Kasih Sayang dan Belas Kasihan Nabi Muhammad SAW terhadap Umatnya di Dunia

Di antara hal-hal yang bersinar dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah besarnya kasih sayang dan belas kasih beliau terhadap umatnya. Oleh karena itu, setiap Muslim seharusnya mengetahui betapa besar hak Nabi terhadap umatnya, mengingat betapa dalam cinta, kasih sayang, dan perhatian yang beliau miliki terhadap umatnya.

Pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Allah SWT mewajibkan atas Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan 50 sholat dalam sehari semalam. Namun, ketika beliau kembali dan bertemu dengan Nabi Musa, beliau berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena aku telah menguji umatku sebelum umatmu, dan umatmu tidak akan mampu melaksanakannya.” Dari sini, para ulama menyimpulkan bahwa ilmu terbagi menjadi dua kategori: ilmu yang di dasarkan pada pengalaman, dan ilmu yang di sertai dengan pengalaman. Ilmu yang di sertai dengan pengalaman lebih di utamakan daripada ilmu yang tanpa pengalaman. Nabi Musa AS memang bukan lebih baik dari Nabi Muhammad SAW, namun pengalaman mengajarkannya bahwa umat manusia tidak mampu menanggung beban seperti itu. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW kembali kepada Allah SWT untuk meminta keringanan, dan beliau terus-menerus meminta keringanan sampai akhirnya Allah memberikan keputusan bahwa salat tetap lima kali, namun dengan pahala sebanding lima puluh salat.

Para ulama mengambil faedah dari peristiwa ini bahwa siapa yang mendahulukan hak Allah SWT atas hak selain-Nya, Allah SWT akan memuliakannya dan memuliakan yang lainnya. Pada kesempatan terakhir itu, Nabi Muhammad SAW di hadapkan pada dua hak yang penting: hak umatnya dan hak Allah SWT, yaitu adab beliau kepada Tuhan. Beliau memilih untuk lebih mementingkan adab terhadap Allah SWT, dan sebagai balasannya, Allah SWT memuliakan beliau dengan menetapkan salat lima waktu yang pahalanya setara dengan lima puluh shalat.

Pentingnya Shalat Dalam Islam

Isra’ dan Mi’raj juga menegaskan betapa pentingnya shalat dalam Islam. Shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, dan yang lebih menguatkan keutamaannya adalah bahwa Allah mewajibkannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW di langit ketujuh tanpa perantara. Hal ini menunjukkan penghargaan yang besar terhadap shalat. Nabi Muhammad SAW pun sangat menekankan pentingnya shalat, baik dalam keadaan apapun, baik dalam perjalanan, saat aman atau dalam keadaan takut, serta dalam kondisi sehat atau sakit. Shalat menjadi penyejuk mata bagi Nabi Muhammad SAW, sebagaimana riwayat Anas RA:

BACA JUGA :  PUASA TARWIYAH DAN AROFAH

وجُعِلت قُرَّة عيني في الصلاة .رواه النسائي
“Shalat menjadi penyejuk mataku,” (HR. An-Nasa’i).

Dan ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi kesulitan, beliau langsung mendekat kepada Allah dengan shalat, sebagaimana riwayat Hudzaifah RA

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صَلَّى” رواه أبو داود
“Rasulullah SAW jika menghadapi sesuatu yang menyusahkan, beliau segera shalat,” (HR. Abu Daud).

Shalat adalah rukun kedua dalam Islam setelah syahadat, seperti dalam hadis:

” ‌بُنِيَ ‌الإِسْلَامُ ‌عَلَى ‌خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “

“Islam dibangun atas lima rukun: syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan haji dan puasa Ramadhan, (HR. Bukhari).

Karena pentingnya shalat, Nabi Muhammad SAW selalu berwasiat kepada umatnya untuk menjaga dan melaksanakannya, bahkan menjadikan shalat sebagai wasiat terakhir sebelum beliau wafat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA: “Sebagian besar wasiat Rasulullah SAW adalah: Shalat, shalat, dan apa yang menjadi hak tangan kalian,” (HR. Al-Hakim).

 

Sumber Rujukan;
Al-Quran al-karim

Abu Abdillah Muhmmad bin Ismail bin Mughiroh bin bardizbah al-Bukhori, Jami’ al-Sohih al-Bukhori, (Mesir: Dar al-Thuq Najah, 1422 H), jus 1/hal 11

Imam Nasai, Sunan al-Nasai

Ibn Sa’ad, al-Thobaqot al-Kubro, Beirut: Dar Shadr, 1968 jus 2/ hal 253

AL-Ustad Dr. Sa’ad al-Murshifi, al-Jami Sohih al-Sirah al-Nabawiyah, (Kuwait: Maktabah Ibnu Kathir, 2009), jus: 04/hal 1520

Abu Hasyim Sholih bin ‘Awwad bin Sholih al-Mughommasyi, Durus li al-Syaikh Sholih al-Mughommasyi (tp:ttp; 1433 H)

Dr. Sofyan Hadi, Kisah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, (Serang: A-Empat, 2021)

1
2
3
Artikulli paraprakKunjungan Syeikh Jamal Faroeq al-Daqqoq al-Azhari
Artikulli tjetërPARA NABI ADALAH PIMPINAN MANUSIA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini