Di tengah perjalanan ia melewati seorang Nashrani yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Mengetahui si fakir yang tengah berjalan sambil menangis, ia bertanya kepadanya perihal penyebabnya.
“Kenapa kau menangis?”
“Jangan tanya keadaanku” jawab si fakir
“Aku memintamu demi Allah agar kau memberitahu keadaanmu”
Kemudian si fakir mulai menceritakan peristiwa yang ditimpanya. Penasaran terhadap hal tersebut, si Nashrani pun bertanya lagi.
“Memang hari ini hari apa menurut keyakinan kalian?”
“Hari ini adalah hari “Asyuro(tanggal 10 Muharram)” jawab si fakir sambil terus menerangkan tentang barokah dan keutamaan yang terdapat pada hari ini.
Luluhlah hati si Nashrani mendengar penuturan si fakir tersebut. Akhirnya ia memberinya roti dan daging yang lebih banyak dari yang diminta dan memberinya uang 20 dirham.
“Ambillah ini semua. Itu semua untukmu dan keluargamu sebagai bentuk memuliakan hari yang diagungkan oleh Allah”
Setelah mengambilnya pulanglah si fakir dalam keadaan gembira dan senang. Anak-anaknya pun senang melihat kepulangan ayahnya yang tidak pulang dengan tangan kosong. Kemudian si fakir tadi berdoa dengan suaranya yang paling tinggi.
“Ya Allah siapapun yang memasukkan kebahagiaan pada kami, tolong masukkanlah juga kebahagiaan padanya besok”


