Hukum Doa Awal/Akhir Tahun
Pada dasarnya doa dalam bentuk apapun itu dianjurkan selama doa tersebut tidak bertentangan dengan syari’at. Anjuran tersebut berdasarkan keumuman dalil di dalam Al-Qur’an;
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
“… Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.” [QS. Al- Mu’min: 60].
Doa itu juga bebas dengan menggunakan bahasa apa saja dan kapan saja termasuk awal tahun ataupun akhir tahun.
Ada beberapa ulama yang secara khusus menyusun doa awal/akhir tahun. Salah satunya kami kutip dari kitab “Kanzun Najah was-Surür” karya Asy-Syaikh ‘Abdulhamid bin Muhammad ‘Alī Quds Al-Makki Asy-Syafiï (w. 1335 H), seorang ulama pengajar Masjidil haram pada masanya sebagaimana nukilan dari Syekh Umar bin Qudamah al-Maqdisi, beliau berkata:
ما زال مشايخنا يوصون به ويقرؤونه ، وما فاتني طول عمري؛
“Guru-guru senantiasa menganjurkan membaca doa ini dan mereka selalu membacanya, dan saya tidak pernah melewatkan doa ini sepanjang hidup saya.”
Al-‘Allamah Syamsuddin Yusuf atau yang masyhur dengan julukan Sibthu Ibnil Jauzī, beliau berkata:
وروى لنا الحديث، وعَلَّمني دُعاء السَّنَة، فقال: ما زال مشايخنا يواظبون على هذا الدُّعاء في أوَّل كلِّ سنة وآخرها، وما فاتني طول عمري،
“Beliau (Asy-Syaikh Abi ‘Umar bin Qudāmah Al-Maqdisi Al-Hanbali) mengajariku doa awal dan akhir tahun, lalu berkata: Masyāyikh kami selalu merutinkan doa ini pada tiap awal dan akhir tahun. Dan aku pun tak pernah luput dari membacanya sepanjang hidupku.”
Berdasarkan penjelasan di atas maka hukum doa awal/akhir tahun sunnah sebagaimana ajaran para ulama salaf.
DOA AKHIR TAHUN
(Dibaca 3x setelah sholat Ashar pada hari terakhir bulan dzulhijjah)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللهم مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ اَللهم إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ. اَللهم وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, ampunilah aku dari segala perbuatan dosa yang aku lakukan di tahun yang lalu yang tidak Engkau ridloi….
Ya Allah, terimalah segala perbuatan baik yang aku lakukan di tahun yang lalu, perbuatan yang kau janjikan mendapat pahala & ampunan… Dan janganlah kau putus harapanku dari rahmatmu…
DOA AWAL TAHUN
(Dibaca 3x setelah sholat Maghrib pada hari pertama bulan Muharram)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللهم أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, Engkau adalah dzat yang kekal & tidak bermula, kepada anugerahMu aku bersandar, sekarang tahun baru telah datang, aku meminta kepadaMu agar dijaga dari syetan, dan dapat mengendalikan hawa nafsu, serta dapat mendekatkan diri kepadaMu.
Hukum Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah
Al-Imam Ibrahim Al-Bajuri (w. 1276 H) berkata,
وَتُسَنَّ التَّهْنِئَةُ بِالْعِيدِ وَنَحْوِهِ مِنْ الْعَامِ وَالشَّهْرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Sunnah melakukan tahniah (mengucapkan selamat) untuk hari Id dan sejenisnya seperti tahun baru dan bulan baru, menurut pendapat yang mu’tamad/resmi.”
Al-Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (w. 1251 H) mengatakan dalam “Bughyatul Mustarsyidin”,
التَّهْنِئَةُ بِالْعِيدِ سُنَّةٌ … زَادَ ش ق : وَكَذَا بِالْعَامِ والشُّهُورِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Ucapan selamat untuk hari Id adalah sunnah. Al-Imam Asy-Syarqawi (w. 1227 H) menambahkan: Dan begitu juga pada tahun dan bulan baru (hijriah), menurut pendapat mu’tamad.”


