Penjelasan Ulama’

Anas ibn Malik mengatakan, “Wahai Nabi Allah SWT, berilah aku syafaat di hari kiamat. “InsyaAllah aku akan melakukannya,” jawab Nabi. (HR Turmudzi) dalam Al Sunan dan mengkategorikannya sebagai hadits hasan dalam Babu Maa Jaa’a fi Shifati al-Shiraathi.

Demikian pula Sahabat lain selain Anas, mereka memohon syafaat kepada Nabi SAW.

Sawad ibn Qaarib mengucapkan syair di hadapan Nabi SAW :

Aku bersaksi, sungguh tiada Tuhan selain Allah SWT

Dan engkau dapat dipercaya atas semua hal ghaib

Engkau rasul paling dekat untuk dijadikan wasilah

kepada Allah SWT, wahai putra orang-orang mulia nan baik

sampai tiba pada :

Jadilah engkau pemberi syafaat pada hari di mana

pemberi syafaat tidak mencukupi Sawad ibn Qaarib.

Hadits di atas ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Dalaail al-Nubuwwah dan Ibnu ‘Abdil Baarr dalam al-Istii’aab. Dalam Fathul Baari syarh Shahih al-Bukhari vol. VII hlm. 180 pada Baabu Islaami ‘Umar RA, Ibnu Hajar juga menyebutkannya. Rasulullah menetapkan perkataan Sawad dan tidak mengingkari permintaan syafaat dari dirinya.

Mazin ibn al-‘Adlub juga memohon syafaat kepada Rasulullah ketika datang untuk memeluk Islam dan mengucapkan :

Kepadamu, wahai Rasulullah, untaku lari

Melintasi padang sahara dari Oman hingga ‘Arj

Agar engkau memberiku syafa’at, wahai sebaik-baik orang yang menginjak kerikil

Hingga akhirnya Tuhan mengampuniku dan aku pergi membawa kemenangan.

 (HR. Abu Nu’aim dalam Dalaailu Al Nubuwwah).

‘Ukasyah ibn Mihshan juga meminta syafa’at kepada Rasulullah ketika beliau menyebutkan ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa proses hisab. “Doakan aku agar termasuk salah satu dari mereka,” pinta ‘Ukasyah. “Engkau termasuk mereka,” jawab beliau spontan.

Sudah jelas bahwa siapapun tidak akan meraih prestasi masuk surga tanpa proses hisab kecuali setelah mendapat syafaat agung beliau untuk mereka yang tinggal di padang Mahsyar, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits mutawatir. Permintaan ‘Ukasyah ini mengandung pengertian memohon syafa’at.

BACA JUGA :  Kajian Tafsir Surat Al-Ahqaf Ayat 28-32

Kisah Sahabat

Hadits-hadits yang satu tema dengan hadits ‘Ukasyah jumlahnya banyak dalam kitab-kitab hadits. Di mana seluruhnya menunjukkan bolehnya memohon syafa’at kepada Nabi SAW di dunia. Sebagian orang ada yang memohon dengan menunjukkan dirinya dengan mengatakan, “Berilah aku syafa’at”, ada yang memohon masuk surga, meminta rombongan pertama yang masuk surga, meminta termasuk golongan mereka yang bisa mendatangi telaga Nabi, memohon menemani beliau di surga sebagaimana terjadi pada Rabi’ah al-Aslami saat mengatakan, “Saya mohon kepadamu untuk menemanimu di surga.”

Nabi lalu menunjukkan jalan untuk menempuhnya. “Bantulah dirimu sendiri dengan memperbanyak shalat,” saran beliau.” Beliau tidak mengatakan kepada Rabi’ah dan yang lain dari orang-orang meminta masuk surga, meminta bersama beliau, atau berharap agar termasuk penghuni surga, termasuk mereka yang mendatangi telaga, atau termasuk yang mendapatkan ampunan, “Tindakan ini (memohon hal-hal di atas kepada beliau) haram, permohonan tidak bisa diajukan sekarang, waktu memohon syafaat belum tiba, tunggulah sampai datang izin Allah SWT untuk memberi syafaat, atau masuk surga,  atau minum dari telaga. Padahal semua permohonan tersebut tidak tidak akan terjadi kecuali pasca syafaat agung.

1
2
3
Artikulli paraprakRukyatul Hilal 1 Muharram 1446 H
Artikulli tjetërMENYAMBUT TAHUN BARU ISLAM 1446 H

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini