Seorang perempuan diciptakan dengan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki yaitu sifat keperempuanan dan daya tarik yang telah Allah swt tanamkan dalam dirinya yang dapat membangkitkan ketertarikan laki-laki padanya.

  Sekarang, luangkanlah waktu sejenak untuk merenung agar dengan mudah anda dapat menyadari bahwa ada satu syarat yang harus dipenuhi agar pertemuan antara laki-laki dan perempuan dapat berlangsung dalam kerja sama yang nyata diberbagai bidang kemanusiaan, sosial, dan peradaban yang membutuhkan konsentrasi penuh.

  Lantas, apakah syarat yang dibutuhkan?

  Syaratnya adalah adanya pembatas yang memisahkan antara keduanya. Dengan demikian, keduanya tidak akan saling berbaur atau bercampur, sehingga tidak ada yang menguasai antara satu dengan lain dan merusaknya. Maka, apakah syarat yang dapat menjalankan fungsi ini?

  Anda tidak akan menemukan syarat tersebut kecuali pada aturan yang telah Allah swt tetapkan, yaitu hijab.

  Allah swt berfirman dalam Surat An-Nur Ayat 31 :

قُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلَمْ يَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ……الأية

  Artinya : “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (kerudung) ke dadanya…”

  Agar anda tidak terjebak dalam berbagai persepsi keliru tentang hijab, atau terseret anggapan yang berlebihan dan mengganggu dalam memahami hakikat hijab. Perlu dijelasksan bahwa hijab tidak lebih dari sekedar pembatas logis yang memisahakan antara keterlibatan perempuan dalam tugas-tugas sosial dan kemanusian bersama laki-laki. Tidak ada definisi syar’i yang lebih akurat tentang hijab selain batasan ini, yang menenegaskan fungsi dan tujuannya.

BACA JUGA :  PEREMPUAN DAN HAK UNTUK MEMILIKI

  Sekarang, mari kita lihat contoh nyata dari kehidupan sosial yang dapat dijadikan bukti. Ketika ada seorang perempuan ikut berpartisipasi dalam sebuah pertemuan ilmiah atau diskusi intelektual yang bertujuan melakukan reformasi sosial atau menyelesaikan persoalan ilmiyah dan budaya, bayangkan bahwa perempuan dalam pertemuan ini tampil dengan penuh perhiasan dan daya tarik sebagaimana yang lazim dilakukan oleh perempuan “Bebas” pada masa kini.

  Apa yang akan terjadi ketika perempuan dengan penampilan menggoda seperti itu mulai berdiskusi tentang suatu pemikiran atau persoalan sosial atau bahkan dalam ranah sastra? Yang pasti terjadi adalah dorongan naluri dalam diri para lelaki yang melihat dan mendengarnya akan terbangkitkan dan perasaan seksual mereka akan mendominasi mereka.   Akibatnya, mereka tidak akan fokus pada pembahasan intelektual yang disampaikan perempuan tersebut, tetapi malah tergiring oleh ketertarikan fisik yang terpampang dihadapan mereka.

  Hal ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa meskipun perempuan itu berbicara dalam diskusi ilmiah atau intelektual, para lelaki tetap memperlakukannya sebagai sosok yang menimbulkan ketertarikan naluriah dan kehormatan, bukan sebagai pemikir yang layak diapresiasi gagasannya.

  Apakah ini yang dinamakan kebebasan?

1
2
3
Artikulli paraprakBatu Loncatan Ekspansi Keilmuan Bahasa Arab

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini