karena itu, kemampuan Mbah Moen dalam menahan diri dan tidak mudah menyakiti orang lain merupakan salah satu akhlak yang sangat menonjol dalam diri beliau.

BACA JUGA :  Tahlil & Kirim Doa Memperingati Haul KH. Maimoen Zubair Ke-4 di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang

KH. Ahmad Sadid Jauhari juga menyampaikan bahwa Mbah Moen, walaupun memiliki perbedaan atau kontroversi dengan kiai-kiai yang lain, tetap dihormati oleh mereka.

    Menurut beliau, Mbah Moen juga dapat menjadi ikon kiai yang anak-anaknya menjadi orang-orang yang berhasil semua dan memiliki peran masing-masing, salah satu penyebabnya adalah karena kemuliaan akhlak beliau.

     KH. Ahmad Sadid Jauhari kemudian menceritakan salah satu pengalaman ketika dahulu pernah ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai habib. KH. Sadid Jauhari memarahi orang tersebut, namun justru beliau yang kemudian dimarahi oleh Mbah Maimoen. Menurut Mbah Moen, walaupun orang tersebut bukan habib, tetapi ia tetap orang Arab.

    Mbah Moen menyampaikan bahwa Nabi sendiri cinta kepada orang Arab karena Nabi sendiri adalah orang Arab. Al-Qur’an juga berbahasa Arab, dan nantinya bahasa ahli surga juga bahasa Arab. Oleh karena itu, beliau menyampaikan pentingnya menghormati orang Arab, terlebih kepada para habib.

Beliau juga berkata:

“Mbah Moen adalah orang yang tidak suka menyakiti orang lain, walaupun di hati beliau tidak cocok dan tidak suka.”

    Di akhir penyampaiannya, KH. Ahmad Sadid Jauhari berpesan kepada seluruh peserta agar tetap berjuang demi NU, namun tetap memperjuangkan NU yang berwawasan dan tidak menyimpang.

1
2
3
4
5
6
Artikulli paraprakMAULIDIYYAH & HARLAH KE-60 PP. AL-ANWAR 1 SARANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini