-
Menjadikan Bacaan Al-Qur’an sebagai Permainan
Al-Qur’an memiliki kedudukan yang berbeda dengan perkataan biasa. Karena merupakan kalam Allah SWT., maka membacanya harus disertai dengan penghormatan dan pengagungan.
Tidak selayaknya bacaan Al-Qur’an dijadikan bagian dari aktivitas yang secara umum dipandang sebagai permainan, hiburan, atau olok-olok.
Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din mengenai pentingnya menjaga Al-Qur’an dari hal-hal yang mengandung unsur permainan:
وواجب أن يصان القرآن عن مثل هذه القرائن لأن صورتها عند عامة الخلق صورة اللهو واللعب والقرآن جد كله عند كافة الخلق فلا يجوز أن يمزج بالحق المحض ما هو لهو عند العامة
Artinya : “Dan wajib menjaga Al-Qur’an dari hal-hal semacam ini (rebana,pukulan tongkat,dan sebagainya) karena bagi kebanyakan orang, bentuknya tampak seperti sesuatu yang mengandung unsur senda gurau dan permainan. Sedangkan Al-Qur’an, seluruhnya merupakan perkara yang serius dan penuh kesungguhan menurut semua orang. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan mencampurkan sesuatu yang merupakan kebenaran murni dengan hal-hal yang dipandang sebagai senda gurau oleh masyarakat umum.” (Ihya’ ‘Ulum al-Din, Juz 2, hlm. 300).
Karena itu, menjadikan bacaan Surah Ad-Dhuha sebagai bagian dari challenge untuk mendapatkan minuman keras merupakan bentuk yang bertentangan dengan penghormatan terhadap Al-Qur’an.
-
Membaca Al-Qur’an dalam Keadaan yang Mengandung Penghinaan
Persoalan berikutnya adalah hukum membaca Al-Qur’an apabila bacaan tersebut dilakukan dalam keadaan yang mengandung unsur penghinaan atau istihza’.
Dalam Salam al-Taufiq diterangkan mengenai beberapa bentuk perbuatan yang dapat menjadi kufur:
أوقال وقد ملأ وعاء وكأسا دهاقا أو أفرغ شرابا فكانت سرابا أو عند وزن أو كيل وإذا كالوهم أو وزنوهم يخسرون أو عند رؤية جمع وحشرناهم فلم نغادر منهم أحدا بقصد الاستخفاف او الاستهزاء في الكل. وكذا كل موضع استعمل فيه بذلك القصد فإن كان بغير ذلك القصد فلا يكفر لكن قال الشيخ أحمد بن حجر: لا تبعد حرمته
Artinya : “ia mengucapkan (ayat Al-Qur’an) ketika mengisi sebuah wadah dan gelas sambil mengucapkan “وكأسا دهاقا”, atau ketika menuangkan minuman “فكانت سرابا”; atau ketika melakukan penimbangan atau pengukuran, sedangkan mereka mengurangi takaran dan timbangan “وإذا كالوهم أو وزنوهم يخسرون”atau ketika melihat suatu perkumpulan dan berkata, “وحشرناهم فلم نغادر منهم أحدا” Semua itu dilakukan dengan maksud meremehkan atau mengejek (Al-Qur’an). Demikian pula setiap tempat atau keadaan di mana Al-Qur’an digunakan dengan maksud tersebut. Jika tidak dengan maksud demikian, maka tidak dihukumi kafir. Namun, Syaikh Ahmad bin Hajar mengatakan: tidak jauh kemungkinan bahwa perbuatan tersebut tetap haram.”. (Sullam al-Taufiq, hlm. 12–13).


